Korea Utara Uji Dua Rudal Balistik, Jatuh di Perairan Dekat Jepang

- Jepang dan AS merespons peluncuran Korut.
- Jepang mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB.
- Pasukan AS di Korea berkoordinasi erat dengan sekutu serta mitra.
Jakarta, IDN Times – Korea Utara (Korut) menembakkan dua rudal balistik ke arah Laut Jepang pada Selasa (27/1/2026), sebagaimana diumumkan pemerintah Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Aksi tersebut menjadi peluncuran kedua dalam bulan yang sama, menyusul uji coba pada awal Januari yang oleh Pyongyang diklaim melibatkan rudal hipersonik.
Peluncuran itu terdeteksi oleh Kepala Staf Gabungan Korsel dari wilayah utara Pyongyang sekitar pukul 15.50. Kementerian Pertahanan Jepang mencatat salah satu rudal mencapai ketinggian kurang lebih 80 kilometer dengan jarak jelajah sekitar 350 kilometer. Kedua proyektil tersebut diyakini jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
1. Jepang dan AS merespons peluncuran Korut

Jepang langsung mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB dan melayangkan protes keras kepada Pyongyang. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi kemudian menginstruksikan pejabat terkait untuk menghimpun informasi menyeluruh sekaligus memastikan keselamatan kapal serta pesawat di kawasan terdampak. Hingga kini, belum ada laporan kerusakan yang diterima.
Sementara itu, Pasukan Amerika Serikat (AS) di Korea menyatakan telah mengetahui peluncuran rudal tersebut dan tengah berkoordinasi erat dengan sekutu serta mitra. Berdasarkan penilaian awal, peristiwa ini disebut tak menimbulkan ancaman langsung bagi personel maupun wilayah AS, termasuk terhadap sekutu mereka.
“AS tetap berkomitmen untuk mempertahankan tanah air AS dan sekutu kami di kawasan,” katanya, dikutip dari Kyodo News.
2. Uji coba rudal berlanjut usai kunjungan pejabat Pentagon

Dilansir dari Al Jazeera, peristiwa ini terjadi sehari setelah Wakil Menteri Pertahanan Pentagon untuk Kebijakan Elbridge Colby melakukan kunjungan ke Seoul. Peluncuran terbaru tersebut melanjutkan uji coba pada awal Januari, ketika Korut mengklaim rudal hipersoniknya mampu menghantam sasaran hingga jarak 1.000 kilometer atau sekitar 621 mil.
Pemimpin Korut Kim Jong Un, yang menyaksikan langsung uji coba itu, menyampaikan melalui media resmi bahwa hasil tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan pencegah nuklir negaranya.
3. Ketegangan Korut dan Korsel meningkat jelang kongres partai

Dalam perkembangan sebelumnya, Pyongyang sempat mengancam akan membalas dugaan penerbangan pesawat tanpa awak pengintai milik Seoul yang melintasi perbatasan pada periode Januari dan September. Pemerintah Korsel membantah tudingan tersebut dan membuka penyelidikan untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan warga sipil. Sejumlah analis menilai isu itu dimunculkan guna membangkitkan sentimen anti-Korsel menjelang kongres Partai Buruh yang berkuasa, yang untuk pertama kalinya digelar dalam lima tahun dan dijadwalkan berlangsung beberapa pekan ke depan.
Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, secara tegas menolak usulan Seoul untuk memperbaiki hubungan setelah ketegangan tersebut.
“Mengenai berbagai mimpi liar penuh harapan Seoul yang disebut ‘perbaikan hubungan’, itu … tidak akan pernah terwujud,” katanya, menurut media negara Korut.
Menjelang agenda kongres itu, Kim Jong Un memerintahkan perluasan serta modernisasi fasilitas produksi rudal guna menunjukkan kemajuan pengembangan senjata. Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melarang seluruh bentuk peluncuran maupun uji coba rudal balistik, Pyongyang tetap meningkatkan aktivitas persenjataan dalam beberapa tahun terakhir. Para analis mencatat langkah tersebut diarahkan untuk menyempurnakan kemampuan serangan presisi, menantang AS dan Korsel, serta berpotensi menyiapkan senjata untuk diekspor ke Rusia.
















