Jakarta, IDN Times - Akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Shofwan Al Banna Choiruzzad mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar lebih berhati-hati ketika memberikan pernyataan di ruang publik, khususnya yang menyinggung negara sahabat. Terbaru, Prabowo menyinggung Iran yang disebutnya sudah memiliki senjata nuklir ketika bertemu dengan pengusaha Kadin pusat dan daerah seluruh Indonesia di Istana Negara pada Jumat, 31 Juli 2026. Menurut Shofwan, tuduhan bahwa Iran mengembangkan nuklir untuk menjadi senjata pemusnah massal sampai saat ini belum terbukti.
"Iran secara konsisten menyatakan program penganiayaan uraniumnya diperuntukan bagi listrik dan kebutuhan medis radioisotop. Pemimpin tertinggi Iran pun sudah mengeluarkan fatwa keagamaan yang melarang pengembangan dan penggunaan senjata pemusnah massal," ungkap Shofwan kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Sabtu (1/8/2026).
Hal itu diperkuat dengan adanya laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penilaian intelijen Amerika Serikat (AS) yang mencatat bahwa meskipun Iran meningkatkan kadar pengayaan uranium hingga 60 persen dan membatasi kerja sama inspeksi tertentu, tetapi belum ada bukti yang terverifikasi bahwa Iran telah mengambil keputusan politik untuk merakit hulu ledak nuklir. Penilaian itu sudab berlangsung sejak 2003 lalu.
Ia menambahkan narasi bahwa Iran memiliki senjata nuklir kerap disebar oleh Israel dan Negeri Paman Sam. Narasi itu pula yang dipakai untuk melakukan serangan ilegal terhadap Iran.
"Alhasil, dampak dari serangan ilegal itu menyebabkan kekecauan di kawasan dan berdampak pada ekonomi global," tutur pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Hubungan Internasional (HI) UI itu.
