Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Klaim Biaya Kerusakan Kapal di Selat Hormuz Ditanggung Iran

Trump Klaim Biaya Kerusakan Kapal di Selat Hormuz Ditanggung Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menjamu Perdana Menteri Irak, Ali Al-Zaidi, di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, Washington D.C., pada 14 Juli 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan bahwa biaya kerusakan kapal akibat serangan di Selat Hormuz semuanya akan ditanggung menggunakan dana dari Iran. Hal itu disampaikan Trump pada Kamis (23/7/2026).

Trump tidak menjelaskan bagaimana AS mendapatkan dana dari Iran untuk memperbaiki kapal yang rusak akibat serangan di Selat Hormuz. Namun, dana tersebut diduga berasal dari miliaran dolar aset Iran yang hingga kini masih dibekukan oleh AS.

“Mohon agar pernyataan ini berfungsi sebagai representasi, hingga pemberitahuan lebih lanjut, bahwa mulai saat ini, semua kerusakan yang terjadi pada kapal, kargo, atau apa pun yang terkait dengannya, akan dibayar dengan uang Iran yang dimiliki dan dikendalikan oleh Amerika Serikat. Kerugian ini mungkin sangat besar. Namun, bagaimanapun juga, ini adalah hal yang adil dan merata untuk dilakukan,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, seperti dikutip Anadolu Agency.  

1. Iran melakukan banyak serangan terhadap kapal di Selat Hormuz

Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz.
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)

Trump mengatakan, mekanisme ini dilakukan untuk meminta tanggung jawab Iran atas kerusakan kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Sebab, sejak kembali berperang dengan AS pada 11 Juli lalu, Teheran dan sekutunya sering melakukan serangan ke kapal yang berlayar di sana. Serangan ini membuat kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. 

Dilansir BBC, serangan terakhir di Selat Hormuz terjadi pada Kamis. Kala itu, milisi Yaman sekaligus sekutu setia Iran, Houthi, melakukan serangan ke dua kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang sedang berlayar di sana. Serangan itu merupakan balasan Houthi karena AS terus melanjutkan agresi militernya terhadap Iran.

2. Sebuah kapal meledak akibat terkena ranjau Iran di Selat Hormuz

Kapal terbakar di laut.
potret sebuah kapal yang terbakar di laut (unsplash.com/Nilantha Ilangamuwa)

Masih pada hari yang sama, satu kapal tanker dilaporkan meledak usai terkena ranjau di sekitar Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengaku pihaknya ada di balik insiden tersebut. Sebab, milisi itu mengatakan sudah menebar banyak ranjau di Selat Hormuz.

“Tiga kapal tanker minyak, yang diprovokasi dan dipancing oleh tentara AS yang membunuh anak-anak, bermaksud melewati rute yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz. Setelah ledakan dan kebakaran hebat di salah satu kapal, dua kapal lainnya dengan cepat berbalik dan kembali,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan dilansir Tasnim News Agency

3. Iran akan tetap menguasai Selat Hormuz

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

Akibat insiden tadi, IRGC menegaskan pihaknya akan tetap menguasai dan menutup Selat Hormuz sampai AS menghentikan serangan ke Iran. IRGC juga mewanti-wanti kapal dari seluruh negara di dunia untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan pasukannya sebelum melintas di Selat Hormuz. Jika tidak, maka serangan akan dilakukan. 

“Angkatan Laut IRGC yang perkasa menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali kami dan sepenuhnya tertutup selama kejahatan Amerika Serikat di kawasan ini berlanjut. Tidak ada kapal tanker minyak yang akan masuk atau keluar. Setiap kapal yang tertipu oleh Amerika Serikat dan berniat untuk melewatinya tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran akan mengalami nasib yang sama,” lanjut IRGC dalam pernyataannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More