Pernah Tugas di UNIFIL, Menteri Iftitah Ungkap Cara TNI Rebut Hati Warga Lebanon

- Iftitah Sulaiman mengenang masa tugasnya di misi UNIFIL Lebanon tahun 2006, saat ia naik pangkat dari letnan satu menjadi kapten dan bertugas selama satu tahun penuh.
- Pasukan UNIFIL Indonesia menciptakan mobil perpustakaan keliling serta berinteraksi ramah dengan warga Lebanon sebagai strategi membangun kepercayaan dan hubungan baik melalui program Civic Military Cooperation.
- Iftitah menyaksikan langsung pengorbanan prajurit UNIFIL dari berbagai negara yang gugur akibat serangan dan ranjau, menegaskan pentingnya perdamaian di wilayah konflik tersebut.
Jakarta, IDN Times - Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengenang kembali momen 20 tahun lalu ketika ia masih bertugas sebagai prajurit TNI. Saat masih berpangkat letnan satu, Iftitah ditugaskan untuk kali pertama ke misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Ia bersama dua politikus lainnya dari Partai Demokrat menjadi pasukan TNI gelombang pertama yang dikirim bertugas ke Lebanon. Dua prajurit TNI lainnya yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ossy Darmawan.
"Jadi, ketika saya berangkat (pangkat) masih letnan satu. Tapi di sana saya naik pangkat menjadi kapten," ujar Iftitah ketika berbincang di program Real Talk with Uni Lubis pada Sabtu (11/4/2026) dan tayang di YouTube.
Ia mengenang, berangkat menuju ke Pelabuhan Beirut dengan menumpang kapal kargo berbendera Amerika Serikat (AS) dari Jakarta pada 4 November 2006. Iftitah merupakan satu dari 850 prajurit TNI yang saat itu dikirim bertugas untuk misi UNIFIL.
"Jadi tugas saya mengawal logistik batalion mekanis agar tiba dengan selamat sampai di Lebanon. Rute yang ditempuh mulai dari Jakarta, melewati Selat Malaka, lalu menuju ke perairan Somalia, lalu ke Terusan Suez dan tiba di Beirut," tutur dia.
Ia bertugas di Lebanon selama satu tahun. Durasi tersebut menjadi yang terlama. Biasanya durasi penugasan kontingen Garuda di Lebanon maksimal hanya sembilan bulan.
1. Tugas Iftitah menjaga makam yang diperebutkan Israel dan Lebanon

Hal menarik yang disampaikan oleh Iftitah yakni salah satu tugasnya di UNIFIL adalah menjaga situasi kondusif di area makam yang diperebutkan oleh warga Israel dan Lebanon. Lokasi makam tersebut terbelah dua dan dipisahkan oleh pagar.
"Kenapa makamnya dibelah dua karena masing-masing pihak mengklaim sebagai makamnya mereka dengan orang yang berbeda. Jadi, kalau Lebanon itu adalah makam Syekh Abbad yang meninggal 500 tahun yang lalu. Sementara dari sisi Israel, itu adalah makam Rabbi Assy yang meninggal 1.500 tahun yang lalu," katanya.
Namun, Iftitah melihat dari sudut pandang personel militer, wajar bila lokasi makam itu menjadi rebutan. Sebab, lokasi makam berada di wilayah yang tinggi.
"Lokasi makam yang cukup tinggi menyebabkan ada ruang untuk manuver maupun tembakan yang cukup bagi siapapun yang menguasai bukit itu. Di militer, kami menyebutnya medan kritik," tutur dia.
Iftitah kemudian melakukan serah terima pengamanan dengan pasukan asal Spanyol. Tetapi, pasukan UNIFIL asal Spanyol itu memberikan aturan tidak tertulis agar pasukan UNIFIL tak membawa senjata ketika berpatroli ke area makam.
"Alasan Spanyol agar tidak membuat tensi dengan pasukan Israel (IDF). Jadi, jangan sampai kita dianggap membuat provokasi," katanya.
Iftitah juga menyebut, sebagai pasukan UNIFIL mereka menjalankan mandat chapter 6.5 PBB. Artinya, meskipun mereka pasukan penjaga perdamaian tetapi dibolehkan membawa senjata untuk membela diri.
2. Pasukan UNIFIL Indonesia inisiasi mobil perpustakaan keliling

Iftitah juga menceritakan strategi yang digunakan oleh pasukan UNIFIL asal Indonesia untuk membangun hubungan baik dengan warga Lebanon yang berada dekat markas. Kebijakan itu disebut Civic Military Cooperation (CMI). Pasukan UNIFIL asal India berinisiatif membantu membuatkan kaki palsu bagi warga Lebanon.
Sementara, Iftitah dan AHY kemudian mencetuskan ide penggunaan mobil pintar yang sudah diinisiasi oleh Ani Yudhoyono di Tanah Air.
"Jadi, kami buat satu mobil. Kami desain. Ada teknologi digitalnya, buku-buku, permainan dan sebagainya," kata Iftitah.
Ia mengatakan, anak-anak dari warga sekitar harus disentuh hatinya supaya berempati terhadap pasukan UNIFIL asal Indonesia. Usai mereka menggunakan fasilitas mobil perpustakaan keliling itu, diharapkan anak-anak tersebut akan menceritakan kembali ke orang tuanya.
"Orang tuanya kan akan memiliki semacam penerimaan kepada kita," tutur dia.
Strategi kedua untuk mengambil hati warga Lebanon yakni ketika berpatroli, kontingen Garuda tidak mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka akan melewati dengan kecepatan pelan sambil menyapa warga sekitar.
"Ternyata itu menyentuh hati mereka," imbuhnya.
3. Banyak prajurit UNIFIL gugur saat bertugas

Lebih lanjut, Iftitah mengatakan, salah satu hikmah mendalam usai ditugaskan selama 12 bulan di Lebanon yakni agar tidak ada lagi peperangan. Ia menyebut, selama satu tahun bertugas di sana, Iftitah melihat sendiri sejumlah prajurit UNIFIL gugur akibat terkena serangan.
"Ada satu prajurit UNIFIL dari Prancis gugur karena terkena ranjau. Saya ikut mengantar jenazahnya ketika itu," kata Iftitah.
Kemudian, peristiwa tragis menimpa kontingen UNIFIL asal Spanyol. Pada hari Minggu mereka menerima medali kehormatan PBB karena keesokan harinya akan kembali ke negara asal.
"Tetapi Minggu sore mereka kena bom dan enam prajurit meninggal dunia. Jadi itu cukup mengejutkan dan kami semua turut berbela sungkawa," tutur dia.

















