Gencatan Senjata Usai, Rusia Serang Ukraina dengan 659 Drone

- Rusia melancarkan serangan besar ke Ukraina usai gencatan senjata berakhir, menggunakan 659 drone dan 44 rudal yang menewaskan 16 orang serta melukai lebih dari seratus warga sipil.
- Ukraina telah tiga kali mencoba negosiasi damai dengan Rusia di Abu Dhabi dan Jenewa bersama AS sebagai mediator, namun seluruh upaya itu gagal mencapai kesepakatan perdamaian.
- Negosiasi damai tahap keempat tertunda karena AS fokus pada isu Iran dan menolak lokasi pertemuan di luar negeri, sementara Rusia menginginkan perundingan digelar di Turki atau Swiss.
Jakarta, IDN Times - Rusia dikabarkan kembali meluncurkan serangan besar-besaran ke Ukraina. Kali ini, mereka menyerang kota-kota besar di Ukraina, yakni Kyiv, Kharkiv, Odesa, Dnipro dan Zaporizhzhia menggunakan 659 drone dan 44 rudal balistik. Serangan itu terjadi selama sehari penuh pada Rabu (15/4/2026).
Menurut Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, serangan tersebut telah menewaskan setidaknya 16 orang, termasuk anak-anak. Sementara itu, 118 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Mereka kini sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
“Selama sehari semalam terakhir, Rusia melakukan serangan teroris besar-besaran terhadap Ukraina dengan hampir 700 drone serta puluhan rudal balistik dan rudal jelajah. Serangan itu terutama menargetkan warga sipil,” kata Sybiha pada Kamis (16/4/2026), seperti dilansir CNN.
1. Serangan dilakukan usai gencatan senjata berakhir

Serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina ini dilakukan setelah gencatan senjata resmi berakhir. Pada pekan lalu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menetapkan gencatan senjata dengan Ukraina untuk menghormati perayaan Paskah Orthodox. Namun, gencatan senjata tersebut hanya berlaku selama 32 jam.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan, serangan terbaru pada Rabu membuktikan bahwa Rusia memang tidak ingin berdamai dengan Ukraina. Sybiha juga mengatakan serangan tersebut sebagai kejahatan perang yang telah melanggar hukum internasional.
“Serangan semacam itu tidak bisa dinormalisasi. Ini adalah kejahatan perang yang harus dihentikan dan para pelakunya juga harus dimintai pertanggungjawaban,” ujar Sybiha.
2. Ukraina sudah berkali-kali melakukan negosiasi damai dengan Rusia

Untuk mengakhiri serangan Rusia, Ukraina sebetulnya sudah berkali-kali menggelar negosiasi damai bersama Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Namun, semua upaya itu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti.
Negosiasi pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 23–24 Januari dan pada 4–5 Februari 2026. Namun, kedua upaya tersebut gagal menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia.
Meski begitu, Ukraina tidak menyerah. Mereka lantas menggelar negosiasi tahap ketiga di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, negosiasi tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan perdamaian.
3. Negosiasi lanjutan tertunda karena AS

Sebetulnya, Ukraina dan Rusia sudah siap menggelar negosiasi damai tahap keempat. Namun, perundingan itu tertunda karena AS masih fokus pada upaya perdamaian dengan Iran. Negosiasi damai antara Ukraina dan Rusia tidak bisa berjalan tanpa melibatkan Negeri Paman Sam.
Negosiasi tahap keempat ini sebetulnya sudah hampir terlaksana pada Maret lalu. Sayangnya, upaya ini gagal karena AS tidak menyetujui tempat negosiasi tersebut.
AS ingin pertemuan dilakukan di wilayahnya. Sebab, saat ini, AS tidak mau menggelar pertemuan di luar negeri karena situasi konflik di Timur Tengah. Di sisi lain, Rusia tidak mau pertemuan digelar di AS. Mereka ingin pertemuan digelar di Turki atau Swiss. Namun, AS menolak mentah-mentah usulan tersebut.



















