Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Sebut Perang AS-Iran Hampir Usai, Negosiasi Berlanjut

Trump Sebut Perang AS-Iran Hampir Usai, Negosiasi Berlanjut
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/U.S. Air National Guard)
Intinya Sih
  • Donald Trump menyatakan perang antara AS dan Iran hampir berakhir karena negosiasi damai akan dilanjutkan setelah sebelumnya gagal mencapai kesepakatan.

  • Trump menolak memperpanjang gencatan senjata yang berakhir 22 April, yakin perundingan tahap kedua di Islamabad bisa mengakhiri konflik secara permanen.

  • Negosiasi sebelumnya gagal karena Iran menolak syarat AS untuk menghentikan program senjata nuklir, yang dianggap mengancam stabilitas keamanan global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut perang antara AS dan Iran sudah hampir usai. Sebab, proses negosiasi damai antara AS dan Iran akan dilanjutkan setelah sebelumnya gagal total.

“Saya rasa, ini (perang antara AS dan Iran) sudah hampir berakhir, ya. Saya menganggapnya sudah sangat dekat dengan akhir,” kata Trump saat diwawancara dalam acara Mornings with Maria bersama Fox Business pada Selasa (14/4/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.

1. Trump enggan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran

Orang sedang memegang papan bertuliskan gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Negosiasi perdamaian AS dan Iran dikabarkan bakal berlanjut pada Kamis (16/4/2026) waktu AS atau Jumat (17/4/2026) waktu Indonesia. Sama seperti sebelumnya, segosiasi tersebut juga bakal dilakukan di Islamabad, Pakistan.

Negosiasi tahap ke-2 antara AS dan Iran ini membuat Trump enggan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang akan berakhir pada 22 April mendatang. Sebab, ia yakin bahwa negosiasi tersebut bisa mengakhiri perang di antara kedua negara secara permanen. 

“Saya rasa, Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan. Saya benar-benar yakin,” ujar Trump dilansir Times of Israel.

2. Trump mengaku perundingan bisa kembali gagal

Donald Trump sedang berada di pesawat Air Force One.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Meski begitu, Trump mengaku perundingan damai dengan Iran bisa kembali gagal. Namun, ia tetap optimistis bahwa perundingan damai tahap ke-2 yang akan dilakukan AS dan Iran akan berjalan lancar sehingga bisa menghasilkan perdamaian. 

“Hasilnya bisa apa saja. Namun, saya pikir kesepakatan (perdamaian) lebih baik karena dengan begitu mereka (Iran) bisa membangun kembali,” kata Trump. 

“Mereka benar-benar memiliki rezim yang berbeda sekarang. Apa pun yang terjadi, kita telah menyingkirkan kaum radikal. Mereka sudah pergi, tidak lagi bersama kita. Jika saya bukan presiden, dunia akan hancur berkeping-keping,” lanjutnya.

3. Negosiasi perdamaian sebelumnya gagal karena Iran enggan menerima syarat dari AS

Kegagalan
ilustrasi kegagalan (pexels.com/Ann H)

AS dan Iran sendiri sudah menggelar negosiasi damai di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam pada pekan lalu. Negosiasi ini dilakukan agar perang antara AS dan Iran yang juga melibatkan Israel berakhir permanen. Namun, upaya tersebut gagal. Sebab, AS dan Iran sama-sama belum mencapai kesepakatan damai.  

“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan. Saya pikir, itu merupakan kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Wakil Presiden AS, JD Vance, usai menggelar pertemuan dengan perwakilan Iran.

Dalam pernyataannya, Vance mengatakan, gagalnya negosiasi di Pakistan pekan lalu disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran setuju dengan syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.

Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More