UNGA81 Bahas Gaza hingga AI, Ini yang Perlu Kamu Tahu

UNGA81 mempertemukan pemimpin dan perwakilan dari 193 negara anggota PBB di New York.
Pembahasan mencakup konflik, Gaza, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, HAM, tata kelola digital, dan AI.
High-Level Week memuat Debat Umum serta lima pertemuan tingkat tinggi bertema isu global.
Jakarta, IDN Times - Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) atau United Nations General Assembly (UNGA) menjadi salah satu forum tahunan terbesar untuk membahas berbagai persoalan global. Memasuki sesi ke-81, para pemimpin dan perwakilan 193 negara anggota PBB kembali berkumpul di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat.
UNGA menjadi ruang bagi negara-negara anggota untuk merumuskan kebijakan, melakukan perundingan, berkoordinasi, hingga mengambil keputusan terkait berbagai isu internasional. Pembahasannya mencakup persoalan perdamaian dan keamanan, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia (HAM), hingga tata kelola digital dan kecerdasan buatan (AI).
UNGA81 resmi dibuka pada Selasa, 8 September 2026. Rangkaian High-Level Week (HLW) kemudian berlangsung pada 22-29 September 2026, dengan Debat Umum atau General Debate sebagai salah satu agenda utamanya pada 22-28 September 2026.
Lantas, apa saja yang perlu diketahui mengenai UNGA81 tahun ini? Berikut sejumlah informasi pentingnya.
1. UNGA81 jadi forum 193 negara anggota PBB

potret sidang Majelis Umum PBB (flickr.com/U.S. Department of the Interior via commons.wikimedia.org/U.S. Department of the Interior) Sidang Majelis Umum PBB merupakan salah satu badan utama PBB yang menjadi forum bagi seluruh 193 negara anggotanya. Para negara anggota menggunakan forum ini untuk membahas berbagai persoalan yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama internasional.
Setiap tahun, rangkaian utama UNGA berlangsung di Markas Besar PBB di New York. Sidang secara resmi dibuka pada Selasa di pekan kedua September, sementara rangkaian High-Level Week berlangsung pada pekan keempat September dan menjadi periode dengan aktivitas diplomatik paling padat.
High-Level Week dihadiri kepala negara, kepala pemerintahan, menteri, serta perwakilan tingkat tinggi negara anggota PBB. Salah satu agenda paling dikenal adalah General Debate, ketika para pemimpin dan perwakilan negara menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan global.
Selain menghadiri agenda resmi PBB, negara-negara anggota juga memanfaatkan momentum High-Level Week untuk menggelar pertemuan bilateral dengan negara mitra. Berbagai side event juga diselenggarakan untuk membahas isu tertentu.
Namun, UNGA tidak hanya berlangsung selama High-Level Week. Setelah rangkaian tingkat tinggi selesai, pembahasan berlanjut melalui enam Komite Utama PBB yang menangani kelompok isu berbeda, serta berbagai sesi pleno dan informal hingga periode sidang berikutnya.
2. UNGA81 digelar di tengah konflik dan tantangan global

potret sidang Majelis Umum PBB (commons.wikimedia.org/Basil D Soufi) Sesi ke-81 berlangsung ketika dunia menghadapi sejumlah persoalan yang kompleks. Di antaranya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, situasi yang memburuk di Palestina, terutama Gaza, serta perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
Selain konflik dan keamanan, isu perubahan iklim serta target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang masih tertinggal juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap efektivitas sistem multilateralisme dan reformasi PBB.
Presiden UNGA81, Dr. Khalilur Rahman dari Bangladesh, menetapkan enam prioritas utama untuk kepemimpinannya. Keenam prioritas tersebut mencakup perdamaian dan keamanan, pembangunan berkelanjutan, aksi iklim dan lingkungan, HAM, tata kelola digital dan AI, serta reformasi PBB.
Enam prioritas tersebut kemudian dituangkan dalam tema UNGA81, yakni “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations that Delivers for All” atau memulihkan kepercayaan dan mengelola transformasi menuju PBB yang memberikan hasil bagi semua.
Tema tersebut menempatkan persoalan kepercayaan terhadap multilateralisme dan kemampuan PBB menghasilkan dampak nyata sebagai bagian penting dari pembahasan sesi ke-81.
3. Ada lima pertemuan tingkat tinggi selain debat umum

potret sidang Majelis Umum PBB (commons.wikimedia.org/Yuryi Abramochkin) Selain General Debate, High-Level Week UNGA81 juga diisi lima pertemuan tingkat tinggi yang secara khusus membahas isu tertentu. Pertemuan pertama memperingati 40 tahun Deklarasi Hak atas Pembangunan.
Pertemuan tersebut akan membahas pelaksanaan Deklarasi Hak atas Pembangunan sekaligus mendorong penguatan kerja sama internasional agar setiap orang dan negara dapat berpartisipasi serta memperoleh manfaat pembangunan secara adil.
Agenda tingkat tinggi lainnya membahas ancaman kenaikan permukaan laut. Pertemuan ini menjadi ruang untuk membicarakan dampak kenaikan muka air laut, terutama terhadap negara kepulauan dan wilayah pesisir, termasuk kebutuhan adaptasi, pembiayaan, serta perlindungan masyarakat yang terdampak.
UNGA81 juga menggelar pertemuan mengenai pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi. Agenda ini akan mengevaluasi perkembangan sekaligus mengidentifikasi kesenjangan dalam upaya membangun sistem kesehatan global yang lebih tangguh, setara, terkoordinasi, dan memiliki dukungan pembiayaan berkelanjutan.
Dua pertemuan tingkat tinggi lainnya berkaitan dengan peringatan 25 tahun Deklarasi dan Program Aksi Durban untuk membahas pemberantasan rasisme, diskriminasi rasial, xenofobia, dan intoleransi, serta pertemuan untuk memperingati dan mendorong Hari Internasional untuk Penghapusan Total Senjata Nuklir.
Pertemuan terakhir tersebut akan membahas penguatan komitmen politik terhadap perlucutan senjata nuklir secara menyeluruh dan terverifikasi, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai ancaman kemanusiaan dan keamanan yang ditimbulkan senjata nuklir.
Di luar lima agenda tersebut, High-Level Week UNGA81 juga akan diwarnai berbagai pertemuan mengenai perdamaian dan keamanan, kesehatan, pembangunan ekonomi dan sosial, aksi iklim, Palestina, HAM, tata kelola digital dan AI, serta reformasi PBB.
Sejumlah pertemuan terkait organisasi internasional dan regional, termasuk MIKTA dan G77, serta berbagai side event yang diselenggarakan negara maupun organisasi masyarakat sipil, juga menjadi bagian dari rangkaian agenda UNGA81.




















