- Anisa Muyassaroh meninggal pada Kamis, 18 Juni 2026 dari Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.
- Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada Rabu, 17 Juni 2026 dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan.
- Novia Rahmadhani Sihotang meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026 dari Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 dari Satuan Pendidikan Yon Parako 465.
- Nola Dya Sari meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 malam dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara, Kalimantan.
5 Fakta Calon Manajer Kopdes yang Meninggal saat Latsar Militer

- Lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer yang menjadi bagian seleksi wajib sejak 16 Juni hingga 16 Juli 2026.
- Penyebab kematian para peserta berbeda, mulai dari heat stroke, henti jantung, hingga penyakit bawaan; seluruh korban sempat mendapat penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal.
- YLBHI mengkritik keterlibatan TNI dalam pelatihan calon manajer, sementara pemerintah memastikan evaluasi dilakukan namun kegiatan Latsarmil tetap berlanjut dengan penyempurnaan prosedur.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil). Sebelumnya, latsarmil itu sudah berlangsung sejak 16 Juni 2026 dan menjadi tahapan seleksi yang wajib diikuti. Kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung selama 30 hari sampai 16 Juli mendatang.
Para calon manajer telah mengikuti tes tertulis mental ideologi dan tes kesehatan sebelum mengikuti latsarmil. Apabila mereka lolos mengikuti seluruh seleksi, maka akan berstatus sebagai pegawai BP BUMN dengan kontrak dua tahun.
Namun, lima peserta latsarmil meninggal saat proses seleksi tersebut berlangsung. Berikut fakta-faktanya!
1. Seluruh korban meninggal di tempat dan waktu yang berbeda

Terdapat lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal saat mengikuti latsarmil. Mereka dilaporkan meninggal pada waktu dan tempat yang berbeda.
2. Penyebab kematian korban berbeda-beda

Dalam insiden ini, penyebab meninggalnya para peserta SPPI ini berbeda-beda. Berdasarkan pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, Anisa Muyassaroh meninggal karena heat stroke atau sengatan panas.
Sementara, Yonanda Muhammad Taufiq dinyatakan meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung. Rico juga menjelaskan, Anisa dan Yonanda sempat dibawa ke rumah sakit setelah diberikan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan.
Selain itu, Novia Rahmadhani Sihotang memiliki riwayat penyakit tuberkolosis. Novia disebut sudah mengalami gangguan kesehatan sejak Senin, 22 Juni 2026 dan mendapat penanganan medis sebelum dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Muhammad Rifki Renaldi mengalami keluhan sesak nafas pada Kamis, 25 Juni 2026. Meskipun kesehatannya sempat membaik hingga kembali mengikuti aktivitas. Namun sore harinya, kesehatan Rifki menurun dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Sementara, Kepala BPSDM Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan, Nola Dya Sari sempat mengeluhkan sesak napas dan badan yang terasa panas pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 18.45 WIB. Nola sempat dirujuk ke RS Singkawang sebelum pada 21.03 WIB dinyatakan meninggal dunia.
3. Korban Nola sempat ikuti kelas

Nola Dya Sari, peserta dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan, mengembuskan napas terakhir pada Jumat (26/6/2026) malam usai mengalami kondisi darurat kesehatan.
Kepala BPSDM Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan, sebelum kondisinya memburuk, Nola masih sempat mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
"Pada Jumat, 26 Juni 2026, almarhumah mengikuti kegiatan pembelajaran CMI dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa keluhan kesehatan. Sekitar pukul 18.45 WIB, almarhumah mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas. Tim kesehatan Saktik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang," kata Ketut dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).
Ketut menjelaskan, Nola tiba di IGD Rumah Sakit Singkawang sekitar pukul 19.20 WIB dan langsung menjalani pemeriksaan serta penanganan medis. Setelah kondisinya distabilisasi, dia dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sekitar pukul 20.20 WIB, Nola tiba di RSUD Abdul Aziz Singkawang. Dalam proses perawatan, dia mengalami henti jantung sehingga tim medis melakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi.
"Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan dan pada pukul 21.03 WIB almarhumah dinyatakan meninggal dunia. Sebelum mengikuti pendidikan, yang bersangkutan telah melalui tahapan seleksi kesehatan, seluruhnya dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku, dengan catatan kelebihan berat badan," kata Ketut.
4. Penyebab meninggalnya Novia karena TBC diralat

Ada perubahan penjelasan pemerintah mengenai penyebab kematian salah satu peserta, Novia Ramadani Sihotang.
Sebelumnya, Novia disebut mengidap Tuberkulosis (TBC). Kementerian Pertahanan menjelaskan bahwa penyebab kematian Novia adalah infeksi paru-paru oleh virus. Hal itu dijelaskan saat konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).
"Tetapi kalau TBC yang kami sempat diskusi dengan ini, itu bukan TBC tapi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus," ujar perwakilan Tim Kesehatan (Puskes TNI) Letkol CKM Dr. Ikhsan dalam konferensi pers tersebut.
Penjelasan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan jurnalis tentang mengapa peserta dengan dugaan TBC bisa lolos pemeriksaan kesehatan. Padahal penyakit tersebut umumnya dapat dideteksi melalui medical check-up (MCU). Letkol CKM Dr. Ikhsan menjelaskan seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan sesuai prosedur sebelum dinyatakan lolos mengikuti pelatihan.
"Memang dari hasil pemeriksaan awal atau recruitment, kami sudah melaksanakan sesuai SOP ya. Sesuai SOP pemeriksaannya itu dengan melakukan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik, rontgen, dan euh USG. Pada saat pemeriksaan rontgen itu tidak terdapat TBC," kata dia.
5. Peserta latsarmil lain diisolasi

Menyusul hal tersebut, para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dilakukan tracing massal terhadap peserta dan penyelenggara. Kementerian Pertahanan menjelaskan, penyelenggara telah melakukan pelacakan kontak, klasterisasi, hingga memisahkan atau mengisolasi sejumlah peserta yang diduga terpapar virus.
Namun, jenis virus dan jumlah peserta yang terdampak belum diungkap kepada publik.
Kepala BPSDM Kemhan, Mayjen Ketut GWP, menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan setelah insiden adalah melakukan tracing terhadap seluruh orang yang berada di lingkungan pelatihan.
"Dari satlat setempat yaitu dari Halim Perdanakusuma langsung melaksanakan tracing kepada seluruhnya, pada lingkungan, termasuk kepada penyelenggara sendiri. Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut," ujar dia dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).
Dia mengatakan, proses tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menindaklanjuti dugaan penyebaran penyakit di lingkungan pelatihan.
"Kementerian Kesehatan juga sudah turun langsung ya menindaklanjuti kemungkinan tadi berkaitan dengan tracing virus yang memang tidak terdeteksi pada seleksi sebelumnya," kata dia.
Dia mengatakan, hasil tracing membuat sejumlah peserta dipisahkan dari kelompok lain.
"Sampai saat ini ada pemisahan memang beberapa orang yang terindikasi ya kena virus itu, tetapi kondisinya masih dalam kondisi aman dan terkendali," ujar dia.
















