Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ragam Cara Gen Z Beradaptasi Menghadapi Teriknya Matahari

3 min read
Ragam Cara Gen Z Beradaptasi Menghadapi Teriknya Matahari
Ilustrasi Cuaca Panas Jakarta. (IDN Times/Sunariyah)
  • Cuaca panas dan kering di Jakarta membuat sejumlah orang menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama saat bekerja atau beraktivitas di luar ruangan.

  • Rachel membawa kipas portable dan lebih sering minum air dingin, sementara Dimas menyiapkan pakaian ganti, handuk, serta minuman dingin.

  • BMKG mencatat suhu maksimum hingga 38,5°C di sejumlah wilayah pada pertengahan Oktober 2026 di tengah minimnya tutupan awan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Cuaca panas yang terasa di Jakarta akhir-akhir ini dikeluhkan sejumlah orang. Mereka sampai perlu beradaptasi untuk menghadapi teriknya matahari di langit Jakarta.

Rachel misalnya. Sales berusia 23 tahun merasa Jakarta belakangan ini memiliki panas yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa udara jauh lebih gerah dari biasanya.

"Panasnya tuh beda, kerasa lebih terik banget dan matahari berasa kaya di atas kepala banget. Keluar sebentar aja udah berasa gerah banget, terus keringetan," ujarnya saat dihubungi IDN Times.

"Apalagi belakangan ini cuacanya cenderung panas dan kering, jadi makin kerasa kalau lagi beraktivitas di luar ruangan," lanjutnya.

  1. 1. Bawa kipas angin portable dan lebih sering minum air dingin

    ilustrasi kipas angin portable (freepik.com/freepik)
    ilustrasi kipas angin portable (freepik.com/freepik)

    Cuaca panas di Jakarta cukup mempengaruhi akivitasnya yang kerap bekerja di luar ruangan. Salah satu caranya beradaptasi adalah dengan membawa kipas angin portable hingga sering minum air mineral dingin.

    "Penyesuaiannya sekarang ke mana-mana bawa kipas portable buat bantu ngasih angin, terus lebih sering minum air putih dingin juga karena jadi gampang haus dan jadi lebih seger. Kalau memungkinkan, gue juga berusaha menghindari aktivitas outdoor pas matahari lagi terik-teriknya sih," jelasnya.

  2. 2. Bawa pakaian ganti dan handuk

    ilustrasi olahraga jalan kaki
    ilustrasi olahraga jalan kaki (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Hal serupa juga dirasakan Dimas. Karyawan swasta yang sehari-hari bekerja di kawasan Jakarta Pusat itu merasa panasnya ibu kota belakangan membuat hari terasa lebih panjang. Ia pun cenderung mengurangi aktivitas di luar ruang ketika masih panas.

    "Kalau lagi mau keluar atau pergi, selama gak buru-buru ya sekarang milih jadi nunggu ademan dulu," ujarnya.

    Dimas juga membawa pakaian ganti dan handuk ketika beraktivitas di luar ruang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi keringat berlebih di tubuhnya.

    "Gue juga bawa pakaian ganti buat jaga-jaga seandainya pakaian yang dipakai itu basah karena keringet dan handuk kecil buat keringet juga," ujarnya.

    "Gue juga lebih sering pesen minuman dingin, semalem es kopi susu atau es coklat. Kalau makan di luar juga selalu minum dingin," lanjutnya.

  3. 3. BMKG sebut cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di Indonesia

    Ilustrasi cuaca panas. (IDN Times/Dhana Kencana)
    Ilustrasi cuaca panas. (IDN Times/Dhana Kencana)

    Berdasarkan data BMKG, kondisi cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026.

    Suhu udara maksimum tercatat mencapai 38,5°C di Jawa Barat serta 38°C di Lampung dan Jawa Tengah pada tanggal 17 Oktober 2026, sementara di Jawa Timur suhu maksimum mencapai 38°C pada tanggal 16 Oktober 2026.

    Kondisi ini berlangsung di tengah minimnya tutupan awan di wilayah Indonesia akibat pengaruh fenomena El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah daerah dapat meningkatkan pemanasan permukaan pada siang hari serta mempercepat pengeringan vegetasi, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More