Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rudal Ukraina Hantam Infrastruktur Energi Rusia, Listrik Padam

Rudal Ukraina Hantam Infrastruktur Energi Rusia, Listrik Padam
ilustrasi rudal (unsplash.com/Akshat Jhingran)
Intinya Sih
  • Pasukan Ukraina melancarkan serangan rudal ke infrastruktur energi di Belgorod, Rusia, menyebabkan listrik padam dan gangguan pasokan air serta pemanas di wilayah tersebut.
  • Serangan ke Belgorod ini merupakan yang kedua dalam lima hari terakhir, sementara sebelumnya Rusia juga menyerang Kharkiv dan Zaporizhzhia menggunakan drone serta rudal yang melukai puluhan orang.
  • Perang Rusia-Ukraina kini memasuki tahun keempat tanpa tanda-tanda berakhir, meski berbagai upaya diplomasi dan pertemuan gencatan senjata belum membuahkan hasil nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasukan Ukraina dilaporkan melancarkan serangan rudal ke infrastruktur energi yang ada di Kota Belgorod, Negara Bagian Belgorod, Rusia. Serangan tersebut terjadi pada Jumat (27/2/2026) pagi waktu setempat.

Menurut Gubernur Belgorod, Vyacheslav Gladkov, serangan ini menyebabkan listrik padam di wilayahnya. Sebab, infrastruktur energi yang berada di Belgorod mengalami kerusakan yang cukup parah imbas serangan Ukraina.

"Kerusakan serius telah terjadi pada infrastruktur energi. Akibatnya, terjadi gangguan pada pasokan listrik, air, dan pemanas," tulis Gladkov di Telegram, seperti dilansir The Strait Times.

1. Ukraina sudah menyerang infrastruktur energi di Belgorod 2 kali dalam 5 hari terakhir

Pasokan listrik.
ilustrasi pasokan listrik (pexels.com/Pixabay)

Belgorod sendiri merupakan negara bagian yang berbatasan langsung dengan Ukraina. Wilayah ini memang sering menjadi target utama serangan yang dilalukan oleh pasukan Ukraina. 

Menurut Gladkov, serangan pada Jumat merupakan serangan ke-2 Ukraina ke Belgorod dalam 5 hari terakhir. Sebelumnya, Ukraina juga telah menyerang Belgorod pada Senin (23/2/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut juga merusak infrastruktur energi yang ada di sana.

"Akibatnya, terjadi kerusakan serius pada infrastruktur energi. Di rumah-rumah penduduk, terjadi gangguan pasokan listrik, air, dan pemanas," kata Gladkov menjelaskan serangan Ukraina pada Senin lalu.

2. Rusia sebelumnya juga menyerang Ukraina menggunakan drone dan rudal

Apartemen di Ukraina hancur.
Sebuah apartemen di Ukraina hancur karena diserang pasukan Rusia (pexels.com/Mykhailo Volkov)

Sebelum ini, Rusia sudah lebih dulu menyerang Ukraina pada Rabu (25/2/2026) malam waktu setempat. Saat itu, Rusia menyerang wilayah Kharkiv di Ukraina timur dan di Zaporizhzhia di Ukraina selatan menggunakan drone dan rudal.

Serangan tersebut melukai total 24 orang. Sebanyak 14 korban luka berasal dari Kharkiv, sedangkan 10 korban luka lainnya berasal dari Zaporizhzhia. Sebelumnya, korban luka dilaporkan berjumlah 21 orang.

Menurut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, serangan tersebut dilakukan menggunakan 420 drone dan 39 rudal. "Semalam, Rusia sekali lagi melancarkan perang terhadap infrastruktur penting dan bangunan tempat tinggal biasa," kata Zelenskyy di Telegram.

3. Perang Rusia-Ukraina sudah memasuki tahun ke-4

Orang-orang sedang berdemo.
Orang-orang sedang berdemo untuk meminta Rusia berhenti menyerang Ukraina. (pexels.com/Mathias Reding)

Pada Selasa (24/2/2026) lalu, perang Rusia-Ukraina sudah genap berusia 4 tahun. Namun, perang antara kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda usai. Sebab, Rusia-Ukraina masih saling serang hingga saat ini.

Ukraina sebetulnya sudah melakukan upaya diplomasi untuk meraih kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia. Upaya diplomasi terakhir yang dilakukan Ukraina terjadi dalam pertemuan trilateral di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026) lalu. 

Dalam pertemuan tersebut, Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat sebagai mediator berdiskusi soal gencatan senjata. Namun, usai pertemuan tersebut digelar, kesepakatan belum juga diraih.

Sebelumnya, proses negosiasi juga sudah dilakukan Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada akhir Januari dan awal Februari 2026 lalu. Namun, upaya tersebut juga gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia. Ini membuat konflik antara Rusia dan Ukraina jadi makin alot.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More