Donald Trump Janji Segera Menangi Perang dengan Iran

Donald Trump berjanji AS segera memenangi perang dengan Iran dan mengatakan telah berbicara dengan mediator untuk mendesak Teheran mengakhiri konflik.
Trump menyebut kemenangan AS akan membuka penuh Selat Hormuz, yang kini dikendalikan IRGC, sehingga pengiriman minyak lebih aman dan harga bensin dunia turun.
Iran menyatakan siap melanjutkan perang maupun bernegosiasi, setelah Trump menolak proposal pembukaan Selat Hormuz yang disertai tuntutan pencabutan blokade dan sanksi.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berjanji akan segera memenangi perang dengan Iran. Trump mengatakan, dirinya juga sudah berbicara dengan mediator pada Senin (28/9/2026) untuk mendesak Teheran agar mau mengakhiri perang dengan Washington.
"Kita akan menang. Sejauh yang saya ketahui, hasilnya akan seperti ini atau sebaliknya. Ini akan berlangsung cukup cepat," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Trump sebut harga bensin akan turun usai AS menangi perang Iran

ilustrasi harga bensin (unsplash.com/Raman Shaunia) Trump menambahkan, usai AS memenangi perang melawan Iran, harga bensin dunia akan langsung turun. Sebab, Selat Hormuz akan dibuka secara penuh sehingga kapal-kapal tanker bisa mengirim pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global dengan bebas dan aman.
Selat Hormuz sendiri saat ini masih dikuasai oleh angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Oleh karena itu, semua kapal yang ingin berlayar di sana diwajibkan untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan IRGC. Jika melanggar, maka IRGC akan memblokade atau menyerang kapal tersebut.
2. Iran siap lanjut perang dengan AS

potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi (commons.wikimedia.org/KHAMENEI.ir) Di sisi lain, Pemerintah Iran justru mengatakan pihaknya siap melanjutkan perang melawan AS. Sebab, Iran mengatakan tidak akan menyerah terhadap tekanan apa pun yang diberikan AS. Kendati demikian, Teheran juga terbuka jika Washington ingin kembali ke meja perundingan untuk membicarakan perdamaian.
“Jika Anda bertanya kepada kami, tidak ada alasan mengapa kami harus kembali ke diplomasi. Namun, saya masih mencoba diplomasi karena saya pikir kita tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian. Kami siap bernegosiasi sebagaimana kami siap menghadapi tantangan apa pun. Kami teguh dalam menghadapi agresi apa pun terhadap kami. Bahkan, jika itu berujung pada perang kiamat,” kata Menteri Luar Negeri Iran dilansir The Independent.
3. Trump menolak proposal terbaru dari Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Official White House Photo) Sebelumnya, Iran juga sudah mengajukan proposal terbaru ke AS. Dalam proposal tersebut, Iran bersedia membuka Selat Hormuz. Namun, sebagai gantinya, Washington harus mencabut blokade semua pelabuhan milik mereka, menghapus sanksi atas penjualan minyak, melepaskan aset mereka yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS (Rp214 triliun), dan mematuhi gencatan senjata di Lebanon dan Yaman.
Sayangnya, proposal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Trump. Sebab, sama seperti alasan sebelumnya-sebelumnya, Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu menganggap proposal terbaru dari Iran tidak menguntungkan bagi AS.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















