Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tak Percaya Ebola, Massa Mengamuk dan Bakar Tenda RS di Kongo

Tak Percaya Ebola, Massa Mengamuk dan Bakar Tenda RS di Kongo
ilustrasi memadamkan kebakaran (unsplash.com/Jay Heike)
Intinya Sih
  • Massa di Rwampara, Kongo, membakar tenda rumah sakit setelah dilarang membawa jenazah korban dugaan Ebola, memicu kekacauan hingga enam pasien sempat melarikan diri.
  • Banyak warga masih tidak percaya keberadaan virus Ebola dan menolak aturan pemakaman khusus, meski jenazah korban dapat menularkan infeksi dengan mudah.
  • WHO mencatat 139 kematian dari 600 kasus dugaan Ebola di DRC, sementara dua kasus juga terdeteksi di Uganda akibat varian langka Bundibugyo yang belum memiliki vaksin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sejumlah warga membakar sebagian area rumah sakit di kota Rwampara, pusat wabah Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC), pada Kamis (21/5/2026). Insiden ini terjadi setelah setelah keluarga dan teman seorang pemuda yang diduga meninggal akibat virus tersebut dilarang membawa jenazahnya untuk dimakamkan.

Dilansir The Straits Times, polisi sempat melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa yang mengamuk di Rumah Sakit Umum Rwampara. Namun, upaya tersebut gagal, dan massa membakar dua tenda berisi delapan tempat tidur sebelum bala bantuan tentara dan polisi tiba untuk mengendalikan situasi. Akibatnya, tenda-tenda tersebut habis terbakar bersama satu jenazah yang rencananya akan dimakamkan pada hari itu.

Enam pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di tenda dilaporkan melarikan diri selama kekacauan tersebut. Namun, organisasi medis Alima kemudian mengatakan bahwa seluruh pasien telah ditemukan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit.

1. Banyak masyarakat tidak percaya terhadap adanya virus Ebola

ilustrasi virus
ilustrasi virus (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Pemuda yang meninggal tersebut merupakan pesepakbola yang pernah bermain untuk beberapa tim lokal dan merupakan sosok yang terkenal di lingkungannya. Ibunya bersikeras bahwa putranya meninggal karena demam tifoid, bukan Ebola.

Politisi setempat, Luc Malembe Malembe, mengatakan bahwa banyak orang masih tidak percaya bahwa virus Ebola, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 130 orang di wilayah timur DRC, benar-benar ada.

“Orang-orang tidak mendapatkan informasi yang memadai atau pemahaman yang cukup tentang apa yang sedang terjadi. Bagi sebagian kelompok masyarakat, terutama di daerah terpencil, Ebola dianggap sebagai rekayasa pihak luar—virus itu tidak ada. Mereka percaya bahwa LSM dan rumah sakit menciptakan hal ini untuk mencari uang, dan ini sangat tragis," katanya kepada BBC.

2. Virus Ebola masih dapat menular dari jenazah

ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)

Jenazah korban Ebola masih dapat menularkan infeksi dengan mudah. Oleh sebab itu, otoritas DRC dan lembaga kesehatan internasional menegaskan bahwa pemakaman harus dilakukan oleh tim khusus yang mengenakan alat pelindung diri. Adapun praktik pemakaman pada umumnya, yang sering melibatkan pencucian dan sentuhan pada jenazah serta dihadiri banyak pelayat, dianggap berisiko tinggi dalam menularkan penyakit.

“Keluarga, teman, dan para pemuda ingin membawa jenazahnya pulang untuk dimakamkan, meskipun instruksi dari otoritas selama wabah Ebola ini sudah jelas. Semua jenazah harus dimakamkan sesuai dengan aturan," kata Jean Claude Mukendi, kepala keamanan publik di provinsi Ituri, dilansir dari Al Jazeera.

Namun, langkah tersebut sering kali dianggap tidak manusiawi oleh pihak keluarga. Mereka juga kerap curiga bahwa petugas kesehatan tidak transparan mengenai apa yang terjadi di dalam pusat perawatan.

3. 139 orang diperkirakan telah meninggal akibat Ebola di DRC

ilustrasi virus
ilustrasi virus (pexels.com/CDC)

Pada Rabu (20/5/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sedikitnya 139 orang di DRC diperkirakan telah meninggal dunia akibat Ebola dari total 600 kasus dugaan virus tersebut. Dua kasus Ebola juga telah terdeteksi di negara tetangga DRC, Uganda. Sebagai respons, otoritas di negara tersebut untuk sementara menghentikan penerbangan, bus, dan seluruh transportasi umum lintas perbatasan.

Wabah ini disebabkan oleh spesies Ebola yang langka, yang dikenal sebagai Bundibugyo. Sejauh ini, belum ada jenis vaksin untuk jenis ini. WHO mengatakan bahwa diperlukan waktu hingga 9 bulan untuk mengembangkan vaksin yang siap digunakan.

Pada Kamis, kelompok pemberontak M23 yang menguasai sebagian wilayah timur DRC mengatakan telah mengonfirmasi kasus pertama Ebola di provinsi Kivu Selatan, yang berjarak ratusan kilometer dari pusat wabah di Ituri. Pria berusia 28 tahun, yang melakukan perjalanan dari Kisangani, disebut meninggal sebelum diagnosisnya dikonfirmasi. Kisangani sendiri adalah kota besar di provinsi Tshopo, di mana tidak ada kasus Ebola yang tercatat sejauh ini.

M23 belum pernah menangani krisis seperti Ebola. Namun, mereka mengatakan akan bekerja sama dengan mitra internasional untuk membendung penyebaran virus tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More