Israel Bombardir Gaza Jelang Pembukaan Rafah, 32 Orang Tewas

- Serangan udara Israel menewaskan 32 warga Palestina
- Kantor polisi dan tenda pengungsi jadi sasaran, memicu kebakaran hebat
- Israel klaim balas insiden keamanan di Rafah menjelang pembukaan gerbang Rafah
Jakarta, IDN Times - Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina. Otoritas pertahanan sipil setempat mengonfirmasi korban jiwa mencakup perempuan dan anak-anak yang tewas akibat rentetan tembakan di berbagai lokasi.
Eskalasi ini justru terjadi saat fase kedua gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat (AS) sedang berjalan. Bombardir menghantam titik-titik vital mulai dari kantor polisi di Kota Gaza hingga tenda-tenda pengungsi di wilayah selatan, memicu kecaman dari mediator internasional.
1. Kantor polisi dan tenda pengungsi jadi sasaran

Serangan paling mematikan menghantam kantor polisi di lingkungan Sheikh Radwan, bagian barat Kota Gaza. Insiden tersebut merenggut nyawa 10 petugas kepolisian serta tahanan yang berada di lokasi.
Tim penyelamat menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari korban lain yang tertimbun material beton. Rekaman video dari lokasi kejadian memperlihatkan dinding apartemen yang hancur dan puing-puing berserakan memenuhi jalanan sekitar.
Selain itu, agresi Israel menyasar wilayah selatan, tepatnya di Khan Younis, tempat ribuan warga sipil berlindung. Helikopter tempur dilaporkan menembaki tenda penampungan keluarga yang terlantar, memicu kebakaran hebat yang menewaskan satu keluarga. Serangan juga menargetkan sebuah kawasan apartemen di Gaza.
“Kami menemukan tiga keponakan perempuan saya yang masih kecil di jalan, mereka bilang gencatan senjata dan sebagainya, apa yang dilakukan anak-anak itu, apa yang telah kami lakukan?” ujar Samer al-Atbash, paman dari anak-anak yang tewas, dilansir The Straits Times.
2. Israel klaim balas insiden keamanan di Rafah

Militer Israel (IDF) menyatakan operasi udara Sabtu merupakan respons atas insiden keamanan sehari sebelumnya. IDF mengklaim, delapan pria bersenjata keluar dari sebuah infrastruktur terowongan di Rafah pada Jumat.
Target operasi mencakup komandan lapangan Hamas, fasilitas pembuatan senjata, dan lokasi peluncuran roket di Gaza tengah. Tiga orang bersenjata dilaporkan tewas dalam baku tembak di Rafah, sementara satu komandan lokal berhasil ditangkap pasukan IDF.
Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menolak narasi tersebut dan mengecam tindakan Israel. Mereka menyebut serangan ke area sipil ini membuktikan bahwa Israel masih melanjutkan perang genosida dan pelanggaran terhadap kesepakatan damai.
Hamas mendesak AS untuk segera turun tangan menghentikan agresi yang terus berulang.
"Apa yang terjadi hari ini adalah kejahatan penuh yang dilakukan oleh musuh kriminal yang tidak mematuhi perjanjian atau menghormati komitmen apa pun," tegas anggota biro politik Hamas, Suhail al-Hindi, dikutip France24.
3. Serangan terjadi menjelang pembukaan gerbang Rafah

Gelombang serangan ini terjadi hanya sehari sebelum rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah. Gerbang vital penghubung Gaza dan Mesir itu dijadwalkan beroperasi kembali pada Minggu (1/2/2026) untuk pergerakan orang secara terbatas.
Pembukaan perbatasan merupakan bagian penting dari fase kedua kesepakatan damai usulan Presiden AS Donald Trump. Tahap ini mencakup pelucutan senjata Hamas, pembentukan pemerintahan teknokratik baru, serta masuknya bantuan kemanusiaan.
Mediator internasional mengecam lonjakan kekerasan yang membahayakan proses diplomasi. Mesir dan Qatar secara terbuka mengutuk pelanggaran yang dilakukan Israel dan mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri.
Konflik di Gaza telah menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 71 ribu warga Palestina tewas sejak awal perang, angka yang kini juga telah diakui oleh militer Israel.


















