Filipina Terima Hibah 4 Drone Laut Triton Senilai Rp233,23 M dari AS

- Amerika Serikat menyerahkan empat drone laut Ocean Aero Triton senilai Rp233,23 miliar kepada militer Filipina untuk memperkuat pengawasan maritim di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
- Drone Triton mampu beroperasi di permukaan dan bawah laut dengan energi surya serta angin, memungkinkan misi pemantauan hingga 30 hari tanpa henti dengan biaya operasional rendah.
- Hibah ini menandai langkah modernisasi pertahanan maritim Filipina di tengah memanasnya hubungan diplomatik dengan China terkait sengketa wilayah di Scarborough Shoal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menyerahkan empat unit drone laut Ocean Aero Triton kepada militer Filipina, pada Senin (22/6/2026). Hibah ini bertujuan memperkuat pengawasan wilayah perairan Filipina di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Kedutaan Besar AS di Manila mengonfirmasi penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut pada Selasa (23/6/2026). Pengadaan drone pengawas tanpa awak ini sepenuhnya dibiayai melalui program bantuan pertahanan luar negeri AS dengan nilai mencapai 13 juta dolar AS (Rp233,23 miliar).
1. Spesifikasi dan kemampuan operasional drone Triton

Sistem Ocean Aero Triton adalah kendaraan tanpa awak pertama di dunia yang mampu beroperasi di permukaan laut sekaligus menyelam. Kemampuan menyelam ini memungkinkan drone menghindari ancaman fisik serta melindungi jalannya misi intelijen secara mandiri.
Alat pengintai canggih ini mengandalkan energi ramah lingkungan, yaitu panel surya dan tenaga angin, untuk berlayar sendiri. Berkat sumber energi tersebut, setiap unit drone mampu menjalankan misi pemantauan tanpa henti hingga maksimal 30 hari penuh.
Saat bertugas, Triton sulit dideteksi oleh armada asing karena memiliki jejak radar yang sangat rendah. Meski dilengkapi fitur siluman, kendaraan ini tetap mampu membawa berbagai peralatan militer canggih seperti sonar pemindai samping dan sensor termal.
Teknologi ini dinilai sangat efisien bagi pertahanan maritim karena biaya operasionalnya rendah dan tidak memerlukan perawatan logistik yang rumit. Perangkat ini juga dilengkapi sistem komunikasi terpadu yang tangguh untuk memastikan pengiriman data secara langsung, baik di atas maupun di bawah permukaan laut.
2. Modernisasi maritim Filipina

Kehadiran empat unit Triton ini menjadi tonggak penting dalam upaya modernisasi Angkatan Laut Filipina. Alutsista baru tersebut ditempatkan langsung di bawah pengawasan Unit Kapal Permukaan Nirawak Satu di Subic Bay.
Sebelum menerima Triton, Filipina telah mengoperasikan beberapa drone kapal tipe Mantis dan Devil Ray buatan AS. Seluruh sistem tanpa awak ini akan diintegrasikan untuk memperluas jangkauan taktis patroli di perairan kepulauan Filipina yang luas.
Untuk memperkuat kemampuan pertahanan, militer kedua negara juga rutin menggelar latihan tempur gabungan. Latihan ini melibatkan aset udara dan penjaga pantai di wilayah perairan sengketa.
3. Ketegangan diplomatik Filipina-China di Scarborough Shoal

Langkah penguatan maritim ini bertepatan dengan meningkatnya gesekan diplomatik antara Manila dan Beijing. China baru saja menjatuhkan sanksi larangan berkunjung kepada Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., beserta keluarganya. Sanksi ini buntut dari pernyataan Teodoro yang dianggap merusak hubungan kedua negara.
Hubungan kedua negara juga memanas setelah China menempatkan struktur terapung secara ilegal di Scarborough Shoal. Struktur itu akhirnya dibongkar setelah Filipina melayangkan nota protes. Meski demikian, aktivitas kapal riset China di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina masih terus dipantau ketat.
Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro Jr. menegaskan bahwa tekanan politik dari pihak luar tidak akan menyurutkan langkah militer Filipina dalam menjaga wilayahnya.
"Saya akan tetap menjalankan tugas dan membela bangsa kita dari segala bentuk pelanggaran yang mereka lakukan, baik di daratan maupun di lautan kita," ujar Teodoro, dilansir Arab News.
















