Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fakta-Fakta Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran, Langsung Dibalas!

Fakta-Fakta Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran, Langsung Dibalas!
Kombinasi cuplikan video yang diambil dari gambar buatan pengguna (UGC) yang diunggah di media sosial pada 28 Februari 2026, dan diverifikasi oleh tim AFPTV di Paris, menunjukkan adanya ledakan yang dilaporkan di Tehran. (VARIOUS SOURCES/AFP)
Intinya Sih
  • AS dan Israel melancarkan serangan militer besar ke Iran, menargetkan fasilitas militer serta program misil yang dianggap mengancam keamanan nasional kedua negara.
  • Presiden AS Donald Trump menyebut operasi ini sebagai langkah untuk menghentikan pengembangan nuklir Iran dan menyerukan perubahan rezim di Teheran.
  • Iran merespons cepat dengan serangan balasan menggunakan misil dan drone, memicu kekhawatiran global atas potensi konflik regional yang lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Eskalasi militer besar di Timur Tengah ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer terkoordinasi terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Operasi yang diumumkan oleh kedua negara tersebut—yang oleh Israel disebut sebagai serangan pendahuluan atau pre-emptive strike—memicu ledakan di ibu kota Tehran dan sejumlah kota lainnya.

Pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan itu menargetkan puluhan situs militer dan fasilitas yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya, setelah berbulan-bulan perencanaan bersama dengan militer AS. Sementara itu, Presiden AS menyebut operasi tersebut sebagai “operasi tempur besar-besaran.”.

Kedua negara sekutu itu bertujuan menghancurkan kemampuan misil Iran dan ancaman lainnya, serta mendesak perubahan rezim di Teheran. Langkah militer ini dilakukan di tengah gagalnya upaya diplomasi mengenai program nuklir Iran dan peningkatan ketegangan regional.

Respons awal dari Iran adalah melakukan penutupan wilayah udara dan mengaktifkan sirene peringatan di berbagai wilayah. Eskalasi ini menjadi titik tertinggi konflik yang telah berlangsung lama antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv.

Tak butuh waktu lama, Iran pun melancarkan serangan balasan, termasuk peluncuran misil dan drone ke target Israel dan fasilitas AS di kawasan teluk. Dampaknya tidak hanya dirasakan di medan perang, tetapi juga menyebabkan penangguhan rute penerbangan di seluruh Timur Tengah. Hal ini juga mengkhawatirkan pihak internasional tentang kemungkinan konflik yang lebih luas serta konsekuensi geopolitik yang mendalam.

1. Trump klaim lancarkan operasi tempur karena Iran kembangkan Nuklir

Donald Trump
Donald Trump (commons.wikimedia.org)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (28/2/2026) menyampaikan pidato melalui video dari kediamannya di Florida yang kemudian diunggah ke akun Truth Social miliknya. Dalam rekaman itu, ia menyatakan pasukan AS bersama Israel telah memulai pengeboman terkoordinasi terhadap wilayah Iran.

Trump menggambarkan langkah tersebut sebagai operasi besar yang akan berlangsung terus-menerus dan disebutnya sebagai misi mulia. Ia menegaskan keputusan itu diambil untuk melindungi warga AS serta sekutu dari ancaman yang dinilai datang dari rezim Iran.

Trump memaparkan bahwa Iran tengah membangun kembali program nuklirnya sambil meningkatkan kemampuan rudal jarak jauh. Menurutnya, persenjataan itu kini mampu mengancam pasukan AS, negara sekutu di Eropa, dan berpotensi menjangkau daratan Amerika dalam waktu dekat.

“Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka sampai ke tanah. Itu akan benar-benar dihancurkan total lagi. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” kata Trump, dikutip dari Asharq al-Awsat. Ia juga menyampaikan bahwa operasi ini bertujuan menghentikan kelompok bersenjata yang didukung Iran agar tak lagi mengganggu stabilitas kawasan maupun menyerang personel AS.

2. Seruan Trump terhadap warga Iran: ambil alih pemerintahan

AFP__20260228__999Y47E__v1__HighRes__IranIsraelUsConflict.jpg
Israel serang Iran, Sabtu (28/2/2026). (ATTA KENARE/AFP)

Trump kemudian menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat Iran. Ia meminta warga memanfaatkan situasi ketika kekuatan militer negara itu melemah untuk mengambil kendali pemerintahan.

“Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi. Saat kebebasan kalian sudah di depan mata,” ujarnya, dikutip dari CNA.

Selanjutnya, ia menyerukan kepada unsur militer dan aparat keamanan Iran agar segera menyerah. Trump menawarkan jaminan keselamatan bagi mereka yang bersedia meletakkan senjata.

“Kepada anggota Korps Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan seluruh polisi, saya katakan malam ini bahwa kalian harus meletakkan senjata kalian dan mendapatkan kekebalan penuh atau sebagai alternatif, menghadapi kematian yang pasti,” katanya.

Trump turut memperingatkan warga sipil Iran agar tetap berada di tempat aman selama operasi militer berlangsung. Ia meminta masyarakat tidak keluar rumah karena situasi dinilai berbahaya. “Tetaplah berlindung. Jangan tinggalkan rumah kalian. Sangat berbahaya di luar. Bom akan jatuh di mana-mana,” katanya.

Serangan ini dilakukan setelah AS mengerahkan kekuatan militernya dalam skala terbesar ke Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, sebelumnya sempat berlangsung pertemuan antara utusan AS dan diplomat senior Iran di Jenewa dengan mediasi Oman, yang saat itu disebut mediator membuka peluang kesepakatan nuklir, namun pembicaraan tersebut tak mencegah operasi militer.

Sehari sebelum serangan dimulai, Trump menyebut keputusan akhir belum ditetapkan. Pada Juni tahun lalu, ia juga pernah memerintahkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir utama Iran guna mendukung operasi militer Israel.

3. Netanyahu sebut serangan ke Iran untuk hilangkan ancaman eksistensial

PM Israel Benjamin Netanyahu
PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) meluncurkan operasi terhadap Iran untuk "menghilangkan ancaman eksistensial". Senada dengan Trump, Netanyahu bahkan menyerukan rakyat Iran untuk melawan pemerintah mereka.

"Tindakan bersama kita akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil kendali atas nasib mereka sendiri," tambah Netanyahu. "Waktunya telah tiba bagi seluruh rakyat Iran... untuk melepaskan belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan cinta damai."

Netanyahu mengatakan Iran tidak boleh diizinkan untuk memperoleh senjata nuklir dan mendesak warga Israel untuk "bersatu" setelah Israel dan AS melancarkan serangan.

"Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan untuk mempersenjatai diri dengan senjata nuklir yang akan memungkinkannya mengancam seluruh umat manusia," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan video. "Bersama-sama kita akan berdiri, bersama-sama kita akan berjuang, dan bersama-sama kita akan memastikan keabadian Israel," tambahnya.

4. Balasan Iran segera dilancarkan

AFP__20260228__99A69YA__v1__HighRes__IsraelIranUsConflict.jpg
Anggota personel keamanan Israel memindahkan seorang pasien di area parkir Sourasky Medical Center demi keselamatan, setelah sirene berbunyi di Tel Aviv pada 28 Februari 2026, usai serangan preemptif Israel terhadap Iran. (JACK GUEZ /AFP)

Iran pun kemudian segera merespons dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan serangan drone besar-besaran. Target serangan Iran tidak hanya Israel, tapi juga pangkalan AS di beberapa negara Teluk Arab. Iran menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk lokasi markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain, serta fasilitas AS di negara-negara lain yang menjadi tuan rumah pasukan AS di kawasan Teluk.

Beberapa negara melaporkan sistem pertahanan mereka mendeteksi serangan rudal. Serangan itu mencakup wilayah seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Yordania, di mana terdapat basis militer AS serta fasilitas strategis Israel. Ledakan dan sirine darurat terdengar di sejumlah lokasi tersebut.

5. Serangan balasan meluas menjadi konflik regional Timur Tengah

Ilustrasi peta kawasan Timur Tengah. (unsplash.com/mana5280)
Ilustrasi peta kawasan Timur Tengah. (unsplash.com/mana5280)

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan akan terus melakukan serangan terhadap pihak Amerika Serikat (AS) dan Israel. IRGC menyatakan operasi militer Iran akan berlanjut hingga musuh dikalahkan secara telak. Mereka mengklaim semua target militer Israel dan AS di Timur Tengah telah dihantam oleh serangan dahsyat rudal Iran.

Semua aset AS di seluruh wilayah tersebut dianggap sebagai target yang sah bagi tentara Iran. Ini menunjukkan eskalasi konflik dari sekadar bentrokan bilateral menjadi konfrontasi yang lebih luas di kawasan. Serangan yang berbalasan ini juga berpotensi dampak signifikan terhadap keamanan regional dan stabilitas politik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More