Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menuntut media New York Times (NYT) karena berita soal perang AS dan Iran yang mereka buat. Sebab, dalam laporannya, NYT menyebut tidak ada yang berubah dari Iran sejak diserang AS pada 28 Februari lalu. Militer Iran tetap tangguh dan bisa melakukan serangan balasan jika diserang AS atau Israel.
Trump Ancam Tuntut New York Times Buntut Berita soal Perang AS-Iran

- Donald Trump mengancam menuntut New York Times karena berita yang dianggap menyesatkan soal kondisi perang AS-Iran, menyebut laporan media itu tidak sesuai dengan fakta lapangan.
- Senator Lindsey Graham mendukung Trump dengan menilai pemberitaan NYT bias dan tidak mencerminkan keberhasilan AS dalam melemahkan kekuatan militer Iran selama konflik berlangsung.
- Meskipun diserang berkali-kali oleh AS, intelijen melaporkan cadangan rudal Iran masih sekitar 70 persen, menunjukkan kemampuan militer mereka tetap cukup stabil untuk melakukan serangan balasan.
“Judul berita di New York Times yang korup dan gagal. 'Apa yang Berubah Setelah Hampir 4 Bulan Perang? Analis Mengatakan Tidak Banyak.' Benarkah? Militer mereka (Iran) sudah hancur, angkatan laut mereka sudah hilang, dan angkatan udara mereka juga sudah hilang. Landasan peluncuran, rudal, drone, dan manufakturnya hampir hilang. Dua kelompok pemimpin tertinggi mereka sudah hilang, inflasi mereka mencapai 250 persen, ekonomi mereka hancur, tentara mereka tidak dibayar, Selat Hormuz terbuka, minyak meluap, dan pasar saham serta lapangan kerja AS berada pada rekor tertinggi,” ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, Minggu (21/6/2026).
1. Senator AS pendukung Trump juga mengecam berita NYT

Kecaman juga datang dari senator AS yang mendukung Trump, Lindsey Graham. Ia mengatakan, berita yang disebarkan oleh NYT sama sekali tidak benar dan berpotensi menyesatkan publik. Sebab, sejak perang meletus, AS berhasil membuat Iran keteteran sehingga mereka meminta damai.
“Analisis yang dibuat oleh New York Times cenderung mengarah ke sebuah bias yang menentang Presiden Donald Trump daripada fakta sebenarnya soal bagaimana Amerika Serikat menangani Iran,” ujar Lindsey dalam unggahan terpisah di Truth Social merespons unggahan sebelumnya yang dibuat Trump.
2. AS kerap menyerang fasilitas militer milik Iran

Selama berperang, AS memang kerap menyerang fasilitas militer milik Iran. Menurut data dari BBC, ada lebih dari 50 pangkalan militer Iran yang hancur karena diserang pasukan AS. Inilah yang membuat Trump yakin bahwa AS sudah berhasil mengalahkan Iran sepenuhnya.
Pada 5 Juni lalu, Trump juga mengklaim kekuatan militer Iran sudah hancur total. Sebab, menurut Trump, militer Iran sudah kehabisan rudal dan drone untuk menyerang AS. Cadangan rudal dan drone Iran saat ini hanya tinggal tersisa 21 sampai 22 persen saja. Oleh karena itu, Trump saat itu mengatakan Iran tidak akan bisa melanjutkan perang dengan AS.
3. Kekuatan militer Iran masih cukup stabil

Meski digempur AS, kekuatan militer Iran sebetulnya masih cukup stabil. Buktinya, saat AS kembali menyerang pada 9 dan 10 Juni lalu, Iran masih bisa melakukan serangan balasan.
Saat ini, cadangan rudal Iran juga masih cukup banyak. Sebab, berdasarkan investigasi intelijen AS pada Mei lalu, stok rudal Iran dilaporkan masih ada sekitar 70 persen. Persediaan tersebut cukup digunakan oleh Iran apabila perang dengan AS dan Israel berlanjut.
Trump sendiri mengakui bahwa cadangan rudal Iran kini masih tersedia cukup banyak. Namun, ia yakin cadangan rudal yang dimiliki Iran saat ini tidak sebanyak sebelumnya. Sebab, sebagian besar rudal Teheran sudah dipakai untuk berperang melawan AS dan Israel sejak Februari lalu.
Sumber


















