Penetapan ini menjadi yang pertama sejak 2011 Korsel memilih lokasi baru untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Langkah tersebut mencerminkan upaya pemerintah memperkuat pasokan listrik di tengah lonjakan kebutuhan energi yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan industri semikonduktor, dilansir Korea Herald.
Korsel Bidik Lokasi Pembangkit Nuklir Baru untuk Kebutuhan AI dan Chip

- KHNP menetapkan Yeongdeok dan Gijang sebagai lokasi dua reaktor nuklir besar dan satu SMR pertama Korsel untuk memenuhi lonjakan kebutuhan energi akibat AI, pusat data, dan industri chip.
- Pemilihan lokasi dilakukan melalui evaluasi menyeluruh atas kesesuaian lahan, dampak lingkungan, serta dukungan publik yang meningkat; proyek ditargetkan beroperasi antara 2035 hingga 2038.
- Pembangunan ini diharapkan menghidupkan kembali industri nuklir domestik, menciptakan lapangan kerja lokal, serta memperkuat posisi Korsel dalam persaingan global teknologi SMR generasi baru.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan energi milik Korea Selatan (Korsel), Korea Hydro & Nuclear Power (KHNP), pada 17 Juni 2026 resmi mengumumkan Yeongdeok dan Gijang sebagai lokasi pembangunan dua reaktor nuklir skala besar baru dan satu reaktor modular kecil (SMR) pertama di negara tersebut.
1. Detail proyek pembangunan dua reaktor nuklir Korsel
KHNP menyatakan akan mulai proses perizinan, termasuk penilaian dampak lingkungan strategis, hingga awal tahun depan. Berdasarkan Rencana Dasar ke-11 Pasokan dan Permintaan Listrik Jangka Panjang, dua reaktor berkapasitas masing-masing 1,4 GW ditargetkan beroperasi pada 2037 dan 2038. Kedua reaktor skala besar itu berlokasi di Kabupaten Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara.
Sementara, SMR generasi berikutnya, i-SMR, yang berkapasitas 0,7 GW berlokasi di Kabupaten Gijang, Busan. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2035. SMR dipilih karena masa konstruksi yang lebih pendek dan fleksibilitas lokasi yang dekat dengan pusat data atau pabrik chip.
2. Alasan KHNP pilih Yeongdeok dan Gijang untuk proyek PLTN Korsel

Komite pemilihan lokasi yang terdiri dari pakar eksternal memilih kedua wilayah tersebut berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap kesesuaian lokasi, dampak lingkungan, kelayakan konstruksi, dan dukungan masyarakat setempat. Pihaknya menyebut pasokan listrik yang stabil sangat penting, guna menjamin daya saing nasional dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
"Kami berupaya mengidentifikasi lokasi yang paling sesuai. Langkah ini dengan memprioritaskan peran tenaga nuklir sebagai sumber energi dasar yang terpercaya, yang mendukung ekosistem industri, seraya mempertimbangkan koeksistensi regional dan pertumbuhan bersama," kata komite tersebut.
Yeongdeok
Unggul dalam kesesuain lahan, efisiensi jaringan transmisi, dan dukungan publik. Lahan yang disiapkan mencapai 3,24 juta meter persegi, yakni tiga kali lipat dari kebutuhan minimum. Proyek di wilayah ini sempat dibatalkan pada masa pemerintahan sebelumnya akibat kebijakan penghapusan bertahap energi nuklir.
Gijang
Memperoleh nilai tinggi karena infrastruktur nuklir yang luas dan tenaga kerja terampil. Ini mengingat wilayah tersebut merupakan rumah bagi kompleks PLTN Kori, klaster nuklir terbesar di Korsel.
"Keputusan ini menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat lokal terhadap tenaga nuklir telah meningkat secara signifikan, dibandingkan masa lalu," ujar Moon Joo-hyun, profesor teknik di Dankook University.
Survei Gallup Korea terpisah mengonfirmasi bahwa 69,6 persen responden mendukung pembangunan PLTN baru ini, Korea JoongAng Daily melaporkan.
3. Dampak ekonomi dan daya saing global bagi Korsel

Penetapan lokasi ini diyakini akan menghidupkan kembali industri nuklir domestik. Serta, memberikan keuntungan ekonomi bagi pemerintah daerah melalui dana dukungan khusus, subsidi tahunan, dan penciptaan lapangan kerja.
Secara global, proyek ini menempatkan Negeri Ginseng dalam persaingan ketat bersama Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada yang tengah berlomba menguasai teknologi SMR generasi berikutnya. Proyeksi terbaru menunjukkan konsumsi listrik Korsel dapat melonjak hingga 694,1 TWh pada 2040 akibat digitalisasi intensif.
"Negara-negara di seluruh dunia sedang berlomba memperluas tenaga nuklir demi menyediakan listrik murah dan stabil untuk industri AI. Korea harus terus membangun reaktor domestik baru agar tetap kompetitif di pasar ekspor nuklir global," kata Chung Bum-jin, profesor teknik nuklir di Kyung Hee University.
















