Mahasiswa Hong Kong Dikeluarkan usai Desak Investigasi Kebakaran 2025

- Universitas di Hong Kong memberhentikan mahasiswa politik yang desak investigasi kebakaran 2025
- Miles Kwan ditahan polisi usai desak investigasi korupsi kasus kebakaran, resmi diberhentikan oleh CUHK
- Skandal korupsi dan kelalaian konstruksi picu tragedi kebakaran mematikan di Wang Fuk Court
Jakarta, IDN Times - Sebuah universitas di Hong Kong resmi memberhentikan seorang mahasiswa jurusan politik yang aktif menyuarakan akuntabilitas atas insiden kebakaran mematikan pada 2025. Keputusan ini merupakan hasil dari proses disiplin panjang yang dilakukan oleh komite universitas terhadap mahasiswa tersebut.
Langkah tegas ini diambil menyusul keterlibatan sang mahasiswa dalam berbagai aksi protes sipil yang menuntut transparansi pemerintah dan otoritas setempat terkait tragedi di distrik Tai Po. Mahasiswa tersebut sebelumnya sempat berhadapan dengan proses hukum karena upayanya mendesak keterbukaan informasi atas peristiwa yang merenggut ratusan nyawa warga sipil.
Pengumuman pemberhentian ini disampaikan secara formal melalui surat resmi universitas, tepat beberapa minggu sebelum jadwal kelulusannya yang seharusnya berlangsung pada Maret mendatang. Pihak universitas menegaskan bahwa tindakan ini diambil berdasarkan aturan internal yang berlaku bagi seluruh civitas akademika.
1. Miles Kwan ditahan polisi usai desak investigasi korupsi kasus kebakaran

Miles Kwan, seorang mahasiswa ilmu politik berusia 24 tahun, ditahan selama dua malam oleh polisi keamanan nasional pada akhir November 2025. Penahanan tersebut dilakukan atas tuduhan niat menghasut setelah ia membagikan selebaran di luar stasiun kereta api Tai Po Market yang menyerukan penyelidikan independen terhadap kebakaran hebat di Wang Fuk Court. Otoritas keamanan menganggap tindakan Kwan sebagai upaya untuk merongrong stabilitas pemerintah di wilayah tersebut setelah terjadinya bencana besar.
Kwan secara spesifik menuntut pembentukan komite investigasi yang dipimpin oleh hakim untuk menyelidiki potensi korupsi dalam sertifikasi keselamatan bangunan serta pengawasan konstruksi. Namun, pihak kepolisian menyatakan bahwa aktivitas tersebut berisiko memicu ketidakpuasan publik yang berbahaya dan mengeksploitasi tragedi kemanusiaan untuk kepentingan agenda politik tertentu.
Dalam sebuah wawancara dengan media, Kwan mengecam langkah pihak universitas yang dianggap menggunakan status akademis sebagai alat penekan politik. Ia menegaskan bahwa integritas pribadinya tidak dapat ditukar dengan pengakuan formal dari lembaga pendidikan.
"Sangat memalukan bagi The Chinese University of Hong Kong (CUHK) untuk menggunakan sertifikat kelulusan guna menekan mantan mahasiswanya. Anda dapat mengambil kualifikasi saya, tetapi anda tidak dapat mengambil martabat saya," kata Kwan, dilansir Channel News Asia.
2. CUHK resmi berhentikan Miles Kwan akibat pelanggaran disiplin internal

CUHK secara resmi mengakhiri status kemahasiswaan Miles Kwan pada Kamis (12/2/2026) akibat sejumlah pelanggaran disiplin internal. Keputusan ini tetap diberlakukan meskipun Kwan sebenarnya telah menyelesaikan seluruh persyaratan akademik dan dijadwalkan lulus pada Maret 2026 mendatang. Berdasarkan kebijakan universitas, seorang mahasiswa akan menghadapi pemberhentian studi otomatis jika menerima tiga poin pelanggaran disiplin atau demerit.
Kwan menerima poin pelanggaran tersebut karena dianggap menghina otoritas institusi dengan menyebut komite disiplin sebagai "panel kanguru" dan "aib". Selain itu, pihak universitas juga mempertimbangkan catatan dakwaan perusakan kriminal pada tahun 2023 terkait aksi penempelan stiker peringatan peristiwa Tiananmen di lampu jalan. Pihak universitas dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa seluruh mahasiswa wajib mematuhi kode etik yang berlaku tanpa kecuali demi menjaga standar perilaku di lingkungan kampus.
Dalam penjelasannya kepada media, Kwan mengungkapkan bahwa pihak universitas tidak memberikan penalti langsung atas penangkapannya oleh polisi keamanan nasional pada November 2025. Fokus utama proses disiplin tersebut justru tertuju pada sikap dan perilaku Kwan selama persidangan internal yang dinilai tidak menghormati lembaga. Hingga saat ini, pihak universitas memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai rincian kasus individu tersebut guna menjaga kerahasiaan proses hukum dan disiplin yang sedang berjalan.
3. Skandal korupsi dan kelalaian konstruksi picu tragedi kebakaran mematikan di Wang Fuk Court

Kebakaran di kompleks perumahan Wang Fuk Court tercatat sebagai bencana kebakaran gedung hunian paling mematikan di dunia sejak 1980. Tragedi ini merenggut 168 nyawa, mulai dari bayi berusia enam bulan hingga warga senior berusia 98 tahun, serta menghanguskan tujuh dari delapan menara apartemen yang ada. Investigasi otoritas menemukan bahwa api menyebar dengan sangat cepat akibat penggunaan jaring nilon pelindung dan papan styrofoam yang tidak memenuhi standar ketahanan api pada gedung yang sedang direnovasi.
Temuan tersebut memicu penangkapan 16 orang atas dugaan pembunuhan tidak berencana, serta 14 orang lainnya oleh badan anti-korupsi terkait praktik suap dalam proyek renovasi tersebut. Sekretaris Keamanan Hong Kong, Chris Tang, secara resmi menyatakan bahwa jaring pelindung di lokasi tersebut telah gagal memenuhi uji standar keselamatan.
Kasus ini juga menyoroti peran kontraktor dalam ekosistem pembangunan, di mana perusahaan tersebut diketahui masih memegang kontrak di 28 lokasi pembangunan lainnya meski terbukti menggunakan bahan berbahaya. Investigasi berkelanjutan oleh Komisi Independen Melawan Korupsi (ICAC) terhadap individu yang diduga terlibat dalam manipulasi material bangunan memberikan dasar faktual bagi kekhawatiran yang disuarakan oleh Miles Kwan. Hal ini memperkuat tuntutan publik terhadap pemerintah dan otoritas setempat untuk melakukan tinjauan menyeluruh terhadap sistem pengawasan konstruksi di seluruh kota.


















