Jepang Murka Usai China Perketat Ekspor Barang Strategis

- Jepang protes resmi ke Beijing terkait pembatasan ekspor barang strategis
- Kekhawatiran Jepang terfokus pada pembatasan mineral tanah jarang oleh China
- Ekonom memperingatkan dampak berat bagi ekonomi Jepang jika larangan ekspor diberlakukan
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang mendesak China untuk segera mencabut kebijakan pembatasan ekspor terhadap produk-produk strategis yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer. Langkah Beijing tersebut dinilai berisiko mengganggu rantai pasok global dan memperburuk ketegangan kawasan Asia Timur.
Desakan Tokyo muncul setelah Kementerian Perdagangan China mengumumkan penguatan kontrol ekspor atas barang penggunaan ganda atau dual-use ke Jepang, dengan kebijakan yang langsung berlaku. Meski tidak merinci jenis barang yang dibatasi, keputusan itu memicu kekhawatiran luas di Jepang.
Kekhawatiran terbesar tertuju pada kemungkinan China membatasi ekspor mineral tanah jarang, komoditas vital bagi industri teknologi, otomotif, hingga pertahanan. Jepang sangat bergantung pada pasokan rare earth dari China untuk menjaga keberlangsungan industrinya.
Kebijakan ekspor ini juga dipandang sebagai respons politik Beijing atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang sebelumnya menyebut Jepang bisa merespons secara militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari kedaulatannya.
1. Jepang layangkan protes resmi ke Beijing

Sekretaris Jenderal Biro Urusan Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri Jepang, Masaaki Kanai menyampaikan, protes keras kepada Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar China di Tokyo, Shi Yong.
“Kebijakan ini menyimpang secara signifikan dari praktik internasional, sama sekali tidak dapat diterima, dan sangat disesalkan,” kata Kanai dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Jepang, dilansir dari Channel News Asia, Rabu (7/1/2026).
Kanai menegaskan, Jepang mendesak China untuk segera mencabut kebijakan tersebut dan memperingatkan langkah sepihak semacam itu berisiko merusak kepercayaan antarnegara serta stabilitas ekonomi kawasan.
2. Kekhawatiran pembatasan mineral tanah jarang

Meski pernyataan Beijing tidak menyebutkan komoditas tertentu, Jepang khawatir China akan membatasi ekspor mineral tanah jarang, yang masuk dalam kategori barang penggunaan ganda. Konsultan risiko global Teneo menilai bahasa yang digunakan China bersifat ambigu dan kemungkinan disengaja untuk memberi tekanan politik kepada Tokyo.
“Pernyataan singkat Kementerian Perdagangan China sangat kabur, dan dampak kebijakan ini bisa berkisar dari simbolis hingga sangat mengganggu rantai pasok,” tulis Teneo dalam analisisnya.
Menurut Teneo, kebijakan tersebut bertujuan memberi tekanan langsung kepada Jepang agar mengambil sikap yang lebih lunak terhadap Beijing.
“Pengumuman ini menciptakan kekhawatiran instan di Jepang terkait pasokan input industri penting, dan memberi tekanan agar Tokyo menawarkan konsesi politik,” lanjut laporan itu.
3. Dampak berat bagi ekonomi Jepang
Para ekonom memperingatkan, pembatasan rare earth akan berdampak besar terhadap ekonomi Jepang, mengingat China merupakan pemasok utama mineral strategis tersebut.
Ekonom Eksekutif Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi mengatakan, dampaknya bisa sangat serius jika larangan diberlakukan.
“Dampaknya terhadap ekonomi Jepang akan sangat parah,” kata Kiuchi.
Ia memperkirakan larangan ekspor selama tiga bulan saja dapat merugikan Jepang hingga 660 miliar yen atau sekitar 4,2 miliar dolar AS, serta memangkas produk domestik bruto (PDB) Jepang sebesar 0,11 persen.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana ketegangan geopolitik di Asia Timur semakin berdampak langsung pada ekonomi global dan keamanan rantai pasok strategis.



















