Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Kuliah Itu Scam?

ilustrasi kuliah
ilustrasi kuliah (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya sih...
  • Pernyataan kontroversial si suami, lahir dari posisi yang sudah diuntungkan
  • Kuliah bukan sekadar silabus dan ruang kelas
  • AI dan teknologi tidak otomatis menghapus kebutuhan kuliah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Konten soal nikah muda kembali ramai di internet, kali ini video dari pasangan suami istri tersebut memicu diskursus baru. Lewat video tersebut keduanya sedang membahas isu tidak lolos seleksi masuk kuliah. Dalam percakapan itu, sang suami melontarkan pernyataan bahwa kuliah itu scam, seolah pendidikan tinggi hanya membuang waktu dan uang, apalagi di tengah perkembangan teknologi dan AI yang sangat cepat.

Pernyataan tersebut langsung memantik perdebatan, bukan hanya karena konteks nikah muda yang menyertainya, tetapi juga karena kalimat “kuliah itu scam” diucapkan oleh seseorang yang faktanya pernah mengenyam pendidikan tinggi di kampus ternama. Isu ini menarik karena menyentuh banyak orang yang sedang berada di persimpangan antara kuliah, bekerja, atau memilih jalan hidup lain. Perbincangan tersebut akhirnya meluas, tidak lagi soal pilihan pribadi, tetapi tentang bagaimana kuliah dipersepsikan di ruang publik hari ini. Lantas apakah memang benar-benar scam?

1. Pernyataan kontroversial si suami itu lahir dari posisi yang sudah diuntungkan

ilustrasi wisuda
ilustrasi wisuda (pexels.com/Saad Bin Hasan)

Kalimat “kuliah itu scam” terdengar berbeda ketika diucapkan oleh orang yang sudah merasakan manfaat kuliah dibandingkan mereka yang belum pernah masuk perguruan tinggi. Sang suami dalam video tersebut bukan orang yang benar-benar berdiri di luar sistem pendidikan, melainkan seseorang yang justru pernah menjadi bagian dari sistem itu. Posisi ini membuat pernyataannya problematis karena ia berbicara dari titik aman, sementara istrinya yang berusia 19 tahun masih berada di fase  berbeda (ada warganet yang menyebut tidak tamat sekolah). Pengalaman pribadi yang sukses setelah kuliah tidak otomatis bisa digeneralisasi menjadi dalil bahwa kuliah tidak penting bagi orang lain. Di titik ini, pernyataan tersebut lebih mirip penghakiman sepihak daripada pandangan yang adil.

Di sisi lain, banyak orang lupa bahwa privilese pendidikan sering kali baru terasa setelah dilewati. Akses ke jaringan, cara berpikir sistematis, dan legitimasi sosial tidak selalu terlihat kasat mata, tetapi efeknya panjang. Ketika seseorang yang sudah melewati proses itu justru menyebutnya scam, ada ketimpangan logika yang sulit diabaikan. Pernyataan semacam ini berisiko menyesatkan, terutama bagi anak muda yang belum punya cukup referensi.

2. Kuliah bukan sekadar silabus dan ruang kelas

ilustrasi kuliah
ilustrasi kuliah (pexels.com/Yan Krukau)

Argumen bahwa silabus berubah, materi tidak relevan, dan birokrasi kampus menghambat sering dipakai untuk menjustifikasi anggapan bahwa kuliah sudah ketinggalan zaman. Masalahnya, kuliah tidak pernah hanya soal materi tertulis di modul atau slide presentasi dosen. Kampus adalah ruang latihan berpikir, tempat seseorang belajar menyusun argumen, membaca persoalan, dan memahami proses panjang dalam mengambil keputusan. Hal-hal ini tidak selalu bisa digantikan oleh kursus singkat atau belajar mandiri yang serba instan.

Banyak orang yang baru menyadari value ini setelah masuk dunia kerja atau terjun ke masyarakat. Kemampuan bertahan dalam diskusi, membaca konteks, dan menyaring informasi sering kali diasah lewat proses akademik yang tidak sebentar. Jika kuliah dinilai hanya dari seberapa cepat menghasilkan uang, maka wajar bila ia tampak seperti scam. Namun, ukuran hidup jelas tidak sesempit itu.

3. AI dan teknologi tidak otomatis menghapus kebutuhan kuliah

ilustrasi AI
ilustrasi AI (pexels.com/Airam Dato-on)

Menyebut AI sebagai alasan utama kuliah tidak lagi relevan terdengar canggih, tetapi tak sepenuhnya benar. Teknologi memang mengubah banyak pekerjaan, tetapi perubahan itu justru menuntut kemampuan berpikir yang lebih matang, bukan sekadar bisa mengoperasikan alat. Banyak bidang yang terdampak AI justru membutuhkan orang dengan dasar pengetahuan kuat untuk mengelola, mengkritisi, dan mengembangkan teknologi tersebut. Tanpa fondasi itu, manusia hanya menjadi pengguna pasif.

Selain itu, tidak semua orang berada di posisi yang sama dalam mengakses teknologi. Kuliah sering kali menjadi pintu masuk untuk memahami perubahan besar secara lebih terstruktur. Mengabaikan peran ini lalu menyebut kuliah sebagai scam hanya karena dunia bergerak cepat terdengar seperti menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.

4. Menuntut ilmu tidak pernah identik dengan buang waktu

ilustrasi kuliah
ilustrasi kuliah (pexels.com/ICSA)

Dalam banyak tradisi, termasuk agama, menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak dibatasi usia atau medium. Kuliah memang bukan satu-satunya jalan, tetapi menyebutnya scam sama saja menutup makna belajar itu sendiri. Bahkan para ulama dan tokoh agama yang sering dijadikan rujukan pun menempuh pendidikan formal hingga jenjang tinggi untuk memperdalam pemahaman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan terstruktur masih dipandang relevan untuk memperdalam ilmu, bukan sekadar formalitas.

Jika kuliah dianggap sia-sia hanya karena tidak langsung menghasilkan uang, maka logika yang dipakai sangat sempit. Banyak proses hidup yang nilainya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Mengerdilkan kuliah menjadi sekadar transaksi waktu dan biaya justru mengabaikan esensi belajar yang sesungguhnya.

Kuliah memang bukan jalan tunggal menuju masa depan, tetapi menyebutnya scam juga bukan simpulan yang jujur dan adil. Setiap pilihan hidup punya konteks, risiko, dan konsekuensi yang tidak bisa dipukul rata. Pertanyaannya, apakah pantas satu pengalaman pribadi dijadikan kebenaran umum yang mempengaruhi pilihan hidup orang lain? Kuliah jelas bukan scam!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Opinion

See More

Membaca Serangan AS ke Venezuela

20 Jan 2026, 14:01 WIBOpinion
ilustrasi kuliah

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion