Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Eks Gubernur Jepang Diduga Lecehkan Staf Perempuan via Pesan Teks

Bendera Jepang (unsplash.com/Alexander Grigoryev)
Bendera Jepang (unsplash.com/Alexander Grigoryev)
Intinya sih...
  • Investigasi ungkap Tatsuji Sugimoto lakukan pelecehan selama dua dekade.
  • Pesan tersebut menyebabkan rasa trauma pada korban.
  • Laporan investigasi juga mengonfirmasi bahwa Tatsuji Sugimoto melakukan pelecehan fisik terhadap beberapa staf perempuan, termasuk menyentuh tubuh mereka tanpa izin.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Gubernur Prefektur Fukui, Jepang, Tatsuji Sugimoto, diduga mengirim sekitar 1.000 pesan teks bernuansa pelecehan seksual kepada stafnya, menurut laporan hasil investigasi tim pengacara yang dirilis pada Rabu (7/1/2026). Sugimoto telah mengundurkan diri dari jabatannya pada Desember 2025, setelah tuduhan tersebut mencuat ke publik.

Laporan investigasi itu didasarkan pada survei terhadap sekitar 6 ribu pegawai di pemerintahan prefektur Fukui, yang mengonfirmasi adanya perilaku tidak pantas oleh Sugimoto selama lebih dari dua dekade masa kerjanya di pemerintahan. Kasus ini menimbulkan perhatian publik luas terhadap budaya kerja dan mekanisme perlindungan pegawai di lingkungan birokrasi Jepang.

1. Investigasi ungkap Tatsuji Sugimoto lakukan pelecehan selama dua dekade

Tim pengacara yang ditunjuk oleh Pemerintah Prefektur Fukui menemukan bahwa mantan gubernur Tatsuji Sugimoto mengirim pesan melalui aplikasi Line dan email pribadinya kepada sejumlah staf perempuan. Dalam pesan-pesan itu, Sugimoto diduga meminta hubungan seksual serta memberikan komentar tidak pantas tentang penampilan fisik para staf. Investigasi mencatat sekitar 1.000 pesan tersebut menyebabkan rasa trauma dan viktimisasi yang mendalam pada korban.

Salah satu pengacara penyelidik, Kenji Kawai, menyatakan bahwa tindakan pelecehan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun, bahkan sebelum Sugimoto terpilih sebagai gubernur pada 2019. Laporan investigasi juga menegaskan bahwa rasa viktimisasi yang dialami para korban sangat intens dan mendalam.

Dalam sidang dengar pendapat, Sugimoto mengakui telah mengirim pesan-pesan tersebut dengan alasan merasakan “kasih sayang” terhadap penerimanya. Ia juga mengaku bahwa sebagian pesan dikirim dalam keadaan mabuk dan bertindak ceroboh.

2. Pelecehan fisik Tatsuji Sugimoto terhadap staf perempuan

Laporan investigasi juga mengonfirmasi bahwa Tatsuji Sugimoto melakukan pelecehan fisik terhadap beberapa staf perempuan, termasuk menyentuh tubuh mereka tanpa izin. Ia dilaporkan memasukkan tangannya ke bawah rok seorang staf dan menyentuh bagian tubuhnya, serta duduk berdekatan di sofa sambil menyentuh paha staf lain dalam sebuah acara sosial. Insiden tersebut terjadi di luar konteks pesan teks yang sebelumnya diungkap.

Sugimoto membantah tuduhan terkait sentuhan fisik dengan alasan tidak mengingat kejadian tersebut, meskipun ia menyatakan penyesalan kepada para korban. Laporan menilai perilakunya tergolong serius dan kemungkinan melanggar undang-undang anti-stalking serta tindakan cabul tanpa persetujuan.

Penyelidikan dilakukan melalui wawancara dengan 14 responden dan pengumpulan bukti dari empat orang.

3. Kasus pelecehan terungkap setelah laporan korban dan investigasi independen

Kasus pelecehan yang melibatkan mantan Gubernur Fukui, Tatsuji Sugimoto, terungkap setelah seorang staf perempuan melapor pada April 2025. Laporan tersebut memicu dilakukannya survei terhadap sekitar 6.000 pegawai pada September 2025. Sugimoto mengundurkan diri pada Desember 2025 setelah mengakui telah mengirim pesan tidak pantas kepada staf.

Dalam tanggapannya terhadap hasil investigasi, Sugimoto menyatakan menghormati kesimpulan laporan dan menyampaikan permintaan maaf tulus kepada para korban, namun menolak menggelar konferensi pers lanjutan untuk menjaga privasi mereka.

“Saya dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pengunduran diri saya di tengah masa jabatan,” ujar Sugimoto, dilansir The Japan Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Ukraina Desak NATO Bertindak soal Rudal Rusia di Perbatasan

09 Jan 2026, 21:05 WIBNews