Kedai Kopi di New York AS Diselidiki karena Tolak Layani Anggota DPR

- Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan hak sipil terhadap Poetica Coffee di New York karena dugaan menolak melayani anggota DPR AS, Dan Goldman.
- Penolakan terjadi setelah pengelola kafe mengunggah rekaman CCTV dan menyatakan akan menolak Goldman karena pandangan politiknya terkait konflik Timur Tengah.
- Dan Goldman menyayangkan insiden tersebut, menilai polarisasi politik telah memengaruhi interaksi sosial, meski ia mengaku sempat berbincang ramah dengan staf kafe.
Jakarta, IDN Times - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) resmi membuka penyelidikan hak sipil terhadap jaringan kedai kopi Poetica Coffee di New York City. Langkah hukum ini diambil setelah adanya laporan bahwa kedai tersebut menolak melayani Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Dan Goldman.
Penyelidikan yang dipimpin oleh Divisi Hak Sipil ini berfokus pada dugaan pelanggaran akses pelayanan di tempat umum. Kasus ini mencuat setelah pihak pengelola mengunggah tindakan penolakan itu ke media sosial.
1. Dugaan pelanggaran UU federal
Pemerintah federal menegaskan komitmennya untuk mencegah tindakan diskriminatif yang merugikan konsumen di tempat umum. Undang-undang di AS melarang keras pelaku usaha menolak pelanggan berdasarkan ras, agama, asal-usul kebangsaan, maupun pandangan tertentu.
Aparat penegak hukum kini tengah mengusut tuntas motif pengelola kafe yang berlokasi di Williamsburg, Brooklyn tersebut. Tujuannya untuk menjamin keadilan bagi masyarakat. Tindakan tegas akan diambil apabila terbukti terjadi pelanggaran hukum federal.
"Divisi Hak Sipil sudah memulai penyelidikan. Jika diperlukan, kami akan mengambil langkah penegakan hukum," kata Asisten Jaksa Agung Harmeet Dhillon, dilansir Al Jazeera.
2. Kronologi penolakan pelayanan
Insiden bermula saat Dan Goldman mengunjungi salah satu cabang Poetica Coffee. Ia hendak membeli kopi setelah putrinya yang berusia tujuh tahun menggunakan toilet di kafe tersebut. Namun, setelah kunjungan itu, pengelola mengunggah foto rekaman kamera pengawas (CCTV) Goldman ke media sosial.
Dalam unggahan itu, pihak kafe menyatakan akan menolak melayani Goldman di masa depan. Mereka juga mengembalikan uang pembelian kopi sebesar 9,82 dolar AS (Rp176,18 ribu) secara sepihak. Tindakan ini dipicu oleh pandangan politik Goldman yang mendukung Israel dalam konflik Timur Tengah.
Langkah sepihak pengelola kafe ini langsung menuai kritik dari berbagai tokoh lokal. Mereka menilai tempat umum tidak boleh dipolitisasi.
"Ada banyak cara untuk menyampaikan pendapat kepada pejabat terpilih tanpa harus membuat kedai kopi jadi tempat yang tidak ramah bagi pelanggan," ujar kandidat pemilu lokal, Brad Lander, dilansir The Guardian.
3. Dan Goldman menyatakan kekecewaannya
Menanggapi kontroversi ini, Dan Goldman menyatakan kekecewaannya. Ia menilai polarisasi politik sudah mulai merusak interaksi sosial sehari-hari masyarakat. Meski begitu, ia menegaskan bahwa obrolan dengan staf di dalam kafe sebenarnya berlangsung ramah.
"Saya mengobrol dengan sangat menyenangkan bersama barista di kedai kopi itu. Dia bersikap sangat baik kepada putri saya," ungkap Dan Goldman.
Kasus penolakan ini terjadi di tengah memanasnya suhu politik menjelang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di wilayah New York. Perbedaan sikap terhadap isu kemanusiaan internasional sejauh ini kerap menjadi pemicu ketegangan antarfaksi politik di tingkat lokal.















