Israel Rebut Kastil Bersejarah Lebanon, Eropa Ramai Lontarkan Kritik

- Pasukan Israel merebut Kastil Beaufort di Lebanon selatan, menandai penetrasi darat terdalam dalam 26 tahun dan memperluas operasi melampaui Sungai Litani untuk menekan Hizbullah.
- Negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman mengecam langkah Israel karena memicu korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta mengancam stabilitas regional dan peluang diplomasi.
- Pemerintah Lebanon menuduh Israel melakukan kebijakan bumi hangus yang menyebabkan ribuan korban jiwa dan jutaan pengungsi, sementara pejabat Israel bertekad memperkuat kendali di wilayah tersebut.
Jakarta, IDN Times – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengambil alih Kastil Beaufort beserta kawasan punggungan di sekelilingnya di Lebanon selatan. Operasi itu menjadi penetrasi darat terdalam Israel ke wilayah Lebanon dalam 26 tahun terakhir sekaligus memperluas serangan terhadap Hizbullah hingga melampaui Sungai Litani yang selama ini menjadi batas penting.
Bersamaan dengan pengerahan besar pasukan darat tersebut, IDF juga mengeluarkan peringatan evakuasi baru kepada warga di wilayah yang lebih luas di Lebanon selatan agar menjauhi posisi-posisi Hizbullah.
"Siapa pun yang hadir di dekat elemen Hizbullah, fasilitas atau sarana tempur membahayakan nyawa mereka," ujar juru bicara IDF, dikutip BBC.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut jatuhnya Kastil Beaufort sebagai perkembangan besar. Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya telah memecahkan penghalang ketakutan, mengambil inisiatif, serta beroperasi di semua front di Suriah, Gaza, dan Lebanon.
1. Negara-negara Eropa melontarkan kritik tajam

Pergerakan militer Israel tersebut segera memunculkan kritik keras dari sejumlah negara Eropa. Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Yvette Cooper menilai operasi itu telah menewaskan dan mengusir warga sipil, merusak infrastruktur, serta mempersempit peluang bagi jalur diplomasi, sementara ia juga menyerukan Hizbullah untuk menghentikan serangan terhadap Israel dan melucuti senjata.
Di sisi lain, Prancis meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak seluruh pihak menghentikan penggunaan senjata, sedangkan Menlu Prancis Jean-Noël Barrot menilai manuver terbaru Israel sebagai kesalahan besar.
Selaras dengan posisi Prancis, Menlu Jerman Johann Wadephul menyampaikan keprihatinan serius. Ia juga memperingatkan bahwa eskalasi yang terus meningkat berpotensi memicu gelombang pengungsian baru dalam jumlah besar.
2. Lebanon menyoroti dampak kemanusiaan konflik

Menurut pernyataan resmi pemerintah Lebanon, PM Nawaf Salam menuduh Israel menjalankan kebijakan bumi hangus dan hukuman kolektif di Lebanon selatan melalui serangan udara serta perintah evakuasi yang terus berlanjut. Ketegangan tersebut bermula setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan udara Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sejak konflik meningkat, otoritas Lebanon melaporkan sekitar 3.300-3.350 orang tewas akibat serangan Israel dan lebih dari 1,2 juta warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Sementara itu, Israel melaporkan 25 tentaranya serta 2 warga sipil tewas dalam pertempuran.
3. Pejabat Israel menguatkan kendali Lebanon Selatan

Mengutip laporan NBC News, sejumlah pejabat Israel telah memberi sinyal mengenai upaya memperkuat kendali mereka di Lebanon selatan. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyebut perebutan kastil itu sebagai koreksi atas kesalahan masa lalu, sedangkan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir terus mendorong langkah yang lebih keras di lapangan.
Operasi besar tersebut tetap berlangsung meski Israel dan Hizbullah masih terikat dalam kesepakatan gencatan senjata yang rapuh dan diwarnai saling tuduh pelanggaran. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran terkait potensi kerusakan Kastil Beaufort yang memiliki nilai sejarah tinggi, sementara pakar London School of Economics Fawaz Gerges memperingatkan bahwa kehadiran jangka panjang militer Israel dapat menyeret mereka ke konflik berkepanjangan karena Hizbullah diperkirakan terus memberikan perlawanan.



















