Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rumor Kudeta Berujung 2 Jenderal Dicopot, Militer China Terguncang

Band Militer China (commons.wikimedia.org/Mil.ru)
Band Militer China (commons.wikimedia.org/Mil.ru)
Intinya sih...
  • PLA dalam kekacauan, kepemimpinan CMC kosong.
  • Rumor kudeta dan perebutan kekuasaan di militer China.
  • Masa depan militer China terutama terkait dengan tekanan terhadap Taiwan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Struktur kepemimpinan tertinggi Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA) tengah berada dalam kondisi guncang. Pembersihan dua jenderal paling senior, Zhang Youxia dan Liu Zhenli, memicu tanda tanya besar mengenai stabilitas internal militer China dan dampaknya terhadap kemampuan tempur Negeri Tirai Bambu.

Zhang Youxia, yang berusia 75 tahun, sebelumnya menjabat Wakil Ketua Central Military Commission (CMC), lembaga paling berkuasa yang mengendalikan seluruh angkatan bersenjata China di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. Sementara Liu Zhenli merupakan salah satu perwira paling senior yang masih aktif.

Pembersihan ini membuat CMC—yang biasanya terdiri dari sekitar tujuh orang—kini hanya menyisakan dua anggota, yakni Xi Jinping sendiri dan Jenderal Zhang Shengmin. Kondisi ini dinilai belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern China.

Langkah tersebut tidak hanya memperlihatkan eskalasi kampanye antikorupsi di tubuh militer, tetapi juga memunculkan kekhawatiran serius mengenai kekosongan kepemimpinan, ketegangan internal, serta implikasinya terhadap ambisi strategis China, termasuk potensi konflik di kawasan seperti Taiwan.

1. PLA dinilai dalam kekacauan

ilustrasi militer China
ilustrasi militer China (pexels.com/Flávia Vicentini)

Central Military Commission memiliki kewenangan penuh atas jutaan personel militer China. Sejarah mencatat, pada era Deng Xiaoping di tahun 1980-an, CMC bahkan menjadi satu-satunya posisi kekuasaan yang ia pegang selama bertahun-tahun.

Kini, dengan hanya dua anggota tersisa, para pengamat menilai situasi ini sangat tidak lazim. Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal bahaya bagi stabilitas militer China.

“PLA saat ini berada dalam kekacauan. Ada kekosongan kepemimpinan yang besar di tubuh militer China,” kata Morris dikutip dari BBC, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, situasi ini berpotensi melemahkan kendali Presiden Xi atas angkatan bersenjata. “Ini jelas tampilan yang buruk bagi Xi Jinping, baik dari sisi kepemimpinan maupun kontrolnya terhadap PLA,” ujarnya.

Menurut Morris, pembersihan beruntun ini menimbulkan ketidakpastian di level elite dan membuka ruang bagi gesekan internal yang dapat berlangsung bertahun-tahun ke depan.

2. Rumor kudeta hingga perebutan kekuasaan

Militer China di pangkalan pelatihan Shenyang di Tiongkok, 24 Maret 2007. (commons.wikimedia.org/public domain free to use)
Militer China di pangkalan pelatihan Shenyang di Tiongkok, 24 Maret 2007. (commons.wikimedia.org/public domain free to use)

Pernyataan resmi pemerintah China hanya menyebut Zhang dan Liu tengah ‘dalam penyelidikan’ atas dugaan pelanggaran serius disiplin dan hukum, istilah yang lazim digunakan sebagai eufemisme untuk kasus korupsi.

Namun, para analis menilai ada lebih dari sekadar isu korupsi. Associate Professor Chong Ja Ian dari National University of Singapore menyebut beredar spekulasi luas di kalangan elite dan publik.

“Spekulasinya sangat beragam, mulai dari kebocoran rahasia nuklir ke Amerika Serikat, rencana kudeta, konflik faksi internal, bahkan rumor baku tembak di Beijing,” ujar Chong.

Ia menegaskan, meski penyebab pastinya belum jelas, pembersihan ini menunjukkan dua hal penting. “Xi tetap tak tergoyahkan, namun keterbatasan informasi di Beijing justru memicu ketidakpastian dan spekulasi liar,” katanya.

Editorial harian militer PLA Daily bahkan menyiratkan vonis bersalah sebelum proses hukum selesai. Media tersebut menulis, kedua jenderal telah mengkhianati kepercayaan Partai dan merusak Central Military Commission.

3. Masa depan militer China

Bendera China sedang berkibar.
potret bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pengamat juga menyoroti dampak strategis dari pembersihan ini, terutama di tengah meningkatnya tekanan Beijing terhadap Taiwan. Zhang Youxia diketahui sebagai salah satu dari sedikit jenderal PLA yang memiliki pengalaman tempur nyata. Kedekatan personal Zhang dengan Xi Jinping, di mana ayah mereka pernah berjuang bersama sebagai revolusioner, justru memperkuat kesan tak ada satu pun elite yang benar-benar aman dari pembersihan politik.

Menurut Morris, meski Xi kembali menegaskan kekuasaannya, harga yang harus dibayar cukup mahal. “Akan ada gejolak signifikan di PLA. Gesekan ini tidak akan selesai dalam waktu singkat,” ujarnya.

Sementara itu, Chong menilai ambisi China terhadap Taiwan tidak akan surut. “Pembersihan ini tidak mengubah ambisi China untuk menguasai Taiwan. Itu sepenuhnya bergantung pada Partai Komunis dan Xi secara pribadi,” katanya.

Namun, ia menambahkan, dampaknya akan terasa pada tingkat operasional. “Tanpa profesional militer yang kuat atau dengan perwira yang bekerja dalam ketakutan, keputusan eskalasi terhadap Taiwan akan semakin terpusat pada Xi, preferensi, dan nalurinya,@ tutur Chong.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

CEK FAKTA: Terpidana Korupsi Rahmat Effendi Bebas Bersyarat

29 Jan 2026, 06:00 WIBNews