Cerita WNI Tinggal Dekat Pangkalan Militer AS Abu Dhabi saat Ledakan

- Safira Anggraini, WNI di Abu Dhabi, menceritakan pengalamannya menghadapi situasi tegang akibat serangan Iran yang memicu ledakan di sekitar pangkalan militer AS.
- Pemerintah UEA mengirim tiga kali peringatan darurat agar warga tetap di rumah, menjauhi jendela, dan menyiapkan kebutuhan dasar selama kondisi belum stabil.
- KBRI Abu Dhabi meminta seluruh WNI tetap berlindung di tempat aman; Safira yang tinggal dekat pangkalan militer AS terus memantau perkembangan sambil menjaga kewaspadaan.
Jakarta, IDN Times - Ketegangan di kawasan Timur Tengah imbas serangan Iran tak hanya dirasakan warga lokal. Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Safira Anggraini, membagikan pengalamannya bertahan di tengah situasi mencekam tersebut.
Safira kini bekerja sebagai SEO di divisi marketing maskapai nasional Uni Emirat Arab, Etihad Airways. Ia telah menetap 1 tahun 3 bulan di Abu Dhabi dan tinggal di kawasan Masdar City.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Safira memilih bertahan di apartemennya sambil terus memantau perkembangan situasi.
1. Tiga kali emergency alert dari pemerintah UEA
Safira menceritakan, pemerintah UEA telah mengirimkan peringatan darurat kepada seluruh warga dan penduduk melalui ponsel.
“Pemerintah UEA sudah mengeluarkan beberapa emergency alert untuk jangan kemana-mana, jauhi jendela dan siapkan persediaan seperti makanan, air, untuk berlindung di tempat aman, saya sendiri masih di apartemen, dan tetap memantau berita,” ujarnya.
Menurutnya, notifikasi darurat tersebut sudah diterima tiga kali. Warga diminta tetap berada di rumah dan menghindari area yang berpotensi menjadi target. Dari dalam apartemennya di Masdar City, Safira mendengar beberapa kali ledakan.
“Ledakan terdengar beberapa kali dari jam 12.00 siang sampai sekitar jam 14.30 (waktu setempat). Tapi alhamdulillah, sampai sekarang kondisi di sini masih aman,” katanya.
2. KBRI minta WNI tetap di rumah
Tak hanya pemerintah setempat, imbauan juga datang dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi.
Safira mengaku sudah berkomunikasi dengan KBRI. Instruksi yang diberikan jelas: tetap berada dalam rumah dan menjauhi lokasi yang kemungkinan menjadi target.
“Instruksi dari KBRI juga untuk tetap berada di dalam rumah dan menjauhi lokasi yg kemungkinan menjadi target, kita sudah kontak kontakan juga sama KBRI, KBRI akan memberitahu jika ada informasi terbaru,” ujarnya.
Koordinasi tersebut membuatnya sedikit lebih tenang, meski situasi di luar masih belum sepenuhnya stabil.
3. Tinggal dekat pangkalan militer AS
Safira juga mengungkapkan, lokasi tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari pangkalan militer Amerika Serikat di Abu Dhabi. Kedekatan ini membuatnya sempat mempertimbangkan langkah antisipasi tambahan jika situasi memburuk.
Ia mengaku tidak mengetahui di mana lokasi tempat untuk berlindung alias shelter terdekat, jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
“Untuk shelter saya kurang tau karena sedang saya tanyakan juga, karena lokasi saya tidak terlalu jauh dari US military base jadi kemungkinan kalau ledakan masih berlanjut saya mungkin akan ke tengah kota atau mencari shelter yang tersedia,” jelasnya.
Namun, hingga laporan ini ditulis, Safira menjelaskan, ledakan sudah tak terdengar lagi dan situasi dinilai masih aman di lingkungannya.
Di tengah ketidakpastian, Safira memilih bertahan, mengikuti arahan otoritas setempat, dan terus memantau kabar terbaru—sebuah potret keteguhan WNI di luar negeri saat konflik regional kembali memanas.
















