Prabowo Sebut Negara Teluk Kini Ingin Punya Senjata Nuklir

- Presiden Prabowo Subianto menyebut eskalasi konflik global meningkat, dengan klaim Iran telah memiliki senjata nuklir dan Saudi Arabia berkeinginan memilikinya.
- Prabowo menilai perang Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 2022 berpotensi lebih lama daripada Perang Dunia I maupun Perang Dunia II karena belum ada perdamaian.
- Ia juga menyoroti konflik Gaza, Israel-Amerika-Iran hingga Selat Hormuz, perang saudara Myanmar, serta ketegangan Thailand-Kamboja di kawasan yang diharapkan damai.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengatakan, konflik global sudah semakin mengalami peningkatan. Bahkan, kata Prabowo, sejumlah negara teluk kini ingin memiliki senjata nuklir.
"Sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir," ujar Prabowo dalam pertemuan dengan pengurus Kadin Pusat dan Daerah di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
"Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir," sambungnya.
Prabowo kemudian memprediksi perang Ukraina dengan Rusia akan lebih lama dari Perang Dunia I dan II. Sebab, hingga kini perang tersebut belum berdamai.
"Di benua Eropa perang besar. Perang besar ini di Ukraina ini sudah lebih lama dari Perang Dunia Pertama. Ah ini mungkin akan lebih lama dari Perang Dunia Kedua. Perang Dunia Kedua mulai September 1939 habis itu '40, '41, '42, '43 habis itu pertengahan Mei '45, jadi 5 tahun atau 4, 4 tahun setengah," ucap dia.
Prabowo mengatakan, Perang Ukraina dengan Rusia mulai tahun 2022 dan hingga kini, perang tersebut masih berlangsung.
Mantan Menteri Pertahanan itu juga menyinggung perang di Gaza, Palestina dengan Israel juga masih belum damai. Kini, perang juga terjadi antara Israel, Amerika dan Iran yang merembet ke Selat Hormuz.
"Di kita pun yang kita tidak duga-duga, yang kita anggap ASEAN adalah zona perdamaian, terjadi perang di Myanmar, berkecamuk perang saudara dengan belasan atau puluhan milisi-milisi bersenjata didukung oleh negara-negara lain. Sahabat-sahabat kita Thailand dan Kamboja juga pertempuran yang juga masih penuh dengan ketegangan, kita terus berusaha untuk mendukung upaya-upaya perdamaian," kata dia.

















