Trump Berniat Ambil Alih Kuba, Klaim Pakai Cara Bersahabat

- Donald Trump menyatakan Amerika Serikat bisa mengambil alih Kuba secara bersahabat setelah berbicara dengan cucu Raul Castro mengenai masa depan negara tersebut.
- Negosiasi antara Menteri Luar Negeri Kuba Marco Rubio dan Raul Guillermo Rodriguez Castro berlanjut di pertemuan CARICOM, membahas peluang hubungan baru dengan AS.
- Krisis BBM di Kuba makin parah, menyebabkan gangguan energi, kekurangan air bersih, serta ancaman kemanusiaan bagi jutaan warga termasuk pasien penyakit kronis.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Jumat (27/2/2026), mengatakan bahwa AS dapat mengambilalih Kuba dengan cara bersahabat. Ia mengaku sudah berbicara dengan cucu Raul Castro soal masa depan Kuba.
“Mereka sudah ada dalam masalah besar. Mereka tidak punya uang. Mereka tidak punya apapun saat ini. Namun, mereka berbicara kepada kami. Mungkin kami dapat merebut Kuba dengan cara bersahabat. Kami sangat mungkin dapat mengambilalih dengan cara bersahabat,” ungkapnya, dikutip dari The Latin Times.
Beberapa bulan terakhir, hubungan AS dan Kuba terus menegang. Terlebih setelah AS menetapkan pemblokiran ekspor bahan bakar minyak (BBM) ke negara Karibia tersebut.
1. Rubio lanjutkan negosiasi dengan cucu Raul Castro
Pernyataan Trump ini disampaikan menanggapi negosiasi antara Menteri Luar Negeri Kuba, Marco Rubio dan cucu Raul Castro, Raul Guillermo Rodriguez Castro. Keduanya kembali berdiskusi dalam pertemuan CARICOM di Saint Kitts.
Rodriguez Castro dikenal sebagai sosok yang lebih berorientasi pada bisnis dan masih memiliki pengaruh dalam rezim Kuba. Ia diharapkan dapat mengubah Kuba dan bersedia mendorong hubungan baik dengan AS.
2. AS akui seorang warganya tewas dalam insiden di Kuba
Pada saat yang sama, AS mengakui bahwa salah satu warganya tewas dalam insiden masuknya kapal boat dari Florida ke Kuba. Sementara, orang lain yang berada dalam kapal tersebut adalah warga Kuba yang memiliki izin tinggal permanen di AS.
Anggota Parlemen AS, Carlos Gimenez mengungkapkan bahwa AS akan melakukan investigasi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Menurutnya, saat ini, AS masih belum mengetahui secara pasti terkait kondisi enam warga AS yang masih berada di Kuba.
3. Krisis BBM di Kuba semakin memburuk
Kepala Program Energi Amerika Latin dan Karibia di Universitas Texas, Austin, Jorge Pinon mengungkapkan bahwa Kuba sudah kehabisan waktu. Alhasil, rezim Kuba harus menyetujui perjanjian atau mengambil risiko krisis kemanusiaan besar.
Dilansir The Hill, PBB juga mengungkapkan bahwa sebanyak 5 juta warga Kuba sudah tinggal dalam kondisi yang tidak tenang, terutama pasien penyakit kronis. Mereka menghadapi masalah besar imbas krisis energi yang berdampak pada penanganan medis.
Selain itu, keamanan pangan di Kuba semakin memburuk tanpa adanya BBM. Setidaknya 1 juta orang di Kuba juga menghadapi kelangkaan air bersih tanpa listrik untuk memompa dari sumur.

















