Serangan di Pos Keamanan, Lima Tentara Thailand Tewas

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya lima Thailand tentara tewas akibat serangan terhadap sebuah pos keamanan di wilayah selatan yang dilanda konflik. Selain itu, enam warga sipil juga dilaporkan terluka, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.
Serangan tersebut terjadi pada Rabu (22/7/2026) malam di pos pemeriksaan Buketa Sami di provinsi Narathiwat. Pihak militer mengatakan bahwa sekitar 10 pelaku, yang datang menggunakan truk pikap dan sepeda motor, menembaki anggota Satuan Tugas Resimen Ranger 45 yang sedang berjaga di lokasi dan melemparkan bom pipa.
Para penyerang juga dilaporkan merampas tiga pucuk senapan AK-47, tiga rompi antipeluru dan tiga telepon seluler milik para tentara tersebut sebelum melarikan diri. Kendaraan mereka kemudian ditemukan dalam keadaan hangus terbakar sekitar 21 km dari lokasi kejadian.
1. Para pelaku masih dalam pengejaran

Sejauh ini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pihak berwenang juga belum mengumumkan adanya penangkapan.
Sementara itu, pemerintah Thailand dengan tegas mengecam serangan tersebut. Juru bicara pemerintah, Rachada Dhnadirek, menyebut aksi itu sebagai tindakan terorisme yang dapat menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional dan merusak upaya yang tengah berlangsung untuk menghidupkan kembali proses perdamaian.
2. Kekerasan kembali marak di provinsi bagian selatan Thailand

Dilansir Al Jazeera, serangan tersebut merupakan salah satu yang paling mematikan terhadap pasukan keamanan Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kembali maraknya kekerasan di provinsi-provinsi selatan negara itu.
Sehari sebelumnya, sebuah bom mobil meledak di luar bekas kantor polisi Tanyong, yang juga berada di provinsi. Narathiwat. Ledakan itu menyebabkan seorang polisi terluka dan merusak bangunan kantor polisi tersebut. Polisi kini sedang memburu dua tersangka yang terlihat melarikan diri dengan sepeda motor usai kejadian tersebut.
3. Konflik separatis telah berlangsung sejak 2004

Dilansir DW, konflik separatis telah berlangsung di provinsi-provinsi paling selatan Thailand sejak 2004. Kelompok pemberontak di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam memperjuangkan otonomi yang lebih luas di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha tersebut. Lebih dari 7 ribu orang telah tewas akibat konflik ini, termasuk warga sipil, aparat keamanan, dan anggota kelompok bersenjata.
Perundingan resmi antara pemerintah Thailand dan Barisan Revolusi Nasional, kelompok separatis utama di wilayah tersebut, dijadwalkan kembali digelar pada Juni menyusul meningkatnya aksi kekerasan. Namun, proses negosiasi masih terkendala oleh perbedaan pendapat mengenai pemerintahan mandiri, langkah-langkah keamanan dan perwakilan politik.
















