Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pertama Kali dalam 42 Tahun, Populasi Jepang Anjlok di Bawah 120 Juta

Pertama Kali dalam 42 Tahun, Populasi Jepang Anjlok di Bawah 120 Juta
Potret Shibuya Crossing di Tokyo, Jepang. (pixabay/uniquedesign52)
Intinya Sih
  • Populasi warga Jepang per 1 Januari 2026 turun menjadi 119.736.483 jiwa, pertama kali di bawah 120 juta dalam 42 tahun dan penurunan terbesar sejak 1968.
  • Kelahiran mencapai rekor rendah 670.467, sementara kematian 1.593.475; penurunan alami lebih dari 923 ribu jiwa memperbesar risiko kekurangan tenaga kerja, beban sosial, dan penyusutan pajak.
  • Populasi warga asing naik 353.696 menjadi rekor 4.031.159 jiwa, seiring pembukaan tenaga kerja internasional; total populasi Jepang tetap turun 563.048 menjadi 123.767.642 jiwa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jumlah warga negara Jepang turun di bawah angka 120 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 42 tahun. Berdasarkan data resmi Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi yang dirilis pada Rabu (29/7/2026), populasi warga lokal tercatat berada di angka 119.736.483 jiwa per 1 Januari 2026. Penurunan drastis ini menggarisbawahi krisis demografis berkepanjangan yang dihadapi oleh perekonomian terbesar keempat di dunia tersebut.

Secara statistik, jumlah penduduk lokal mengalami penyusutan sebanyak 916.744 jiwa atau 0,76 persen, dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi penurunan terbesar dan terparah sejak pencatatan data sebanding dimulai pada 1968. Tren negatif ini menandai penurunan populasi warga negara Jepang selama 17 tahun berturut-turut sejak mencapai titik puncaknya pada 2009 yang melampaui 127,07 juta jiwa, dilansir NHK News.

1. Krisis populasi dan ancaman krisis tenaga kerja

Ilustrasi pekerja konstruksi. (unsplash.com/Eric Wang)
Ilustrasi pekerja konstruksi. (unsplash.com/Eric Wang)

Krisis demografis ini semakin diperparah oleh rekor terendah angka kelahiran berbanding lonjakan kematian. Sepanjang tahun lalu, Jepang hanya mencatat sekitar 670.467 kelahiran menjadi angka terendah dalam sejarah pencatatan modern sejak 1899. Sebaliknya, jumlah kematian melonjak hingga 1.593.475 jiwa, sehingga menghasilkan rekor penurunan populasi alami sebesar lebih dari 923 ribu jiwa dalam kurun waktu satu tahun.

Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kesuburan total di Jepang kembali merosot ke titik terendah baru, yaitu 1,14 turun 0,01 dari tahun sebelumnya. Penurunan yang terjadi selama 10 tahun berturut-turut ini memicu situasi darurat nasional. Krisis populasi tersebut secara langsung berdampak pada ancaman kekurangan tenaga kerja akut, membengkaknya beban anggaran jaminan sosial, dan menyusutnya basis pajak nasional.

2. Jumlah penduduk asing yang tinggal di Jepang melonjak

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)

Kyodo News melaporkan, di tengah penurunan jumlah warga negara Jepang, populasi warga asing justru meningkat untuk tahun keempat berturut-turut. Jumlahnya naik 353.696 orang menjadi rekor 4.031.159 jiwa, atau 9,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi pertama kalinya melampaui angka 4 juta jiwa sejak pencatatan dimulai pada 2013. Hal ini didorong oleh gelombang kedatangan pekerja dari luar negeri.

Lonjakan penduduk asing ini terjadi seiring langkah strategis pemerintah Jepang yang secara bertahap membuka pintu bagi tenaga kerja internasional demi mengisi kekosongan tenaga kerja domestik. Mayoritas mereka berada di usia produktif, dengan kelompok usia 25-29 tahun dan menjadi demografi terbesar yang menyumbang sekitar 17,7 persen dari total keseluruhan warga asing di negara tersebut.

Peningkatan jumlah penduduk asing ini tersebar secara merata di berbagai daerah, dengan prefektur Hokkaido mencatatkan tingkat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,89 persen. Disusul oleh Okinawa sebesar 14,36 persen dan Oita sebesar 13,90 persen. Tokyo juga menjadi prefektur dengan persenatase penduduk asing tertinggi, mencapai 5,57 persen. Lonjakan ini banyak didorong oleh kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata, industri, serta kawasan resor populer seperti di Kutchan, Hokkaido.

Jika digabungkan secara keseluruhan termasuk penduduk asing, total populasi Jepang per Januari 2026 berada di angka 123.767.642 jiwa. Angka akumulasi ini menunjukkan penurunan bersih sekitar 563.048 jiwa atau 0,45 persen dari tahun sebelumnya.

3. Rendahnya angka kelahiran dan tantangan masa depan ekonomi Jepang

Suasana di Shibuya, Tokyo, Jepang. (unsplash.com/Jezael Melgoza)
Suasana di Shibuya, Tokyo, Jepang. (unsplash.com/Jezael Melgoza)

Berdasarkan wilayah, Tokyo menjadi satu-satunya prefektur yang mencatat pertumbuhan jumlah warga negara Jepang, naik 0,09 persen. Ibu kota Jepang ini juga tetap menjadi prefektur dengan populasi terbesar mencapai lebih dari 14 juta jiwa. Untuk total populasi, pertumbuhan hanya terjadi di Tokyo, Chiba, dan Osaka, sedangkan 44 prefektur lainnya mengalami penurunan.

Meski pemerintah telah menjalankan berbagai kebijakan, guna meningkatkan angka kelahiran, hasilnya belum terlihat. Dengan usia rata-rata penduduk mencapai 49,9 tahun, Jepang kini memegang status sebagai negara dengan populasi tertua kedua di dunia setelah Monako. Tanpa adanya intervensi kebijakan yang lebih agresif untuk mendongkrak angka kelahiran, serta mengoptimalkan integrasi tenaga kerja asing, tantangan struktural ini diproyeksikan akan terus membayangi masa depan ekonomi Jepang dalam jangka panjang, dilansir The Japan Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More