"Peserta juga akan mendapatkan pelatihan manajerial dan kompetensi bidang yang disusun bersama kementerian teknis terkait," ucapnya.
Duka Berulang, Total 3 Calon Manajer Kopdes Wafat saat Latsar Militer

- Tiga peserta program SPPI meninggal saat latihan dasar militer, termasuk Novia Rahmadhani yang wafat akibat penyakit Tuberkulosis meski sebelumnya dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan.
- Latihan dasar militer bagi calon manajer koperasi desa berlangsung satu bulan di 67 lokasi, berfokus pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat bela negara.
- Amnesty International Indonesia menilai pelatihan militer bagi calon manajer kopdes keliru dan mendesak penghentian program karena dianggap berisiko serta memperkuat dominasi militer di ruang sipil.
Jakarta, IDN Times - Belum selesai duka akibat meninggalnya calon pengelola Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih, kejadian serupa kembali berulang. Satu peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) atas nama Novia Rahmadhani Sihotang juga meninggal saat mengikuti latihan dasar militer. Konfirmasi penambahan peserta yang meninggal disampaikan oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan, Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait.
"Betul, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalya salah satu peserta program SPPI KNMP tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang. Dia mengikuti pendidikan di satuan pendidikan Pusbahasa Kodiklatau Jakarta," ujar Rico kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Rabu (24/6/2026).
Jenderal bintang satu itu menyebut Novia dinyatakan meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Maka, jumlah peserta yang meninggal bertambah menjadi tiga orang.
"Yang bersangkutan mengalami gangguan kesehatan sejak Senin, 22 Juni 2026 lalu segera mendapatkan penanganan oleh tim kesehatan. Seiring dengan perkembangan kondisinya, peserta kemudian dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan," tutur dia.
Dua peserta lain yang meninggal adalah Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait mengatakan Anisa meninggal pada Kamis, 18 Juni 2026. Ia disebut meninggal akibat heat stroke.
Sedangkan Yonanda meninggal pada Rabu, 17 Juni 2026. Ia meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung.
1. Novia Rahmadhani meninggal karena terkena penyakit TB

Rico mengatakan, berdasarkan pemeriksaan medis, Novia disebut memiliki penyakit Tuberkulosis (TB). Temuan itu membuat publik bertanya mengapa ia bisa dibolehkan mengikuti pendidikan latihan dasar militer. Tetapi, jenderal bintang satu itu menggarisbawahi, semua peserta telah melewati serangkaian tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Itu termasuk pemeriksaan kesehatan. Dia dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan," kata Rico.
Ia menambahkan, sejak muncul keluhan kesehatan, tim medis dari satuan terkait dan rumah sakit telah melakukan langkah-langkah penanganan sesuai prosedur yang berlaku. Rico menyebut, Kemhan kembali berduka cita atas meninggalnya peserta SPPI.
Ucapan duka cita, kata Rico, telah disampaikan kepada keluarga mendiang Novia. Ia memastikan Kemhan dan panitia seleksi nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta.
"Keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program," ujarnya.
2. Pendidikan latihan dasar militer diikuti selama satu bulan

Sebelumnya, Rico mengatakan, pelatihan dasar kemiliteran bagi calon manajer koperasi desa atau kelurahan merah putih dan kampung nelayan merah putih berlangsung selama satu bulan. Program itu sudah dimulai sejak Selasa, 16 Juni 2026 dan digelar di 67 satuan pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Program ini merupakan bagian dari upaya pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan, semangat bela negara dan etos kerja yang kuat bagi para calon pengelola (manajer)," ungkap Rico kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Kamis, 18 Juni 2026.
Dia itu menjelaskan, materi yang diberikan selama latsar militer fokus pada implementasi nilai-nilai bela negara, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama tim, dan pembentukan mental tangguh dengan prinsip tanggap, tanggon, dan trengginas.
Usai menuntaskan latihan dasar militer 30 hari, calon manajer masih akan mengikuti pelatihan manajerial selama 15 hari.
"Selama itu, mereka akan mempersiapkan tugasnya sebagai pengelola koperasi desa atau kelurahan merah putih maupun kampung nelayan merah putih," tutur dia.
3. Amnesty International Indonesia desak latihan militer bagi calon manajer kopdes dihapus

Sementara itu, Amnesty International Indonesia (AII) pelatihan militer bagi calon manajer KDKMP dan KNMP sudah keliru sejak awal. Pelatihan semacam itu, kata AII, perlu dihentikan.
"Justru yang diperlukan adalah pelatihan keterampilan manajemen usaha, dan komunikasi yang dialogis. Bukan pelatihan militer yang berbasis kekuatan fisik dan komunikasi monologis," ungkap Direktur Eksekutif AII, Usman Hamid dalam keterangan pada Rabu (24/6/2026).
"(Pelatihan militer ini) harus dihentikan," kata dia.
Usman menyayangkan ada warga yang meregang nyawa hanya karena mengikuti pelatihan program pemerintah yang bermasalah sejak awal. Tetapi, kebijakan Kemhan yang mengumumkan peristiwa ini satu pekan setelah kejadian, juga menjadi tanda tanya. Peristiwa itu disampaikan Kemhan lewat keterangan tertulis pada Selasa, 23 Juni 2026.
"Mengapa baru diungkap ke publik setelah beberapa hari dimakamkan?" tanya Usman.
Dalam pandangannya, meninggalnya dua peserta SPPI menjadi potret buruk akan bahaya meningkatnya militerisme bagi warga sipil. Dominasi militer di ruang sipil termasuk di pemerintahan tidak pernah jadi jalan keluar bagi perbaikan kinerja pemerintah.
"Orde baru memberikan pelajaran penting bahwa militerisme di ruang sipil berujung menguatnya praktik otoriter pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Ketika militerisme di ruang sipil menguat maka yang jadi korban adalah warga," tutur dia.


















