AS Sebut Kuba Gagal Lindungi Warganya untuk Bantu Perang Rusia

- AS menuduh pemerintah Kuba merekrut ribuan warganya untuk memperkuat pasukan Rusia dalam perang di Ukraina, menyebut Havana gagal melindungi rakyatnya sendiri.
- Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan penolakannya terhadap tekanan AS dan menyatakan rakyat Kuba siap mempertahankan negaranya dari potensi serangan militer.
- Presiden AS Donald Trump berencana memusatkan perhatian ke Kuba setelah menangani konflik di Iran, termasuk menganalisis pengiriman minyak Rusia ke negara tersebut.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa pemerintah Kuba telah membantu Rusia. Menurutnya, Havana sengaja merekrut warganya untuk ikut perang di Ukraina.
“Terdapat indikator kuat yang menyebut otoritas Havana tahu betul dan memperbolehkan atau memfasilitasi seleksi tentara dari warga Kuba untuk memperkuat militer Rusia,” ungkapnya, dikutip dari The Moscow Times, Kamis (16/4/2026).
Selama ini, Rusia dan Kuba dikenal sebagai sekutu dekat. Moskow bahkan sudah mengirimkan minyak ke Kuba di tengah blokade AS untuk membantu mengatasi krisis energi.
1. Sebut terdapat 5 ribu warga Kuba di Ukraina
Kemlu AS mengatakan, rezim Kuba telah gagal melindungi warganya sendiri. Justru mendorong dan mengorbankan warganya untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina.
“Berdasarkan laporan, diperkirakan terdapat 1.000 hingga 5.000 warga Kuba yang kemungkinan terlibat dalam perang di Ukraina. Intelijen Ukraina juga sudah menduga ada beberapa ribu tentara Kuba yang dikirim ke garis depan,” ujarnya, dilansir The Latin Times.
Washington menyebut, warga Kuba menjadi salah satu tentara asing terbesar yang mendukung operasi militer Rusia. Sebelumnya, diketahui tentara Korea Utara dan sejumlah warga negara-negara Afrika dan Asia terlibat dalam perang di Ukraina.
2. Presiden Kuba mengaku siap mati jika diserang AS
Pada saat yang sama, Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel menolak tekanan dari AS. Ia menyebut warga Kuba siap mati untuk mempertahankan negaranya dari serangan militer AS.
“Kuba akan menahan diri dari segala serangan AS ke negaranya. Tidak ada justifikasi untuk agresi militer, operasi bedah, atau bahkan penculikan presiden di Kuba,” ungkap Diaz-Canel.
Presiden Kuba itu menambahkan bahwa pengunduran diri bukan bagian dari negosiasi. Menurutnya, masa depan politik dan pemerintahan Kuba tidak ditentukan oleh tekanan AS.
3. Trump sebut akan fokus ke Kuba usai menangani perang di Iran
Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa akan mengalihkan fokus ke Kuba setelah menyelesaikan perang di Iran. Ia memastikan AS tetap melanjutkan komunikasi dengan Kuba dalam beberapa hari terakhir.
“Kuba adalah negara yang kolaps. Kami akan meluncurkan inisiatif dan mencegah Kuba setelah kami menyelesaikan masalah ini (perang di Iran),” katanya, dikutip dari EFE.
Trump menyebut akan menganalisa pengiriman minyak dari Rusia ke Kuba. Pernyataan ini setelah kapal Rusia, Anatoly Kolodkin tiba di Kuba untuk mengirimkan 100 ribu ton minyak mentah.

















