Enam Orang Tewas akibat Pria Bakar Bus di Swiss

- Seorang pria berusia 60 tahun membakar bus umum di Kerzers, Swiss, menyebabkan kobaran api besar yang menewaskan enam orang dan melukai lima penumpang lainnya.
- Polisi mengungkap pelaku memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan tidak terkait terorisme; ia termasuk di antara korban tewas dalam insiden tersebut.
- Pemerintah dan warga Swiss menyampaikan duka mendalam, sementara PostBus serta otoritas setempat berjanji meningkatkan standar keamanan dan memberi dukungan psikologis bagi korban.
Jakarta, IDN Times - Sebuah peristiwa mencekam terjadi pada Selasa (10/3/2026), saat seorang pria berusia sekitar 60 tahun nekat membakar sebuah bus umum di kawasan Kerzers, Swiss.
Pria tersebut menaiki bus dengan membawa beberapa tas berisi cairan yang mudah terbakar, lalu menyulut api hingga menghanguskan seluruh badan kendaraan hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
Kobaran api yang menyebar sangat cepat ini memicu kepanikan luar biasa di antara para penumpang dan warga yang berada di lokasi kejadian. Suhu panas yang sangat ekstrem bahkan membuat ban kendaraan meledak, sementara petugas forensik memastikan bahwa kebakaran hebat ini murni disebabkan oleh aksi pembakaran dan bukan karena gangguan teknis pada mesin bus.
1. Pria membakar bus dan menghanguskan kendaraan dalam sekejap
Seorang pria berusia sekitar 60 tahun membakar sebuah bus layanan PostBus di kota Düdingen. Pria tersebut diketahui menaiki bus pada pukul 17.45 waktu setempat dengan membawa beberapa tas yang berisi cairan mudah terbakar. Saat bus melintasi kawasan Kerzers sekitar pukul 18.25, ia menyulut api hingga menyebabkan kebakaran besar. Dalam waktu kurang dari satu menit, api menyebar dengan sangat cepat dan memicu kepanikan luar biasa di antara para penumpang. Panas yang sangat tinggi bahkan menyebabkan ban bus meledak hingga serpihannya terlempar sejauh 200 meter.
Para saksi mata di lokasi kejadian melihat bus tersebut berubah menjadi bola api raksasa dalam waktu singkat. Warga di sekitar lokasi sempat berusaha memberikan pertolongan pertama menggunakan alat pemadam api ringan, namun mereka tidak bisa mendekat karena suhu panas yang terlalu menyengat.
"Semuanya terjadi begitu cepat, dalam sekejap semuanya dilalap api," ujar salah satu saksi.
Setelah api berhasil dipadamkan, bus tersebut hanya menyisakan kerangka logam yang hangus sebelum akhirnya dievakuasi oleh petugas pada tengah malam untuk membuka kembali akses jalan.
Berdasarkan hasil penyelidikan teknis dari dewan negara Fribourg, kecepatan api yang luar biasa ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia tertentu. Para ahli forensik juga memastikan bahwa bus tersebut menggunakan mesin berbahan bakar bensin atau solar biasa, bukan kendaraan listrik. Penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mendalami motif di balik aksi pembakaran yang menghanguskan seluruh armada bus tersebut.
2. Polisi temukan motif gangguan jiwa di balik aksi bakar bus
Polisi akhirnya berhasil mengungkap identitas pria yang diduga membakar sebuah bus di Swiss. Pelaku diketahui sebagai warga negara Swiss asal kanton Bern yang sempat dilaporkan hilang oleh keluarganya. Pria tersebut diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan selama ini hidup dalam kondisi yang serba sulit. Jaksa Penuntut Umum, Raphael Bourquin, menyatakan bahwa meski aksi ini sangat mematikan, tidak ada bukti yang mengarah pada motif terorisme.
"Tampaknya orang ini termasuk di antara korban yang meninggal dunia," ujar Bourquin, dilansir The Guardian.
Proses pengenalan enam jenazah yang ditemukan di dalam bus diperkirakan akan memakan waktu hingga beberapa hari. Tim forensik harus melakukan tes DNA karena kondisi luka bakar para korban sangat parah. Selain korban tewas, lima orang penumpang lainnya mengalami luka-luka dan sebagian masih dirawat intensif di rumah sakit. Polisi juga telah menggeledah rumah pelaku untuk mencari dokumen atau catatan yang mungkin menjelaskan alasan di balik aksi nekatnya. Saat ini, jalur komunikasi khusus telah dibuka bagi keluarga korban yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai anggota keluarga mereka.
Komandan polisi setempat, Philippe Allain, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan mengenai masalah kejiwaan yang dialami pelaku di masa lalu. Kejadian tragis ini diduga kuat merupakan puncak dari krisis pribadi yang tidak mendapat penanganan dengan tepat. Untuk mendalami kasus ini, polisi sedang memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV serta memantau aktivitas media sosial milik pelaku. Meski terduga pelaku telah meninggal, penyelidikan kriminal tetap dijalankan dengan sangkaan pembunuhan dan pembakaran bus secara sengaja yang membahayakan nyawa orang banyak.
3. Duka mendalam warga Swiss atas tragedi kebakaran bus
Tragedi di Kerzers ini menjadi pukulan berat bagi warga Swiss, apalagi kejadian ini hanya berselang dua bulan setelah kebakaran besar di sebuah bar ski yang menewaskan puluhan orang. Para korban dalam musibah bus ini berusia antara 17 hingga 65 tahun, mulai dari pelajar hingga pekerja yang sedang dalam perjalanan pulang.
Presiden Swiss, Guy Parmelin, secara resmi menyampaikan rasa duka yang sangat mendalam atas peristiwa memilukan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa doa serta dukungannya selalu menyertai keluarga korban dan petugas penyelamat yang telah bekerja keras di lokasi.
"Hal ini mengejutkan dan menyedihkan bagi saya karena sekali lagi orang-orang kehilangan nyawa dalam kebakaran serius di Swiss," ujar Presiden Parmelin, dilansir Associated Press.
Pihak pengelola bus, PostBus, menyatakan sangat terkejut dan berkomitmen untuk bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang. Mereka akan mengevaluasi kembali standar keamanan pada armada bus kuning yang selama ini menjadi transportasi utama di daerah pedesaan Swiss. Direktur Utama PostBus, Stefan Regli, menyebut insiden ini sebagai tragedi yang mengerikan dan menyampaikan rasa simpati kepada semua orang yang terdampak. Selain bantuan medis bagi korban luka, pemerintah daerah juga menyediakan layanan bantuan psikologis bagi para korban selamat dan saksi mata guna membantu memulihkan trauma mereka.
Sebagai bentuk rasa peduli, masyarakat setempat membangun tempat peringatan darurat di dekat lokasi kebakaran dengan meletakkan bunga dan lilin. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terakhir bagi para korban, sementara gereja-gereja di wilayah tersebut mengadakan ibadah doa bersama. Mereka mendoakan agar korban yang terluka segera sembuh dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.


















