Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dugaan Eksploitasi Anak oleh WNA Jepang, Kemen PPPA: Kekerasan Serius

Dugaan Eksploitasi Anak oleh WNA Jepang, Kemen PPPA: Kekerasan Serius
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi bicara pencegahan kekerasan seksual di lokasi bencana banjir. (IDN Times/Amir Faisol)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kemen PPPA menegaskan penanganan kasus dugaan eksploitasi seksual anak oleh WNA Jepang harus mengutamakan kepentingan terbaik korban dan mencegah trauma berulang selama proses hukum berlangsung.
  • Pemerintah menyiapkan pendampingan komprehensif bagi korban, mencakup layanan psikologis, kesehatan, serta dukungan reintegrasi sosial sesuai amanat undang-undang perlindungan anak.
  • Kemen PPPA mendorong kerja sama lintas pihak termasuk Interpol untuk mempercepat penyelidikan, menemukan korban, dan memperkuat bukti digital dalam pengungkapan kasus tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengatakan, kasus penanganan kasus dugaan eksploitasi seksual anak oleh WNA Jepang di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, merupakan kekerasan serius yang berdampak panjang terhadap keselamatan dan masa depan anak.

"Anak sebagai korban berada dalam posisi rentan terhadap bujuk rayu, tekanan, dan manipulasi, serta berpotensi mengalami dampak jangka panjang secara fisik, psikologis, sosial, dan mental emosional, termasuk trauma, gangguan relasi sosial, hambatan pendidikan, hingga masalah adiksi. Karena itu, anak harus mendapatkan perlindungan, penanganan, dan pemulihan yang menyeluruh serta berperspektif korban,” kata dia, dikutip Selasa (19/5/2026).

1. Penanganan harus hindari trauma berulang

Dugaan Eksploitasi Anak oleh WNA Jepang, Kemen PPPA: Kekerasan Serius
Kampanye Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) tentang laki-laki harus dilibatkan dalam memerangi kekerasan perempuan. (lakilakibaru.or.id)

Kemen PPPA menilai proses penanganan perkara harus menghindari reviktimisasi atau trauma berulang selama pemeriksaan berlangsung. Pemerintah juga mengingatkan media dan masyarakat untuk tidak menyebarluaskan identitas korban demi menjaga proses pemulihan psikologis anak.

“Pemberitaan kasus yang melibatkan anak tetap memperhatikan etika perlindungan anak. Penyebaran foto, video, identitas, maupun informasi lain yang dapat mengungkap identitas korban berpotensi menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan dan menghambat pemulihan korban. Oleh karena itu, seluruh pihak, termasuk media massa dan masyarakat, memiliki tanggung jawab menjaga kepentingan terbaik bagi anak,” ujar dia.

2. Siap berikan pendampingan komprehensif korban

Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak (IDN Times)
Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak (IDN Times)

Kemen PPPA menyatakan siap memberikan pendampingan komprehensif bagi korban. Mulai dari layanan psikologis, kesehatan, hingga dukungan reintegrasi sosial sesuai amanat Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

3. Dorong kerja sama dengan Interpol

Ilustrasi kekerasan perempuan. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi kekerasan perempuan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Kemen PPPA meminta penyelidikan difokuskan pada penemuan korban dan penguatan bukti digital dengan melibatkan kerja sama lintas pihak, termasuk Interpol.

“Kemen PPPA juga mendorong kepolisian mempercepat penyelidikan dengan fokus pada penemuan korban sebagai saksi serta bekerja sama dengan Interpol dan pihak terkait lainnya dalam pengungkapan data dan informasi digital sebagai alat bukti yang sah,” kata dia.

4. Pelaku kerap ke Jakarta cari korban

Ilustrasi pelecehan dan kekerasan Perempuan (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi pelecehan dan kekerasan Perempuan (IDN Times/Arief Rahmat)

Media sosial X belakangan dihebohkan dengan adanya dugaan tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak yang melibat seorang oknum warga negara asing (WNA) asal Jepang. Pelaku disebut sering terbang ke Jakarta untuk mencari korban anak kecil demi kebutuhan orientasi seksualnya sambil direkam.

"Ada cowok Jepang pedofil sering ke Jakarta nyariin anak kecil untuk seks sambil direkam," tulis pengguna akun X @SisterInDanger seperti dikutip IDN Times, Selasa (12/5/2026).

Pengguna akun juga menyampaikan, pelaku semula sempat diringkus pihak kepolisian dalam penggerebekan yang dilakukan pada 15 Agustus 2025 silam. Namun, polisi justru membebaskan terduga pelaku tersebut

Dia mengatakan, pelaku dalam kasus ini tidak hanya satu orang karena pedofil dari Jepang terus berdatangan ke Jakarta untuk mencari korban anak-anak lainmya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More