Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Inggris Larang Israel Ikut Pameran Senjata di London

ilustrasi bendera Inggris. (unsplash.com/simon frederick)
ilustrasi bendera Inggris. (unsplash.com/simon frederick)
Intinya sih...
  • Inggris melarang Israel ikut pameran senjata di London
  • Inggris menekan Israel untuk berhenti serangan ke Gaza
  • Israel tuduh keputusan Inggris bermotif politik
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Inggris melarang delegasi pemerintah Israel untuk menghadiri pameran pertahanan dan senjata DSEI UK 2025. Pameran berskala internasional yang diadakan dua tahun sekali ini rencananya akan berlangsung di London pada 9-12 September mendatang.

Keputusan ini diambil sebagai respons atas langkah Israel yang terus meningkatkan operasi militernya di Gaza. Namun, perusahaan-perusahaan pertahanan swasta asal Israel masih tetap diizinkan untuk berpartisipasi secara independen, dilansir Politico pada Jumat (29/8/2025).

1. Inggris terus menekan Israel setop serangan ke Gaza

Juru bicara pemerintah Inggris menyatakan, keputusan Israel untuk meningkatkan eskalasi militernya adalah langkah yang salah. Baru-baru ini, Inggris telah meningkatkan tekanan ke Israel, termasuk menangguhkan beberapa lisensi ekspor senjata dan membekukan negosiasi perdagangan.

"Harus ada solusi diplomatik untuk mengakhiri perang ini sekarang, dengan gencatan senjata segera, kembalinya para sandera, dan lonjakan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza," ujar juru bicara pemerintah Inggris, dikutip dari Al Jazeera.

Pelarangan ini sendiri sifatnya tidak permanen. Inggris menyatakan bahwa larangan dapat diangkat jika Israel lebih serius meningkatkan kondisi kemanusiaan di wilayah Palestina.

Acara DSEI diselenggarakan oleh perusahaan swasta Clarion Defence and Security Limited. Namun, pameran ini menerima dukungan besar dari pemerintah dan angkatan bersenjata Inggris.

2. Israel tuduh keputusan Inggris bermotif politik

Kementerian Pertahanan Israel mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan diskriminasi yang memalukan. Israel akhirnya menarik diri sepenuhnya dari pameran tersebut dan tidak akan mendirikan paviliun nasional yang selama ini menjadi bagian penting dari partisipasi mereka.

Israel juga menuduh keputusan Inggris bermuatan politis dan menguntungkan kelompok teroris.

"Dengan melakukan itu, Inggris telah melayani kepentingan para ekstremis, melegitimasi terorisme, dan melanggar kerangka profesional pameran pertahanan global," ungkap Kementerian Pertahanan Israel, dilansir Ynet.

Meskipun menarik diri, Israel masih akan memberikan dukungan bagi perusahaan swasta yang memutuskan untuk tetap berangkat ke London.

3. Israel juga dilarang berpartisipasi di pameran Prancis

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)
tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Pelarangan semacam ini bukan yang pertama kali dialami Israel sepanjang tahun. Pada Juni lalu, penyelenggara Paris Air Show juga melarang perusahaan-perusahaan Israel memamerkan beberapa jenis senjata dalam pameran tersebut.

Israel juga sedang menghadapi peningkatan tekanan dari dari negara-negara Eropa. Para menteri luar negeri Uni Eropa dilaporkan akan segera bertemu untuk membahas kemungkinan penerapan sanksi lebih lanjut terkait perang di Gaza.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, telah mengisyaratkan akan mengambil sikap yang lebih keras terhadap pemerintahan PM Benjamin Netanyahu. Starmer berjanji bahwa Inggris akan mengakui negara Palestina pada bulan September jika Israel tidak menyetujui gencatan senjata.

Tekanan internasional terhadap Israel juga datang dari jalur hukum di Mahkamah Internasional. Afrika Selatan telah mengajukan gugatan yang menuduh Israel melanggar kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida 1948 dalam menjalankan perangnya di Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us