Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Populasi Warga Jepang Turun Jadi di Bawah 120 Juta Jiwa
Bendera Jepang (unsplash.com/Roméo A.)
  • Jumlah warga negara Jepang di dalam negeri turun menjadi 119,74 juta per 1 Januari 2026, pertama kali di bawah 120 juta, melanjutkan penurunan selama 17 tahun.
  • Fertilitas Jepang mencapai rekor terendah 1,14 pada 2025, dengan sekitar 670 ribu kelahiran; kondisi ini mengurangi tenaga kerja produktif dan meningkatkan beban jaminan sosial.
  • Tokyo menjalankan aplikasi jodoh AI TOKYO Enmusubi; hingga Juni 2026, 265 dari 760 pasangan yang serius telah menikah untuk mendorong angka pernikahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jumlah warga negara Jepang yang tinggal di dalam negeri menyusut menjadi 119,74 juta jiwa per 1 Januari 2026. Data Kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang pada Rabu (29/7/2026) mencatat angka ini sebagai yang pertama kalinya berada di bawah 120 juta jiwa.

Penurunan populasi ini mencerminkan tantangan demografi Jepang yang terus berlanjut, terutama akibat rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi lanjut usia. Pemerintah setempat pun menyiapkan berbagai kebijakan untuk menekan dampaknya terhadap perekonomian dan pasar tenaga kerja.

1. Tren penurunan populasi warga asli dan lonjakan penduduk asing

Data pemerintah menunjukkan jumlah warga negara Jepang di dalam negeri turun 0,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi selama 17 tahun berturut-turut sejak populasi mencapai puncaknya pada 2009.

Di sisi lain, jumlah penduduk asing di Jepang justru mencatatkan rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2013. Jika digabungkan dengan warga asing, total populasi Jepang saat ini mencapai sekitar 123,8 juta jiwa.

Berdasarkan data Bank Dunia, Jepang memiliki populasi dengan usia rata-rata tertua kedua di dunia setelah Monako, yaitu 49,9 tahun. Kondisi ini makin mempertegas fenomena penuaan penduduk yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

2. Rekor terendah angka kelahiran mengancam tenaga kerja

Data pemerintah yang rilis pada Juni lalu menunjukkan angka fertilitas Jepang merosot ke level 1,14 pada 2025. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam sejarah pencatatan, dengan jumlah kelahiran turun hampir 15 ribu menjadi sekitar 670 ribu bayi.

Capaian ini menandai sepuluh tahun berturut-turut penurunan angka fertilitas di Jepang. Angka kelahiran tahunan tersebut juga menjadi yang terendah sejak data mulai dicatat pada 1899.

Anjloknya angka kelahiran berimbas pada berkurangnya pasokan tenaga kerja usia produktif. Di samping itu, pemerintah juga dihadapkan pada membengkaknya beban jaminan sosial dan menyusutnya penerimaan pajak negara.

3. Penggunaan aplikasi jodoh berbasis AI untuk mendorong pernikahan

Guna memicu peningkatan angka pernikahan, Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan aplikasi pencari jodoh berbasis kecerdasan buatan bernama TOKYO Enmusubi pada September 2024.

Hingga 30 Juni 2026, aplikasi ini memiliki sekitar 16 ribu anggota aktif dari 36 ribu pendaftar. Program tersebut telah mempertemukan 760 pasangan yang menjalin hubungan serius, dengan 265 pasangan di antaranya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.

"Saya menerima lamarannya pada akhir Desember lalu," kata seorang pengguna aplikasi berinisial Turtle, dikutip dari WE News English.

Pemerintah Tokyo berharap inisiatif ini dapat menaikkan angka pernikahan sekaligus menjadi salah satu solusi mengatasi penurunan populasi yang tengah melanda negara tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article