Meksiko Sebut Dua Kapal Bantuan Menuju Kuba Hilang

- Angkatan Laut Meksiko melakukan pencarian dua kapal bantuan, Friendship dan Tigger Moth, yang hilang saat menuju Kuba membawa sembilan awak dan berbagai pasokan kemanusiaan.
- Kedua kapal merupakan bagian dari inisiatif Nuestra America Convoy yang mengirim bantuan ke Kuba di tengah krisis energi akibat embargo ketat Amerika Serikat.
- Sembilan awak berasal dari Polandia, Prancis, Kuba, dan AS; sementara situasi politik memanas setelah Presiden Donald Trump mempertimbangkan pengambilalihan Kuba di tengah embargo bahan bakar.
Jakarta, IDN Times - Angkatan Laut Meksiko mulai melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah Karibia pada Kamis (26/3/2026), setelah dua perahu layar yang membawa bantuan kemanusiaan ke Kuba dilaporkan hilang.
Perahu layar Friendship dan Tigger Moth, yang membawa sembilan awak, berangkat dari Pulau Mujeres di negara bagian Quintana Roo, Meksiko, pekan lalu. Berdasarkan jadwal, kedua perahu tersebut seharusnya tiba di ibu kota Kuba, Havana, pada Selasa atau Rabu (24-25/3/2026), tapi hingga kini tidak ada komunikasi apa pun dari awak kapal.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut Meksiko mengimbau para pelaut dan otoritas maritim di wilayah tersebut untuk melaporkan setiap informasi atau penampakan yang relevan. Pihaknya juga menyatakan telah mengerahkan pesawat untuk menyisir rute antara Isla Mujeres dan Havana.
1. Perahu tersebut merupakan bagian dari konvoi bantuan ke Kuba

Dua perahu layar yang hilang tersebut merupakan bagian dari “Nuestra America Convoy”, sebuah inisiatif nonpemerintah yang bertujuan mengirimkan bantuan penting ke Kuba. Negara Karibia ini telah dilanda krisis energi dan ekonomi parah setelah Amerika Serikat (AS) menerapkan embargo ketat terhadap minyak dan berbagai barang lainnya.
Dilansir The Straits Times, para relawan di Meksiko memuat perahu-perahu tersebut dengan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, kacang-kacangan, susu formula, tisu bayi, serta obat-obatan. Salah satu perahu dari konvoi tersebut dilaporkan berhasil tiba di Havana pada Selasa.
2. Awak kapal berasal dari empat negara berbeda

Dilansir dari BBC, sembilan awak kapal tersebut berasal dari Polandia, Prancis, Kuba, dan AS. Meksiko mengatakan telah menjalin komunikasi dengan pusat koordinasi penyelamatan maritim dari masing-masing negara, bersama dengan perwakilan diplomatik mereka.
“Para kapten dan awak kapal adalah pelaut berpengalaman, dan kedua kapal dilengkapi dengan sistem keselamatan serta peralatan sinyal yang memadai,” kata juru bicara Nuestra America Convoy.
Ia menambahkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang dan tetap yakin bahwa awak kapal mampu mencapai Havana dengan selamat.
3. Trump pertimbangkan kemungkinan untuk mengambil alih Kuba

Relawan dan LSM telah memelopori upaya pengiriman bantuan kemanusiaan ke Kuba sejak Januari 2026, ketika Presiden AS, Donald Trump, memberlakukan embargo bahan bakar terhadap negara tersebut. Sejak saat itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan adanya kekurangan pasokan yang serius, dengan lebih dari 50 ribu operasi di Kuba terpaksa dibatalkan akibat keterbatasan pasokan listrik.
Pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanan terhadap Kuba sejak pasukan AS menangkap mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari. Sebelumnya, Venezuela memasok minyak dalam jumlah besar ke Kuba, yang merupakan sekutu regionalnya.
Pekan lalu, Trump sempat mempertimbangkan kemungkinan pengambilalihan Kuba, yang disebutnya sebagai sebuah kehormatan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernández de Cossío, menegaskan bahwa sistem politik Kuba tidak untuk dinegosiasikan. Sementara itu, Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyatakan bahwa tahap awal perundingan antara AS dan Kuba telah dimulai, meski perkembangan proses tersebut belum jelas.


















