Aspek Menarik Zohran Mamdani, Wali Kota New York

- Zohran Mamdani, wali kota New York yang baru, merupakan keturunan imigran Iran dan beragama Islam Syiah.
- Mamdani menjadi wali kota termuda di usia 34 tahun, disumpah dengan tangan kanan di atas Qur'an oleh isterinya.
- Pada pidato inagurasinya, Mamdani menjanjikan perubahan kebijakan imigrasi dan sistem pendidikan serta keamanan sosial.
Saya mengikuti siaran televisi dari inagurasi wali kota New York yang baru, 1 Januari, 2026, Zohran Mamdani, di cuaca dingin New York di musim winter bulan Januari, di panggung yang dibangun di depan kantor wali kota.
Saya mengikuti acara tersebut dengan sejumlah rasa kagum, mengetahui latar belakang wali kota baru Mamdani, seorang keturunan imigran dari Iran, yang karena itu bukan saja beragama Islam, tetapi dari aliran Syiah yang minoritas di dunia Islam yang didominasi Sunni.
Salah satu ciri yang saya ingat adalah bahwa diwaktu solat orang penganut Syiah tidak menghadap kiblat ke Mekah, akan tetapi meletakkan batu di depan tempat bersembahyang, tanpa memperhatikan kiblatnya. Mereka melakukan hal ini sejak berkembangnya aliran Islam Syiah yang berkiblat ke Karbala, tempat makan Husein ibn Ali dimakamkan. Mereka juga melakukan upacara flagellation, mencabuk bagian belakang badan untuk memperingati wafatnya Husein bin Ali dalam jihad di Karbala.
Zohran Mamdani disumpah dengan meletakkan tangan kanannya di atas Qur’an yang sangat kuno, dipegang isterinya Rama Duwaji, seorang keturunan imigran dari Siria yang semula tinggal di Houston, Texas. Zohran Mamdani menjadi wali kota New York yang ke-112, dan tercatat sebagai wali kota termuda waktu pelantikannya di usia 34 tahun. Semua catatan tersebut sudah merupakan hal-hal Istimewa dari wali kota baru ini.
Beliau diperkenalkan awalnya oleh seorang anggota kongres Partai Demokrat Alexandria Ocasio Cortez (AOC), dikenal sebagai anggota kongres yang cerdas dan banyak berperan dan mengaku sebagai Socialist Democrat. Dan waktu mengucapkan sumpah dipimpin oleh Senator Bernie Sanders dari Vermont yang juga dikenal sebagai Socialist Democrat. Pada waktu dilakukan doa syukuran, doa dipimpin oleh seorang Imam dari New York, dan dibelakangnya berdiri mendukungnya Pastor Katolik, Pendeta Protestan, Bhiksu Hindu dan Budha. Semua tentu buat New York merupakan hal-hal yang jarang terjadi tetapi berjalan secara khidmat.
Pada waktu menyampaikan pidato inagurasinya Wali Kota Mamdani, konsisten dengan janji-janjinya pada waktu berkampanye. Ia mengutarakan bahwa pemerintahannya akan mengusahakan agar semua warga New York yang ingin bekerja akan bisa bekerja dengan layak, bahwa dia berjanji untuk menjadi wali kota dari semua New Yorker, baik yang memilih dia maupun yang tidak, dan sesuatu yang sudah dijanjikan sebelumnya akan membekukan sewa apartemen dan rumah sampai waktu yang menuntut penyesuaian. Tingkat sewa dipatok seperti apa yang berjalan di kota tetangga, New Jersey. Ini membuat penduduk New York benar-benar sesuatu yang luar biasa.
Dia berjanji bahwa pemerintahannya akan berupaya sekuat tenaga merubah kebijakan imigrasi yang menyebabkan banyak keluarga mengalami trauma karena dipisahkan antara yang boleh tinggal dan yang harus dideportasi. Dia mengatakan bahwa sesuai dengan sifat New York yang tumbuh dari kerja imigran, hal ini harus terus menjadi ciri kota ini, seperti disimbolkan dalam patung Statur of Liberty di Pantai New York. Beliau berjanji memperbaiki sistem pendidikan dan keamanan sosial. Wali Kota Mamdani tidak takut disebut progresif, dia mengatakan semua yang diupayakan ini sesuai kaidah-kaidah Social Democrat karena dia seorang penganut paham tersebut.
Tentu saja Presiden Trump kurang berkenan dengan kemenangan Mamdani dan programnya yang digariskan dalam sambutan tersebut, bahkan di menyebutnya bahwa Wali Kota Mamdani adalah komunis. Pesta pelantikan memang tidak besar-besaran. Tara Trump, mantan menantu Presiden Trump mengkritik bahwa inagurasi ini kurang ada partying, kurang ramai. Ada koor anak-anak muda melantunkan lagu Simon Garfunkel, “Bridge over Troubled Waters” yang jelas maknanya, demikian pula pembacaan puisi oleh penyair Cornelius Edy, yang judulnya “Proof”, menggambarkan betapa perjuangan seorang imigran Zohran Mamdani ini telah menjembatani publik dengan paham yang menjadi basis dari program-program Wali Kota Zohran Mamdani, sehingga beliau dipercaya untuk memimpin 8,5 juta New Yorkers.
Hebat bukan? Bagaimana saya tidak merasa terkagum-kagum menyaksikan peristiwa ini. Ditengah kekacauan yang ditimbulkan Presiden Trump gara-gara menyerang Venezuela dan menahan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Celia Flores, membawa mereka sebagai tahanan untuk dituntut sebagai penyebar terorisme dan drugs traffickings di Pengadilan New York, yang tanggal 1 Januari merayakan pelantikan wali kota baru Mamdani.
Pantas saja reaksi dunia sangat cepat, dalam Sidang Dewan Keamanan PBB semua negara melalui wakil masing-masing, termasuk Rusia dan RRT mengutuk perbuatan Presiden Trump menyerang Venezuela dan menganggap itu bukan serangan tetapi tidakan polisi mengamankan kekacauan. Karuan saja semua negara mengutuk perbuatan Presiden Trump dan di dalam negeri juga kongres langsung membahas dimulainya proses impeachment terhadap Presiden Trump.
Bagaimana pun apa yang dicapai Zohran Mamdani untuk terpilih menjadi wali kota dari kerja kerasnya dibantu 90 ribu sukarelawan yang berkampanye buat dia, telah mengalahkan kandidat yang namanya sudah tidak asing di New York, mantan Gubernur New York Andrew Cuomo. Apapun, akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah Zohran Mamdani, imigran dari Iran yang menikah dengan seorang keturunan imigran dari Siria, Rama Duwaji, seorang visual artist, puteri dari seorang ahli IT dan ibu rumah tangga keduanya dari Siria, dan menjadi wali kota New York termuda pada usianya yang ke-34 dalam sejarah wali kota New York.
Dalam pidatonya beliau menyebutkan pran yang dimainkan wali kota-wali kota sebelumnya dari La Guardia, John Lindsey, Michael Bloomberg, Bill de Blasio, dan Eric Adams. Bagaimana pun itu semua bikin saya terkagum-kagum. (Dradjad, 09/01/2026).
Guru Besar Ekonomi Emeritus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEBUI), Jakarta.


















