Gempa Hantam Jepang, Venezuela, dan AS Berdekatan, Ini Penjelasan Ahli

- Tiga gempa besar mengguncang Jepang, Venezuela, dan AS dalam satu hari, memicu perhatian global dan spekulasi soal kemungkinan keterkaitan antarperistiwa tersebut.
- Ahli seismologi Caltech menegaskan ketiga gempa terjadi di sistem patahan berbeda sehingga tidak saling memicu; kesamaan waktunya dianggap kebetulan semata.
- Dr. Lucy Jones mengingatkan bahaya pascagempa seperti runtuhnya bangunan, kebakaran akibat kerusakan gas atau listrik, serta pentingnya kesiapsiagaan menghadapi dampak lanjutan.
Jakarta, IDN Times - Tiga gempa bumi berkekuatan besar yang terjadi di Jepang, Venezuela, dan Amerika Serikat dalam satu hari memicu perhatian dunia. Rentetan gempa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
Jepang diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6,9. Pada hari yang sama, Venezuela mengalami dua gempa besar dengan magnitudo 7,5 dan 7,2. Sementara itu, California di Amerika Serikat juga mencatat gempa berkekuatan magnitudo 5,6.
Kemunculan sejumlah gempa besar dalam waktu yang hampir bersamaan membuat spekulasi berkembang di berbagai platform media sosial. Banyak yang mempertanyakan apakah aktivitas seismik tersebut merupakan bagian dari fenomena global yang saling berkaitan.
Namun para ahli menegaskan kesamaan waktu terjadinya gempa tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung di antara peristiwa-peristiwa tersebut.
1. Gempa terjadi di sistem patahan yang berbeda

Seismolog California Institute of Technology (Caltech), Dr. Lucy Jones, mengatakan gempa bumi di Jepang, Venezuela, dan Amerika Serikat terjadi pada sistem patahan serta batas lempeng tektonik yang berbeda.
Menurut Jones, kondisi tersebut membuat satu gempa tidak memicu terjadinya gempa lain yang berjarak ribuan kilometer.
“Gempa bumi terjadi pada sistem patahan dan batas lempeng yang terpisah, artinya satu gempa tidak memicu gempa lainnya,” kata Jones, dikutip dari CNN, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan gempa bumi besar yang terjadi di lokasi berjauhan umumnya tidak meningkatkan peluang terjadinya gempa besar lain di wilayah berbeda.
Karena itu, meski ketiga gempa terjadi pada hari yang sama, para ilmuwan tidak melihat adanya hubungan sebab-akibat di antara peristiwa tersebut.
2. Waktunya kebetulan dekat, lokasinya tidak

Jones menjelaskan kesamaan waktu kejadian lebih tepat dianggap sebagai kebetulan dibandingkan sebagai indikasi adanya fenomena geologi global yang saling terhubung.
Meski demikian, lokasi terjadinya gempa bukanlah sesuatu yang kebetulan. Seluruh wilayah yang terdampak berada di kawasan aktif secara tektonik.
“Waktu kejadiannya mungkin kebetulan, tetapi lokasinya tidak,” ujarnya.
Menurut dia, setiap gempa terjadi di sepanjang batas lempeng aktif yang selama puluhan hingga ratusan tahun terus mengalami akumulasi tekanan.
Ketika tekanan tersebut mencapai titik tertentu, energi akan dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Oleh karena itu, gempa besar di wilayah seperti Jepang, Venezuela, dan California merupakan bagian dari siklus geologi yang memang telah lama dipahami para ilmuwan.
Meski teknologi pemantauan gempa terus berkembang, hingga saat ini para ahli belum mampu memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.
3. Ancaman tidak berhenti usai guncangan

Selain menjelaskan soal keterkaitan antargempa, Jones juga mengingatkan bahaya terbesar sering kali muncul setelah guncangan utama berakhir.
Menurut dia, ancaman paling mendesak dari gempa bumi kuat adalah runtuhnya bangunan dan berbagai infrastruktur yang dapat menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan besar.
Di wilayah perkotaan yang padat penduduk, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya kebakaran akibat kerusakan jaringan gas maupun sistem kelistrikan. “Di daerah padat penduduk, guncangan kuat juga dapat memicu kebakaran dengan merusak saluran gas atau sistem kelistrikan,” kata Jones.
Ia menambahkan, situasi dapat menjadi lebih buruk apabila pipa air ikut rusak akibat gempa. Kondisi tersebut dapat menghambat proses pemadaman kebakaran karena pasokan air menjadi terbatas.
Menurut Jones, dampak berantai seperti kebakaran pascagempa kerap memperbesar kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana. Dalam sejumlah kasus, nilai kerusakan akibat kebakaran bahkan dapat menyamai atau melampaui kerugian yang disebabkan langsung oleh guncangan gempa itu sendiri.
Karena itu, selain memperkuat mitigasi terhadap risiko gempa, pemerintah dan masyarakat juga perlu memperhatikan kesiapsiagaan menghadapi berbagai dampak lanjutan yang dapat muncul setelah bencana terjadi.













