WHO Sebut Penyebaran Virus Nipah India Termasuk Rendah

- Dua perawat di Benggala barat terinfeksi virus Nipah
- WHO menyatakan virus Nipah di India berisiko rendah
- India terapkan strategi One Health untuk lawan virus Nipah
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai risiko penyebaran virus Nipah dari India sangat rendah terkait dua kasus yang dikonfirmasi di Benggala Barat. Pada Jumat (30/1/2026), WHO secara resmi menyatakan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan terkait kasus infeksi Nipah tersebut.
Kedua kasus yang ditemukan melibatkan tenaga kesehatan di rumah sakit yang sama di Barasat, North 24 Parganas. Lebih dari 190 kontak yang diidentifikasi telah dites negatif, dan tidak ada kasus tambahan yang terdeteksi hingga saat ini.
1. Dua perawat di Benggala barat terinfeksi virus Nipah
Dua kasus infeksi virus Nipah dikonfirmasi di Distrik North 24 Parganas, Benggala Barat, India, melibatkan dua perawat berusia 20-30 tahun dari rumah sakit swasta di Barasat. Kasus pertama adalah perawat wanita dan kasus kedua perawat pria yang menunjukkan gejala parah sejak akhir Desember 2025.
Kedua pasien mulai dirawat pada awal Januari 2026. Hingga Rabu (21/1/2026), satu pasien menunjukkan perbaikan klinis sementara yang lain masih dalam kondisi kritis. Konfirmasi dilakukan melalui tes RT-PCR dan ELISA di National Institute of Virology, Pune, pada Selasa (13/1/2026) setelah pengujian awal menunjukkan dugaan infeksi virus Nipah.
Otoritas kesehatan India melacak lebih dari 190 kontak dekat, termasuk pekerja kesehatan dan masyarakat umum. Semua tes kontak hingga Selasa (27/1/2026) menunjukkan hasil negatif tanpa kasus baru yang terdeteksi, menurut National Centre for Disease Control India.
2. WHO menyatakan virus Nipah di India berisiko rendah
WHO menilai risiko kesehatan masyarakat akibat virus Nipah di India dengan tingkatan berbeda, yaitu moderat pada level sub-nasional, rendah pada level nasional, regional, dan global. Penilaian ini didasarkan pada tidak adanya bukti peningkatan transmisi antar manusia serta kapasitas kuat India dalam mengelola wabah.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar buah, ditularkan melalui hewan terinfeksi atau makanan terkontaminasi. Periode inkubasi berlangsung 3-14 hari (jarang hingga 45 hari), dengan gejala mulai dari demam ringan hingga ensefalitis fatal yang memiliki tingkat kematian 40-75 persen.
"Risiko pada tingkat nasional, regional, dan global dinilai rendah," ujar Anais Legand, anggota Program Darurat Kesehatan WHO, dilansir NBC News.
Ia menambahkan bahwa dari 190 kontak yang dilacak, tidak ada yang menunjukkan hasil positif atau gejala.
Wabah ini merupakan kejadian Nipah ke-13 di India sejak 2001 dan ketiga di Benggala Barat, dengan India menunjukkan pengalaman kuat melalui sistem pengawasan serta tim respons cepat yang efektif.
3. India terapkan strategi One Health untuk lawan virus Nipah
Pemerintah India dan Benggala Barat menerapkan strategi komprehensif melalui pendekatan One Health untuk mengendalikan wabah virus Nipah. Langkah-langkah ini mencakup pelacakan kontak intensif, peningkatan pengawasan kesehatan masyarakat, edukasi publik yang masif, serta penguatan pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan.
WHO memberikan dukungan teknis melalui komunikasi risiko, pemantauan situasi real-time, dan analisis pola epidemiologi. WHO menegaskan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan internasional karena belum terdeteksi penyebaran lintas batas.
Saran pencegahan utama mencakup menghindari kontak langsung dengan kelelawar buah, merebus sari kurma segar sebelum dikonsumsi, serta mencuci buah-buahan secara menyeluruh. Di fasilitas kesehatan, tenaga medis diwajibkan menggunakan langkah pencegahan standar seperti masker, sarung tangan, dan protokol isolasi untuk menangani kasus dicurigai Nipah.















