Politikus PDIP: Latihan Militer Calon Manajer Koperasi Desa Harus Dievaluasi

- TB Hasanuddin mendesak pemerintah menghentikan latihan dasar kemiliteran bagi calon manajer koperasi setelah lima peserta meninggal, dan meminta fokus pelatihan diarahkan pada kompetensi manajerial serta kewirausahaan.
- Kementerian Pertahanan menegaskan kegiatan fisik dalam program SPPI hanya berupa senam, jalan, dan PBB untuk membentuk disiplin, bukan latihan militer berat yang berisiko tinggi bagi peserta.
- Lima peserta Latsarmil dari berbagai satuan pendidikan dilaporkan meninggal dunia antara 17ā26 Juni 2026 akibat kondisi kesehatan berbeda seperti heat stroke dan henti jantung.
Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn), TB Hasanuddin, meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Politikus senior PDIP itu menilai, pelatihan manajemen koperasi harus tetap dilanjutkan, namun pendekatan militer yang telah menimbulkan korban jiwa perlu dihentikan. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul meninggalnya lima calon manajer KDKMP yang menjadi peserta Latsarmil.
1. Latsarmil tak sesuai tugas utama calon manajer calon manajer Koperasi Desa-Kampung Nelayan

TB Hasanuddin menilai, tugas utama calon manajer KDKMP adalah mengelola koperasi secara profesional, mengembangkan usaha, memperkuat tata kelola, dan memberdayakan ekonomi masyarakat. Karena itu, materi pelatihan seharusnya lebih fokus pada kompetensi manajerial, kepemimpinan, kewirausahaan, akuntansi, serta pengelolaan koperasi, bukan latihan fisik bergaya militer yang berisiko tinggi.
"Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun, latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan, dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka," tegas dia, Sabtu (27/6/2026).
Menurut TB Hasanuddin, tragedi yang telah menelan lima korban jiwa harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki desain pelatihan SPPI, sehingga tujuan membangun sumber daya manusia unggul dapat tercapai tanpa mengorbankan keselamatan peserta.
2. Kemhan klaim latihan manajer Kopdes-Kampung Nelayan sebatas senam-PBB

Sebelumnya, tewasnya lima calon manajer Koperasi Desa/Kampung Nelayan Merah Putih (KDKNMP) saat mengikuti latihan dasar militer menuai sorotan publik mengenai materi pelatihan. Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengklaim kegiatan fisik yang diberikan belum masuk kategori latihan berat. Kemhan menyebut mayoritas korban dilaporkan sempat mengeluhkan sesak napas sebelum meninggal dunia.
Kepala BPSDM Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menjelaskan fase awal pendidikan difokuskan pada pembentukan disiplin melalui program bela negara, bukan latihan militer dengan intensitas tinggi.
"Kegiatan-kegiatan fisik sesuai dengan yang sudah dilaksanakan itu adalah senam, kemudian jalan, PBB, dan PPM. Jadi belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).
Ketut menjelaskan materi tersebut menjadi tahapan awal sebelum peserta menerima pembelajaran manajerial dari Kementerian Koperasi maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.
"Proses ini dijalankan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut. Kemudian dihadapkan dengan kegiatan national building ini juga baru berlanjut ke manajerialnya secara pararel yaitu materi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diampu oleh Kementerian Koperasi. Kemudian manajerial koperasi nelayan merah putih yang diampu oleh Kementerian Kelautan," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Komcad Bacadnas Brigjen TNI Hengki Yuda Setiawan menjelaskan tujuan pelatihan bukan membentuk peserta menjadi prajurit, melainkan menanamkan disiplin, integritas, dan etos kerja.
"Jadi untuk porsi latihan dari saudara-saudara kita yang tergabung dalam SPPI ini, ini semuanya sudah terukur. Artinya terukur adalah awal kita memang ini bukan untuk menjadi militer, tetapi adik-adik itu disiapkan untuk memiliki disiplin, integritas, dan juga etos kerja," katanya.
Hengki mengklaim, beban latihan disesuaikan sejak awal, sehingga tidak mengedepankan aktivitas fisik yang berat. Dia juga mengatakan ada peserta penyandang disabilitas yang dinyatakan mampu mengikuti pelatihan.
"Dalam proses rekrutmen juga saudara-saudara kita yang disabilitas juga kita terima. Ada yang lulus, ada empat saudara-saudara kita yang disabilitas," imbuh dia.
3. Daftar nama lima korban meninggal

Berikut daftar lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal dunia, dalam latihan dasar militer di bawah bimbingan Kemhan:
1. Anisa Muyassaroh: Meninggal pada 18 Juni 2026 di satuan pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Anisa dinyatakan meninggal akibat heat stroke.
2. Yonanda Muhammad Taufiq: Meninggal pada 17 Juni 2026 di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatra Selatan. Yonanda meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.
3. Novia Rahmadhani Sihotang: Meninggal pada 23 Juni 2026 di Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Novia disebut memiliki riwayat penyakit tuberkolosis.
4. Muhamamd Rifki Renaldi Gunawan: Meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 di Satuan Pendidikan Yon Parako 465. Ia sempat mengeluhkan sesak nafas pada Rabu, 24 Juni 2026, dan dilarikan ke rumah sakit, karena kondisinya kritis pada Kamis, 25 Juni 2026.
5. Nola Dya Sari: Meninggal pada 26 Juni 2026 saat menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan. Pada hari yang sama, ia masih mengikuti kegiatan pembelajaran CJI dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa keluhan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB. Sebelum mengikuti pendidikan, hasil seleksi kesehatan menyatakan Nola memenuhi syarat, dengan catatan kelebihan berat badan.














