Trump Ingin Ikut Pilih Pemimpin Baru Iran Pengganti Khamenei

- Donald Trump menyatakan ingin terlibat dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran setelah gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, sekaligus menolak pencalonan Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya.
- Trump membandingkan rencananya dengan transisi kekuasaan di Venezuela, berharap menemukan sosok pemimpin Iran yang patuh terhadap kebijakan Washington seperti Delcy Rodriguez.
- Konflik di Iran makin meluas, melibatkan 14 negara dan menimbulkan ribuan korban jiwa akibat serangan udara serta balasan rudal antara pasukan AS-Israel dan militer Teheran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Kamis (5/3/2026), menyatakan keinginannya untuk terlibat dalam pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Pernyataan ini muncul menyusul gugurnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara yang dilancarkan oleh militer AS dan Israel.
Trump menolak gagasan majunya Mojtaba Khamenei sebagai kandidat terkuat penerus sang ayah. Pria berusia 56 tahun tersebut dinilai sebagai sosok yang kurang mampu untuk memimpin negara berpenduduk 92 juta jiwa itu. AS kini berambisi mencari figur pemimpin baru yang lebih dapat diajak bekerja sama.
1. Trump tidak setuju Mojtaba Khamenei pimpin Iran

Mojtaba Khamenei yang digadang-gadang jadi penerus utama justru mendapat penolakan dari Washington. Putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran ini diketahui belum pernah menduduki jabatan publik. Namun, ia punya ikatan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
AS khawatir naiknya ulama garis keras ini malah akan memicu konflik terbuka yang lebih parah dalam lima tahun ke depan. Trump bahkan meragukan kemampuan Mojtaba dalam memimpin Iran.
"Putra Khamenei tidak dapat saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan kedamaian ke Iran," ujar Trump, seperti dikutip dari Axios.
Proses pemilihan penerus Khamenei sebenarnya bagian dari wewenang Majelis Ahli yang berisi 88 ulama senior. Untuk mengganggu proses ini, Israel bahkan sempat mengebom gedung lembaga tersebut di Qom pada Selasa lalu. Namun, otoritas Iran membantah ada pertemuan penting yang sedang berlangsung saat serangan terjadi.
2. AS ingin pemimpin Iran yang patuh seperti di Venezuela

Trump menjadikan transisi kekuasaan di Venezuela sebagai acuan untuk rencananya di Iran. Awal tahun ini, pasukan khusus AS berhasil menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang kemudian dijebloskan ke penjara federal di Brooklyn atas tuduhan konspirasi narkoba.
Operasi kilat tersebut membuka jalan bagi Delcy Rodriguez untuk mengambil alih kursi kepresidenan Venezuela. Sempat menjabat sebagai wakil presiden di bawah Maduro, Rodriguez kini terbukti patuh pada tuntutan Washington. Rezim baru ini bahkan sudah memasok lebih dari 80 juta barel minyak ke AS.
"Saya harus dilibatkan dalam penunjukan ini, seperti halnya dengan Delcy di Venezuela. Mereka sedang membuang-buang waktu," tegas Trump kepada Al Jazeera.
Selain itu, Venezuela di bawah kepemimpinan Rodriguez juga memutus total aliran energinya ke Kuba. Pengamat dari Quincy Institute, Trita Parsi, menilai Trump akan kesulitan mencari figur sepatuh Rodriguez untuk memimpin Iran.
"Dia tidak keberatan jika tokoh simbolis mengambil alih Iran selama orang tersebut menjalankan kebijakan yang disukai Trump, seperti yang telah dilakukan Delcy. Tampaknya dia tidak akan menemukan orang seperti itu di dalam sistem Iran," kata Parsi.
3. Perang di Iran seret belasan negara

Perdebatan tentang kepemimpinan Iran bergulir di perang yang semakin meluas. Perang ini setidaknya telah menyeret keterlibatan 14 negara berbeda. Korban jiwa di pihak Iran diperkirakan sudah menyentuh angka 1.230 orang akibat rentetan serangan AS-Israel.
AS telah melumpuhkan situs peluncuran rudal balistik, fasilitas nuklir, hingga menargetkan para petinggi militer Iran. Selain di darat, Angkatan Laut AS juga menenggelamkan kapal fregat IRIS Dena di Samudra Hindia yang menewaskan sedikitnya 87 awak.
Militer Teheran tak tinggal diam dan balas melancarkan serangan ke pangkalan sekutu AS di kawasan Teluk. Gempuran drone dan rudal balistik Iran menyasar fasilitas penting di Uni Emirat Arab, Qatar, hingga kilang minyak Bahrain yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
"Tandai kata-kata saya. AS akan sangat menyesali perang yang mereka mulai ini," tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dilansir PBS News.



















