Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Setop Serangan di Hormuz, AS-Iran Bakal Kembali ke Meja Perundingan

Setop Serangan di Hormuz, AS-Iran Bakal Kembali ke Meja Perundingan
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)
Intinya Sih
  • AS dan Iran sepakat menghentikan sementara serangan di Teluk serta melanjutkan perundingan terkait Selat Hormuz untuk menyelamatkan perjanjian damai sementara yang sempat terancam gagal.
  • Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap kapal dan pangkalan militer, namun kedua pihak tetap berencana melanjutkan pembahasan nota kesepahaman 14 poin di Qatar pada 1 Juli 2026.
  • Selat Hormuz menjadi fokus utama negosiasi karena penting bagi jalur energi global, sementara konflik regional masih berlangsung meski diplomasi antara AS dan Iran kembali dibuka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menghentikan sementara aksi saling serang di kawasan Teluk serta melanjutkan kembali perundingan terkait sengketa Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut diumumkan seorang pejabat AS dan menjadi upaya menyelamatkan perjanjian damai sementara yang sebelumnya sempat terancam gagal.

Menurut pejabat tersebut, kedua negara akan kembali membahas implementasi nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin yang disepakati pada 17 Juni lalu, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional.

“Pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut untuk seluruh poin dalam nota kesepahaman. Kedua belah pihak akan menghentikan aksi militer untuk sementara dan kapal-kapal dapat kembali melintas dengan bebas,” kata pejabat AS tersebut.

Media Axios melaporkan perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Qatar pada Selasa (1/7/2026), setelah beberapa hari terakhir kawasan kembali memanas akibat aksi saling serang antara kedua negara.

1. Konflik kembali memanas usai kapal diserang

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Upaya diplomasi sempat terganggu setelah sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz pada Kamis (26/6/2026). Insiden itu memicu saling tuding antara Washington dan Teheran yang sama-sama menuduh pihak lawan melanggar gencatan senjata sementara.

Ketegangan meningkat ketika Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu dini hari. Serangan itu terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila tidak mematuhi kesepakatan damai.

“Mungkin akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan kami akan dipaksa menyelesaikan secara militer apa yang telah kami mulai dengan sangat berhasil. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!” tulis Trump melalui media sosial, dilansir dari Channel News Asia, Senin (29/6/2026).

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, serangan terbaru AS telah melanggar gencatan senjata dan akan mengakibatkan seluruh proses diplomatik dihentikan sepenuhnya. Meski demikian, seorang pejabat AS mengatakan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar di fasilitas militer AS akibat serangan Iran.

2. Negosiasi tertunda, Iran soroti isi kesepakatan

ilustrasi fans Timnas Iran
ilustrasi fans Timnas Iran (unsplash.com/Hadi Yazdi Aznaveh)

Perjanjian damai sementara yang dicapai pada 17 Juni bertujuan menghentikan konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz sembari pembahasan mengenai sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran, terus berlangsung.

Namun Iran membatalkan pembicaraan teknis yang sedianya digelar pada Minggu. Salah satu alasan yang disampaikan Teheran adalah sejumlah poin dalam MoU dinilai belum dijalankan oleh pihak AS.

“Salah satu alasannya adalah memeriksa apakah kami sudah memperoleh akses terhadap dana yang dibekukan. Jika belum ada akses, berarti syarat tersebut belum dipenuhi,” kata anggota Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Tertinggi Iran, Mehdi Fazaeili, kepada televisi pemerintah.

Sebelumnya, pejabat tinggi kedua negara sempat bertemu di Swiss melalui mediasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Washington juga telah melonggarkan sebagian sanksi terhadap Teheran sebagai bagian dari proses tersebut.

3. Selat Hormuz jadi kunci stabilitas kawasan

Peta Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Selat Hormuz menjadi salah satu fokus utama dalam negosiasi karena merupakan jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Selama konflik berlangsung, aktivitas pelayaran di kawasan itu terganggu setelah Iran membatasi akses di jalur tersebut.

Di tengah proses diplomasi, Israel juga kembali melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Militer Israel menyebut serangan menyasar infrastruktur bawah tanah milik kelompok tersebut.

Sementara itu, Bahrain melaporkan sebuah bangunan permukiman di Provinsi Muharraq mengalami kerusakan akibat serangan Iran, meski tidak ada korban jiwa. Pemerintah Bahrain kemudian mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat untuk meminta pertanggungjawaban Iran.

Meski ketegangan belum sepenuhnya mereda, kesepakatan penghentian sementara permusuhan dan rencana dimulainya kembali negosiasi di Qatar menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terus diupayakan oleh kedua negara.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More