Comscore Tracker

AS Tuding China Terus Menindas Muslim Uighur

China dinilai contoh mencolok tentang penindasan 

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken, pada 2 Juni 2022, memberikan pidato dalam acara Laporan Kebebasan Beragama Internasional. Dalam acara tersebut, Blinken menyebut China melanjutkan genosida dan penindasan terhadap etnis Uighur yang mayoritas muslim.

Duta Besar AS untuk kebebasan beragama internasional, Rashad Hussain, juga mengatakan bahwa China adalah contoh mencolok dalam penindasan terhadap warganya. Beijing dianggap terus menindas kelompok etnis dan agama minoritas lainnya.

Baca Juga: Data dan Foto Xinjiang Bocor, Perlihatkan Kaum Uighur yang Ditahan

1. Lebih dari satu juta orang dari etnis dan agama minoritas ditindas di China

AS Tuding China Terus Menindas Muslim UighurAntony Blinken (Twitter.com/Secretary Antony Blinken)

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memberikan nukilan tentang beberapa kemajuan kebebasan beragama internasional di banyak negara dari laporan tahun 2021 yang disampaikan saat ini. Dalam pidatonya, Blinken menganggap kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia dan prioritas kebijakan luar negeri yang vital. 

"Ketika pemerintah menyangkal hak ini, itu memicu ketegangan, menabur perpecahan, seringkali mengarah pada ketidakstabilan dan konflik," katanya dikutip dari laman resmi pemerintah.

Blinken mengatakan ada banyak kabar baik tentang kemajuan kebebasan beragama. Tapi dia juga mengutip beberapa kabar buruk tentang hal itu, dan salah satu contoh yang Blinken ungkapkan terjadi di China.

"China melanjutkan genosida dan penindasannya terhadap Uighur yang mayoritas Muslim dan kelompok minoritas agama lainnya. Sejak April 2017, lebih dari 1 juta orang Uighur, etnis Kazakh, Kirgistan, dan lainnya telah ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang," ucap Blinken.

Baca Juga: Tiba di China, PBB Akan Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM di Xinjiang

2. China dinilai contoh mencolok tentang penindasan

Dalam konferensi pers, Duta Besar AS untuk kebebasan beragama internasional, Rashad Hussein, juga menilai bahwa pemerintah Bejing melanjutkan penindasan terhadap warganya.

"Tidak mengherankan bahwa Republik Rakyat China adalah contoh mencolok di sini," katanya kepada wartawan dilansir Al Jazeera.

"Pemerintah China terus melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap warga Uighur, yang mayoritas Muslim, dan anggota kelompok etnis dan agama minoritas lainnya," tambahnya.

China sejak lama dituduh membangun kamp penahanan di Xinjiang untuk etnis minoritas Uighur. Mereka menyebutnya sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk mengekang terorisme, separatisme dan radikalisme agama. Beijing menolak tuduhan telah melakukan pelecehan dan genosida, mengecamnya sebagai serangan fitnah terhadap pemerintahannya.

Baca Juga: Muslim Uighur di Turki Tuntut Pidana Pejabat China, Tuduhan Genosida

3. Pemimpin komunitas Uyghur menyambut baik dukungan AS

AS Tuding China Terus Menindas Muslim UighurProtes menentang penindasan etnis Uyghur. (twitter.com/Voice of Uyghur)

Presiden Kongres Uighur Dunia di Jerman, Dolkun Isa, menilai bahwa komentar Hussain dan Blinken telah menunjukkan bahwa AS mendukung muslim Uighur. Dia juga akan meminta China bertanggungjawab atas genosida etnis Uighur.

"Kata-kata mereka yang kuat harus mendorong komunitas internasional untuk bertindak guna mengakhiri genosida Uighur. China ingin membasmi Islam karena percaya Islam adalah kanker. China melakukan genosida terhadap orang-orang Uighur justru karena kami adalah muslim," kata Isa dikutip dari RFA.

Eksekutif direktur Kampanye untuk Uighur, Rushan Abbas, menyambut baik komentar dari Antony Blinken.

"Kata-kata Blinken mengungkapkan kepada dunia bahwa China seperti pakaian baru kaisar, bersembunyi di balik kebohongan," kata Abbas.

Belum ada komentar langsung dari pemerintah China tentang laporan AS.

Priyadi Saja Photo Verified Writer Priyadi Saja

Petani Kata

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya