Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kecenderungan Politik di Prancis yang Merisaukan

Kecenderungan Politik di Prancis yang Merisaukan
Presiden Prancis, Emannuel Macron ikut mengecam tindakan Israel (EPA-EFE/Mohammed Badra)

Perkembangan politik di Perancis akhir-akhir ini agak merisaukan, karena partai sayap kanan “National Rally” di bawah pimpinan Marine Le Pen, dengan kebijakan politik dan ekonominya yang hanya memikirkan negerinya sendiri, seperti America First-nya Mister
Trump, semakin tampak diminati pemilih yang sangat mungkin menempatkan Marine Le
Pen menjadi Presiden Perancis, menggantikan Francoise Macron. Kerisauan disebabkan
tidak hanya kebijakan politik dan ekonominya yang sangat nasionalis, anti- multilateralism
dan globalisasi, tetapi juga kenyataan bahwa Marine Le Pen sangat awam memimpin
birokrasi pemerintahan.

Kalau hal ini terjadi, dan tetap bercokol, PM Urban di Hongaria, Meloni di Italy, Erdogan di Turki, dan kalau saja di AS Donald Trump kembli menjadi Presiden Amerika, akan lengkaplah sayap pemerintahan sayap kanan di dunia, tentu masih ditambah dengan Presiden Xi Jinping di China dan Vladimir Putin di Russia dan Kim Jong Un di Korea Utara.

Inilah maksud adanya kerisauan terhadap perkembangan politik akhir-akhir ini. Memang belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan membuat suatu asosiasi baru  untuk menyaingi yang sudah ada sekarang, tetapi tentu saja bukan suatu kemustahilan bahwa hal tersebut akan terjadi. Mungkin, menurut perkiraan gampangan saya mereka susah membuat asosiasi, karena kebanyakan leader tidak biasa bekerja sama dengan yang lain, bahkan mungkin ada kecenderungan untuk menjadi otoriter, merasa bisa berdiri sendiri.

Ada kecenderungan lagi pada sejumlah negara-negara lain yang ingin bergabung dengan BRICS, seperti telah diutarakan oleh Malaysia, Laos, dan Thailand, sedangkan Indonesia, menurut pernyataan Menlu Retno Marsudi masih mempelajari untung ruginya bergabung.
Menurut pemikiran saya keuntungan yang akan d dapat dengan menggabungkan diri dalam BRICS tidaklah cukup berarti. Sepengetahuan saya keuntungan utamanya adalah dalam perdagangan antaranggota yang boleh menggunakan mata uang negara masing-masing untuk pembayarannya.

Ini suatu yang menguntungkan karena menghemat cadangan US$ kita, tetapi seluruh negara ASEAN telah mempunyai kesepakatan serupa dengan China, Jepang dan Korea Selatan dalam penggunakan mata uang masing-masing untuk alat pembayaran kewajiban hubungan dagang kita. Jadi kita sudah mempunyai mekanisme ini dengan negara-negara yang hubungan perdagangannya lebih besar daripada negara-negara anggota BRICS yang lain. Ini mengapa saya mengatakan keuntungannya tidak seberapa, jadi mengapa harus menjadi anggota? Kita yang biasa impor beras dari India saja akhir-akhir ini dihentikan karena India memutuskan untuk mengurangi ekspor berasnya. Karena itu saya sulit melihat apa manfaat yang kita peroleh untuk bergabung dengan BRICS, minimal ya belum merupakan prioritas.

Kembali pada perkembangan politik di Perancis. Perasaan risau timbul karena Party berhaluan sangat kanan, Rassemblement National (RFN), pimpinan Marine Le Pen yang masih novice dalam memimpin pemerintahan dan berhaluan extreme kanan dalam politik dan ekonomi, telah memperoleh suara dalam polling nasional 25 persen.  Partai kiri, New Popular Front, memeroleh 22 persen, dan Emmanuel Macron hanya 20 persen.

Saya sudah risau membayangkan sekiranya benar Mister Trump (Donald Trump) memenangkan Pemilihan Presiden AS. Ini bukan suatu lelucon, tetapi sangat mungkin terjadi. Semoga tidak akan, tetapi ya siapa tahu. Rupanya dalam politik perkembangan selalu menarik, tetapi juga kadang-kadang sangat merisaukan. Coba bayangkan dunia ini jika Presiden Putin berhasil membentuk Uni Soviet yang baru, Marine Le Pen menjadi Presiden Perancis, Victor Urban tetap President Hongaria, Racep Tayyip Erdogan Presiden Turki, Xi Jinping Presiden China, Kim Jong Un Presiden Korea Utara, apa tidak bikin pusing tujuh keliling. Semua pimpinan ini egonya kelewat tinggi, tampaknya tidak ingin kerjasama dengan yang lain, pemimpin yang otoriter, mau berkuasa sendiri. Mungkin ini untung kita yang suka hidup berdampingan secara damai.

Saya ingin menutup gambaran politik ini dengan mengemukakan perkembangan di dalam politik negara kita sendiri yang tampak positif, sama sekali tidak merisaukan, malah sebaliknya memberikan harapan baru yang lebih baik. Sudah ramai di dalam pemberitaan resmi maupun media sosial bahwa proses alih kekuasaan dalam ekonomi-keuangan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo kepada presiden terpilih Prabowo Subianto tampaknya berjalan mulus.

Dalam temu pers antara penguasa sekarang, diwakili Menko  Perekonomian Erlangga Hartarto dan Menkeu Sri Mulyani Indrawati kepada yang lama diwakili oleh Ketua Gugus ekonomi-keuangan Thomas Djiwandono, disebutkan bahwa pertemuan berjalan mulus dan lancar, penuh pengertian, termasuk mengenai besarnya anggaran untuk program anggaran presiden terpilih Prabowo, makan siang bergisi gratis buat siswa-siswi sekolah dan ibu-ibu yang sedang hamil sebesar Rp71 triliun dan sejumlah program yang lain. Semua dengan suatu garansi bahwa defisit APBN tidak akan melebihi 2,5 persen.

Tanggapan pasar, minimal pasar dalam negeri, yang dalam hal ini pasar bond pemerintah, sekarang sektor dalam negeri memegang peran mayoritas, menyambut sangat positif. Rupiah yang sebelumnya terpuruk sampai mencapai Rp16.200 per US$ juga mulai menguat. Ini disambut baik oleh Bank Indonesia, sebagaimana Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengutarakan dalam suatu konperensi pers sehabis melakukan hearing dengan Komisi XI DPR Bidang keuangan-perbankan. Saya belum mendengar bagaimana reaksi pasar luar negeri, meskipun dalam konperensi pers ada sejumlah perwakilan asing diantara yang hadir.

Semoga tidak seperti yang diberitakan Bloomberg news beberapa waktu lalu, katanya presiden terpilih Prabowo akan meningkatkan pinjaman negara dari posisi sekarang 40 persen ke 50 persen tanpa menyebutkan apa peruntukannya. Untung saja hal ini tidak digubris, dan juga Thomas Djiwandono langsung membuat pernyataan membantah kebenaran berita tersebut, menegaskan presiden terpilih Prabowo tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Saya tentu tidak akan melewatkan hal ini, waktu saya menulis kolom ini baru saja ada pengumumn bahwa Rupiah memang menguat terhadap US$.

Dradjad, 29/06/2024.

Guru Besar Ekonomi Emeritus FEBUI, Jakaarta, dan Guru Besar Tamu Ekonomi Internasional, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore.

Share
Topics
Editorial Team
J. S. Djiwandono
EditorJ. S. Djiwandono
Follow Us

Latest in Opinion

See More

[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan

12 Apr 2026, 19:15 WIBOpinion
Benarkah Kuliah Itu Scam?

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion