Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rumah Sakit Penuh, Korban Luka di Gaza Terpaksa Berbaring di Lantai

Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Mohammed Abu Selmia, direktur Kompleks Medis Al-Shifa di Gaza, menjelaskan bahwa rumah sakit di wilayah tersebut kini beroperasi dengan kurang dari 1 persen dari kebutuhan nyata sektor kesehatan.
  • Di sebuah balkon sempit milik departemen keperawatan di Rumah Sakit Al-Ahli Baptist, Gaza tengah, Adam al-Sousi terbaring di atas selimut tipis yang digelar di lantai.
  • Korban tewas akibat kelaparan bertambah menjadi 317 orang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sektor kesehatan di Jalur Gaza telah mencapai tahap kehancuran total akibat serangan dan blokade Israel yang terus berlangsung. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa jumlah pasien di rumah sakit telah melonjak hingga 300 persen, sehingga banyak yang terpaksa di rawat lantai karena keterbatasan tempat tidur.

“Kami mengira rumah sakit adalah tempat teraman setelah ada korban cedera, namun sekarang rumah sakit telah menjadi medan perang… tidak ada tempat tidur, tidak ada obat, tidak ada ruang,” kata Mahmoud Abu Salim, yang terbaring di atas selimut usang di lantai koridor Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Pemuda berusia 27 tahun itu ditembak kakinya oleh tentara Israel saat menunggu kedatangan truk bantuan di Gaza utara beberapa hari lalu.

Pemandangan di dalam rumah sakit juga mencerminkan bencana kemanusiaan yang parah. Unit gawat darurat dan rawat inap kini beroperasi hingga tiga kali lipat dari kapasitas normal, koridor dipenuhi korban luka, sementara halaman rumah sakit dialihfungsikan menjadi ruang gawat darurat sementara. Di tengah kelangkaan obat-obatan dan pasokan medis, para dokter dan perawat tetap berusaha memberikan perawatan terbaik bagi pasien.

"Saya merasa seperti hanya menjadi angka di antara deretan panjang korban luka, tetapi saya menghargai apa yang dilakukan para dokter, mereka bekerja melampaui batas kemampuan mereka. Seorang dokter bahkan berkata kepada saya: 'Jika kami memiliki 100 ranjang tambahan, semuanya akan terisi dalam waktu kurang dari satu jam'," tambah Abu Salim.

Situasi serupa juga terjadi di rumah sakit lainnya yang masih beroperasi di Gaza. Dari 38 rumah sakit yang ada sebelum perang, kini hanya 16 yang masih berfungsi sebagian. Sisanya telah ditutup akibat serangan langsung Israel.

1. Ribuan pasien terancam meninggal akibat krisis pasokan medis

Mohammed Abu Selmia, direktur Kompleks Medis Al-Shifa di Gaza, menjelaskan bahwa rumah sakit di wilayah tersebut kini beroperasi dengan kurang dari 1 persen dari kebutuhan nyata sektor kesehatan. Ia menyebutkan bahwa terdapat kekurangan lebih dari 60 persen obat-obatan dan pasokan medis, sementara stok yang tersisa diperkirakan akan habis dalam hitungan hari.

“Persediaan antibiotik kami sudah habis, sehingga infeksi semakin parah, luka banyak yang membusuk, dan para dokter semakin sering terpaksa melakukan amputasi karena tidak adanya perawatan yang memadai. Bahkan, stok darah dan perlengkapan laboratorium hampir tidak ada lagi,” ungkapnya kepada The New Arab.

Kondisi di bangsal anak pun tak kalah memprihatinkan, di mana empat bayi terpaksa di tempatkan di dalam satu unit inkubator. Selain itu, kelaparan terus menyebabkan kematian baru setiap harinya.

"Jika situasi ini terus berlanjut, ribuan pasien dan korban luka yang sebenarnya bisa diselamatkan akan kehilangan nyawa hanya karena ketiadaan obat-obatan dan makanan tidak ada. Dan jika ancaman Israel untuk menyerang Kota Gaza – rumah bagi hampir satu juta orang – dilakukan, kita akan menyaksikan pembantaian terbesar di zaman modern, tepat di depan mata dunia,” tambahnya.

2. Tenaga medis bekerja keras sejak awal perang

Di sebuah balkon sempit milik departemen keperawatan di Rumah Sakit Al-Ahli Baptist, Gaza tengah, Adam al-Sousi terbaring di atas selimut tipis yang digelar di lantai. Remaja 14 tahun itu terluka setelah pecahan bom Israel yang menghantam kawasan Al-Zeitoun menembus perut dan kakinya.

"Sejak anak saya terluka, saya tidak pernah meninggalkannya sedetik pun. Saya tidur di sampingnya di lantai, memberinya air minum, dan menopang kepalanya ketika ia kesakitan. Saya mencoba memindahkannya ke ranjang di dalam ruang perawatan, tetapi para dokter mengatakan itu tidak mungkin, ranjang sangat terbatas dan hanya untuk pasien kritis yang berjuang melawan maut," kata sang ibu yang menemaninya.

Issam al-Ar’eer, seorang perawat di rumah sakit tersebut, menuturkan bahwa para tenaga medis telah bekerja tanpa kenal lelah sejak awal perang. Ia sendiri kerap bertugas lebih dari 18 jam non-stop tanpa istirahat.

"Yang paling menyakitkan bagi saya adalah melihat pasien dan korban luka meninggal di depan mata, bukan hanya karena parahnya cedera mereka, tetapi karena kami tidak memiliki sarana untuk menyelamatkan mereka. Dengan hati nurani yang jernih, saya bisa mengatakan bahwa lebih dari 50 persen dari mereka yang kami kehilangan setiap hari sebenarnya bisa diselamatkan jika kami memiliki peralatan medis paling dasar," ujarnya.

3. Korban tewas akibat kelaparan bertambah menjadi 317 orang

Kementerian Kesehatan Gaza, pada Kamis (28/8/2025), melaporkan bahwa empat orang kembali meninggal akibat kekurangan gizi dan kelaparan. Dengan demikian, total angka kematian terkait kelaparan di wilayah tersebut sejak dimulainya perang bertambah menjadi 317 orang, termasuk 121 anak-anak.

“Pemandangan di lapangan cukup memilukan. Keluarga masih mengantri di depan dapur umum selama berjam-jam di bawah terik panas, seringkali kembali ke tempat penampungan sementara dengan tangan kosong. Yang lain mempertaruhkan hidup mereka untuk melakukan perjalanan ke titik distribusi untuk mencari bantuan makanan,” kata Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 62.900 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah terbunuh akibat serangan militer Israel di Gaza. Perang tersebut telah menghancurkan wilayah itu dan membuat mayoritas dari sekitar dua juta warganya mengungsi.

Sementara itu, Israel belum memberikan tanggapan publik atas penerimaan Hamas terhadap proposal gencatan senjata terbaru yang memungkinkan pemulangan sebagian sandera sandera Israel. Namun, para pejabat menegaskan bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan yang mencakup pembebasan seluruh sandera dan penyerahan diri Hamas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us