Iran Ancam Tutup Jalur Perdagangan di Teluk jika Blokade AS Berlanjut

- Iran mengancam menutup jalur perdagangan di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah sebagai respons atas blokade laut Amerika Serikat yang dianggap melanggar gencatan senjata.
- Blokade AS memaksa enam kapal komersial berbalik arah dan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar Rp1,7 juta per barel sebelum akhirnya stabil kembali.
- Pakistan mulai menyiapkan perundingan putaran kedua antara AS dan Iran di Islamabad untuk meredakan ketegangan dan mencari jalan keluar dari konflik yang telah menewaskan ribuan orang.
Jakarta, IDN Times - Militer Iran mengancam akan menghentikan arus ekspor dan impor di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah sebagai respons terhadap blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pihaknya mengatakan, blokade ilegal tersebut menciptakan ketidakamanan bagi kapal komersial dan tanker minyak Iran, serta dianggap sebagai awal pelanggaran gencatan senjata yang disepakati pekan lalu.
“Angkatan bersenjata kuat Republik Islam tidak akan mengizinkan ekspor maupun impor terus berlangsung di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah,” kata komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi pada Rabu (15/4/2026), dikutip dari DW.
Ia menegaskan bahwa Iran akan mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan kepentingan dan kedaulatan nasionalnya.
1. Ada 6 kapal komersial dipaksa putar balik oleh pasukan AS pada hari pertama blokade

AS menerapkan blokade laut di sekitar pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026), dengan melibatkan lebih dari 10 ribu personel gabungan dari angkatan laut, marinir, dan angkatan udara. Blokade ini dilakukan setelah perundingan langsung antara kedua belah pihak di Pakistan pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS, Donald Trump, berharap upaya ini dapat memaksa para pejabat di Teheran untuk menerima persyaratan Washington untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran.
Dilansir dari The Straits Times, militer AS mengatakan bahwa blokade tersebut hanya berlaku bagi kapal yang masuk atau keluar dari dari Iran. Kelonggaran diberikan bagi pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, pasokan medis, dan barang-barang penting lainnya, dengan syarat kapal-kapal tersebut harus melewati pemeriksaaan.
Pada Rabu, militer AS mengatakan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade pada hari pertama. Sebanyak enam kapal komersial dipaksa berbalik arah di Laut Oman.
2. Harga minyak dunia sempat melonjak hingga Rp1,7 juta per barel

Dilansir dari Al Jazeera, Abas Aslani, peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah di Teheran, mengatakan bahwa warga Iran yakin AS kini mengisyaratkan dimulainya kembali perundingan damai untuk meredam dampak blokade terhadap pasar minyak global.
Menurut laporan, harga minyak sempat melonjak hingga melampaui 100 dolar AS (sekitar Rp1,7 juta) per barel sebelum kemudian mereda.
"Teheran menganggap blokade tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata, dan hal ini dapat memperumit situasi. Gencatan senjata yang saat ini berlaku sangat rapuh. Kami menunggu untuk melihat bagaimana respons Iran nantinya," kata Aslani.
3. Pakistan mulai persiapkan perundingan putaran kedua AS-Iran

Dilansir dari Anadolu, Pakistan telah memulai persiapan untuk kemungkinan perundingan putaran kedua antara AS dan Iran di ibu kota, Islamabad, untuk mengakhiri perang.
“Persiapan sudah dimulai kemarin (Selasa), khususnya untuk memastikan pengaturan keamanan yang sangat mudah,” kata sumber pemerintah Pakistan. Mereka memperkirakan pertemuan tersebut akan dimulai pada akhir pekan ini atau awal pekan depan.
Sebelumnya, pada Selasa (14/4/2026), Trump menyampaikan dengan nada optimis terkait kemungkinan dimulainya kembali perundingan langsung antara AS dan Iran. Ia mengatakan bahwa perundingan tersebut bisa dimulai lagi dalam 2 hari ke depan.
“Sesuatu mungkin terjadi dalam 2 hari ke depan, dan kami cenderung menuju ke sana,” kata Trump.
Perang tersebut dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kini telah menewaskan lebih dari 3.300 orang. Teheran pun membalas dengan melancarkan serangan yang menargetkan Israel, Irak, Yordania, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Konflik pun sementara terhenti setelah AS dan Iran, pekan lalu, mengumumkan gencatan senjata selama 2 pekan.

















