Iran Digempur, Putra Shah Sebut Kemenangan Hampir di Depan Mata

- Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, menyebut kemenangan atas Republik Islam sudah dekat setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
- Pahlavi meminta rakyat Iran tetap di rumah dan waspada hingga situasi aman, sementara protes antipemerintah sebelumnya telah menelan ribuan korban jiwa akibat tindakan keras aparat.
- Serangan gabungan memicu ledakan di Teheran hingga negara Arab seperti Qatar dan UEA, dengan Iran berjanji melakukan balasan besar terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan.
Jakarta, IDN Times - Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, menyatakan bahwa kemenangan atas Republik Islam itu sudah di depan mata setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan pada Sabtu (28/2/2026).
Pahlavi, yang kini hidup dalam pengasingan di Washington, sebelumnya telah berulang kali meminta Presiden AS, Donald Trump, untuk melakukan intervensi terhadap pemerintah Iran.
“Kita sudah berada sangat dekat dengan kemenangan akhir. Saya berharap dapat segera berada di tengah-tengah Anda, sehingga bersama-sama kita bisa merebut kembali dan membangun kembali Iran,” katanya dalam video yang diunggahnya tak lama setelah serangan tersebut, dikutip dari The Straits Times.
1. Pahlevi minta masyarakat Iran waspada

Di tengah situasi yang kacau, Pahlavi meminta masyarakat Iran untuk menunggu sampai situasi aman sebelum akhirnya turun ke jalan.
“Saya meminta Anda untuk tetap berada di rumah untuk saat ini dan menjaga keselamatan serta keamanan Anda. Tetap waspada dan bersiaplah sehingga, pada waktu yang tepat — yang akan saya umumkan secara jelas kepada Anda — Anda dapat kembali ke jalan untuk aksi terakhir," ujarnya.
Sebelumnya, ribuan orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes antipemerintah di Iran yang dimulai pada akhir Desember 2025. Kelompok hak asasi manusia menuduh aparat keamanan menggunakan kekerasan berlebihan, termasuk menembak langsung ke arah para pengunjuk rasa.
2. Ledakan juga terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, dengan ledakan terdengar di seluruh Teheran dan wilayah lainnya di negara tersebut. Trump mengatakan serangan gabungan tersebut bertujuan menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
“Belum lama ini, militer AS memulai operasi tempur besar di Iran. Tujuan kami adalah melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran,” ujar presiden AS tersebut.
Salah satu area yang menjadi sasaran di ibu kota Iran berada di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun, seorang pejabat mengatakan bahwa Khamenei tidak berada di Teheran saat kejadian dan telah dipindahkan ke lokasi yang aman.
3. Ledakan terjadi di Israel dan beberapa negara Arab

Usai serangan tersebut, Teheran menyatakan tengah menyiapkan serangan balasan yang akan bersifat menghancurkan. Dilansir dari Al Jazeera, seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa semua aset dan kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah akan menjadi target yang sah dan tidak ada lagi garis merah setelah agresi ini.
Media Israel melaporkan bahwa ledakan terdengar di wilayah Haifa, Israel utara. Dentuman itu terjadi tak lama setelah militer Israel menyatakan akan menggunakan sistem pertahanan udaranya untuk menembak jatuh rudal yang ditembakkan Iran.
Peringatan untuk berlindung juga berbunyi di Qatar. Kementerian pertahanan negara itu menyatakan sebuah rudal Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Patriot. Ledakan juga terjadi di Bahrain, yang menyebutkan bahwa markas Armada Kelima Angkatan Laut AS turut menjadi sasaran serangan rudal.
Suara ledakan keras juga dilaporkan di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), serta di Kuwait. Qatar, Kuwait, dan UEA telah menutup wilayah udara mereka.
















