Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pentagon Sebut Biaya Perang AS di Iran Capai Rp507 triliun

Pentagon Sebut Biaya Perang AS di Iran Capai Rp507 triliun
pesawat tempur AS (U.S. Navy photo by Photographer's Mate 3rd Class Todd Frantom., Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pentagon melaporkan biaya perang AS di Iran mencapai 29 miliar dolar AS atau sekitar Rp507 triliun, meningkat 4 miliar dolar dari estimasi sebelumnya.
  • Pejabat Pentagon menepis kekhawatiran soal stok amunisi, menegaskan pasokan senjata masih mencukupi meski laporan menunjukkan penggunaan rudal meningkat tajam.
  • AS belum memiliki rencana jangka panjang di Iran; Presiden Trump menolak gencatan senjata dan militer menyiapkan opsi eskalasi maupun penarikan pasukan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon merilis perkiraan baru terkait biaya perang di Iran. Total biaya yang telah dihabiskan pemerintah dilaporkan mencapai 29 miliar dolar AS (sekitar Rp507 triliun).

Angka ini meningkat sebesar 4 miliar dolar AS (sekitar Rp67 triliun) dibandingkan perkiraan sebelumnya pada akhir April. Pejabat keuangan Pentagon, Jules Hurst, memaparkan laporan tersebut di hadapan anggota parlemen pada Selasa (12/5/2026).

1. Estimasi belum mencakup biaya perbaikan pangkalan dan dampak ekonomi

personel militer AS di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi
personel militer AS di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi (Senior Airman Giovanni Sims, Public domain, via Wikimedia Commons)

Hurst menjelaskan peningkatan pengeluaran ini bersumber dari biaya perbaikan peralatan dan pemeliharaan pasukan di Timur Tengah. Namun, perhitungan tersebut rupanya belum mencakup anggaran perbaikan pangkalan militer AS yang rusak akibat serangan Iran.

Beberapa pakar menilai beban finansial yang ditanggung pembayar pajak AS jauh lebih besar berdasarkan laporan Pentagon. Mereka berargumen, dampak perang terhadap perekonomian domestik, seperti lonjakan inflasi, belum dimasukkan ke dalam hitungan.

Anggota DPR AS, Ro Khanna, menyebut konflik ini bisa merugikan ekonomi negara hingga 631 miliar dolar AS (sekitar Rp11 kuadriliun). Menurut estimasi Khanna, perang di Iran telah membebani setiap rumah tangga AS hingga 5 ribu dolar AS (sekitar Rp87 juta) akibat kenaikan harga pangan dan bahan bakar.

Ekonom dari Universitas Harvard, Linda Bilmes, bahkan memberikan proyeksi yang lebih fantastis. Ia memprediksi total kerugian AS akibat perang ini bisa menyentuh angka 1 triliun dolar AS (sekitar Rp17,4 kuadriliun).

2. Pentagon tepis kekhawatiran mengenai stok amunisi AS

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sejumlah anggota parlemen mulai mencecar Pentagon terkait kemampuan militer AS dalam menjaga pasokan senjata. Namun, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menepis kekhawatiran tersebut saat bersaksi di hadapan komite.

"Persoalan amunisi ini telah dibesar-besarkan secara bodoh dan tidak membantu. Kami tahu persis apa yang kami miliki dan kami punya banyak pasokan yang dibutuhkan," ujar Hegseth, dilansir Al Jazeera.

Sebelumnya, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melaporkan bahwa militer AS telah menghabiskan banyak rudal mahal. Washington disebut telah menggunakan separuh stok pencegat rudal THAAD dan Patriot, serta 45 persen pasokan rudal presisi.

Analisis tersebut menyimpulkan bahwa persediaan rudal AS saat ini masih sangat cukup untuk melanjutkan perang. Meski begitu, tingkat pemakaian ini dinilai akan membawa risiko bagi peperangan di masa depan.

3. Pentagon siapkan beberapa opsi untuk perang di Iran

Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela
Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela (Official White House Photo by Molly Riley, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pentagon belum merinci rencana jangka panjang AS di kawasan tersebut. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump baru saja menolak proposal gencatan senjata baru dari Iran.

Trump memandang jeda pertempuran yang sedang berlangsung saat ini sangat lemah dan berada di ujung tanduk. Di tengah situasi yang belum pasti, militer AS mengaku telah menyiapkan berbagai opsi tindakan.

"Kami memiliki rencana untuk melakukan eskalasi jika memang diperlukan. Kami juga punya rencana untuk mundur atau memindahkan aset ke tempat lain," tutur Hegseth, dilansir The New York Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More