CEK FAKTA: Benarkah Ceramah Jusuf Kalla Menistakan Ajaran Kristen?

- Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi atas dugaan penistaan agama setelah potongan video ceramahnya tentang konflik Poso dan Ambon viral di media sosial.
- Juru bicara JK menegaskan bahwa ceramah tersebut bukan menjelaskan ajaran teologi, melainkan menggambarkan realitas sosiologis saat konflik bernuansa agama terjadi di Poso dan Ambon.
- Husain Abdullah menjelaskan bahwa inti ceramah JK adalah pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak yang bertikai, namun video yang beredar telah dipotong dan diberi narasi menyesatkan.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penistaan agama. Laporan ini terkait ceramah pria yang akrab disapa JK yang diviralkan di media sosial terkait konflik Poso dan Ambon pada masa lalu.
“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti,” kata JK, dalam video yang viral di media sosial X.
Akibat pernyataan itu, JK dituduh memfitnah, bahkan menistakan ajaran Kristen. Bahkan, beberapa akun menambahkan narasi bahwa JK telah berbohong, karena "Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh", dengan merujuk pada ajaran kasih dalam Kristen.
Lalu, apakah benar JK menistakan ajaran kristen?
1. JK tidak sedang menjelaskan ajaran teologi agama

Setelah ditelusuri lebih jauh, video yang beredar di media sosial tersebut, ternyata merupakan hasil pemotongan konteks atau context cutting dari ceramah JK secara utuh.
Juru bicara JK, Husain Abdullah, menegaskan potongan video tersebut diambil dari ceramah JK di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut Husain, dalam ceramah tersebut, JK tidak sedang menjelaskan ajaran teologi agama, melainkan menggambarkan realitas sosiologis yang terjadi saat konflik komunal di Poso dan Ambon pada awal era reformasi.
“Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai pada saat kerusuhan Poso dan Ambon. Atau realitas sosiologis saat terjadi konflik. Bukan pendapat pribadi Pak JK,” kata Husain kepada IDN Times, Senin (13/4/2026).
2. JK meluruskan pemahaman kelompok yang bertikai

Husain menjelaskan, pada realitasnya saat itu kedua pihak yang berkonflik menggunakan jargon agama untuk saling membunuh. Pemahaman mereka, baik Islam maupun yang Kristen, jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga.
Karena itu, konflik Poso dan Ambon disebut konflik bernuansa SARA yang sulit dihentikan. Memakan korban jiwa ribuan orang.
“Untuk mengatasinya, kata Pak JK saat ceramah di UGM, pemahaman kelompok yang bertikai ini harus diluruskan. Karena keduanya telah melakukan kekeliruan menyimpang dari ajaran agama,” kata Husain.
Oleh karena itu, JK dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan membunuh orang tak bersalah dalam konflik tidak dapat dibenarkan agama apapun.
“Maka, Pak JK mengatakan Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian,” ujar Husain.
3. JK sedang memberi gambaran pendekatan dalam mendamaikan kedua pihak

Husain menegaskan, ceramah JK bukanlah pendapat pribadi, tetapi realitas sosial saat itu yang berkembang di antara mereka yang saling berkonflik.
“Pak JK menyampaikan lesson learned. Mengisahkan pendekatan yang ia lakukan ketika hendak mendamaikan pihak yang bertikai di Poso maupun di Ambon, dengan terlebih dahulu mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik,” ujarnya.
Oleh karena itu, Husain menyayangkan terkait laporan yang dilayangkan ke Polda Metro Jaya. Sebab, inti ceramah JK adalah semacam pembelajaran bagaimana mendamaikan dua pihak yang bertikai.
“Sebelum melaporkan, sebaiknya mengkaji sebaik baiknya konten yang sedang viral. Karena terpotong dan diberi narasi yang melenceng dari substansinya,” ujar dia.
Berdasarkan cek fakta tersebut, ceramah JK di UGM viral di media sosial karena dipotong, dan ditambah narasi yang menuduh JK menistakan agama Kristen.
Padahal, berdasarkan penjelasan Husain, JK saat itu sedang memberikan pemahaman terkait dengan mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bertikai.
Kesimpulannya, video viral di media sosial adalah benar ceramah JK. Namun, potongan ceramah JK dipenggal dan dilepaskan dari konteks aslinya.
















