[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”

- Antara karakter bawaan dan pilihan sadar
- Jebakan False Consensus Effect (FCE)
- Berhenti mendewakan “kepribadian” dan mulailah bertanggung jaw
“Aku orangnya emang begini.” Pernah dengar kata-kata seperti itu, atau mungkin kita sendiri yang mengatakannya di suatu waktu? Pernyataan itu memang terdengar klise, diksinya begitu ringan setelah sebuah konflik atau perdebatan terjadi, seakan mampu menetralisir suasana, menjadikannya pembelaan diri untuk membungkam lawan bicara.
Misalnya, kamu sedang “berdebat” dengan temanmu dan mengatakan bahwa temanmu seharusnya tidak bersikap terlalu frontal di depan khalayak. Alih-alih meminta maaf atau memperbaiki diri, ia justru menjawab, “Aku kan orangnya emang begini, suka blak-blakan dan santai, ya ngertiin aja lagi”.
Setiap orang memang memiliki karakteristik masing-masing. Namun, pertanyaannya adalah sejak kapan pernyataan “aku orangnya emang begini” dapat menjadi kartu yang membebaskan seseorang dari rasa bersalah dan tanggung jawab?
Dalam banyak kasus, pernyataan “sakti” itu diucapkan seseorang ketika ia merasa terdesak oleh kebenaran. Saat seseorang telat datang, ia bilang “aku orangnya emang begini.” Saat seseorang kerap berkata kasar, ia bilang “aku orangnya emang begini.” Atau saat seseorang memberi harapan palsu, ia bisa menggunakan kalimat keramat yang sama kepada semua pemenuh egonya: “banyak yang salah paham kalau aku ngasih harapan, padahal aku orangnya emang begini”.
Kalau polanya memang terus berulang pada orang yang berbeda-beda, bukankah itu merupakan tanda untuk berubah dan belajar dari masa lalu? Belajar dari masa lalu berarti mengakui bahwa ada yang salah dari cara berkomunikasi dan menetapkan batasan, kemudian memperbaikinya supaya gak ada lagi hati yang menjadi korban atas “kepribadian” yang didewakan itu.
Lantas, lawan bicara bisa apa setelah mendengarnya?
1. Antara karakter bawaan dan pilihan sadar

Bukankah kepribadian dan perilaku itu berbeda. Dikatakan bahwa kepribadian berasal dalam diri suatu individu. Kepribadian bersifat tetap dan tidak dibuat-buat. Sedangkan, perilaku cenderung dipengaruhi oleh pengalaman individu. Perilaku adalah pilihan sadar seseorang.
Kalau begitu, mengapa bersembunyi di balik pernyataan “aku orangnya emang begini” padahal apa yang dilakukan merupakan perilaku yang bisa diubah. Dalam contoh kasus tadi, kamu bisa saja memanajemen waktu dengan lebih baik supaya gak telat datang. Kamu bisa saja mengendalikan dirimu supaya gak sering berkata kasar. Kamu bisa saja menetapkan batasan supaya gak disalahartikan.
Kalau kamu terus membiarkan perilaku merugikan itu tertanam, itu berarti masalah ada padamu, jangan justru meminta lawan bicaramu untuk menoleransinya. Bukankah itu berarti menyabotase diri sendiri dengan menjadikan perilaku burukmu sebagai label yang gak bisa diganti? Kamu secara sadar tahu bahwa itu merugikanmu dan orang lain, tetapi kamu memilih untuk memakluminya.
Brianna Wiest dalam The Mountain is You menyatakan bahwa ketahanan diri kita untuk berada dalam perilaku yang merusak adalah bentuk perlindungan diri yang salah arah. Kita mungkin merasa aman, tapi keamanan itu sebenarnya ada dalam ketidaksempurnaan.
Mengatakan “aku orangnya emang begini” merupakan cara seseorang menghindari rasa sakit dari perubahan yang tidak diharapkan. Mengatakan pernyataan itu dalam contoh kasus tadi atau semacamnya dapat menunjukkan bahwa seseorang lebih memilih untuk tidak berkembang dibanding harus belajar berbenah diri.
Jika pernyataan ini terus dijadikan pembenaran atas kesalahan yang telah kamu lakukan, komunikasi efektif pun akan mati. Tidak ada ruang untuk berbagi pikiran di sana. Lawan bicara dipaksa untuk menerima dan memahami, mau gak mau.
2. Jebakan False Consensus Effect (FCE)

Pernah dengar soal False Consensus Effect (FCE)? Dalam artikel “False Consensus Effect on College Students in Indonesia” yang ditulis oleh Fakhri dan Buchori, dijelaskan bahwa istilah FCE pertama kali diperkenalkan oleh Ross, Green, dan House pada tahun 1976.
Dalam psikologi, istilah ini mengacu pada kondisi ketika seseorang cenderung melebih-lebihkan sejauh mana orang lain setuju dengan pendapat, keyakinan, ataupun perilaku mereka. Hal ini bisa terjadi karena seseorang terlalu percaya diri bahwa orang lain akan setuju dengan keputusan atau pendapat yang mereka punya. Nah, FCE ini merupakan fenomena self as standard yang jadi manifestasi dari keegoisan kita sebagai manusia.
Dalam kasus kalimat “aku orangnya emang begini”, seseorang tidak merasa bersalah karena beranggapan bahwa orang lain memiliki pemakluman yang sama dengan dirinya. Cara berpikirmu dinilai normal dan wajar. Kamu pun berasumsi banyak orang akan mengatakan hal yang sama denganmu jika dihadapkan pada situasi semacam itu karena memang sudah sifatnya. Kamu abai dengan fakta bahwa jika kita merasa paling benar dan menuntut semua orang harus setuju, hal itu bisa menghambat komunikasi dan merusak hubungan interpersonal. Itulah dampak negatif dari FCE.
“Orang pasti paham lah kalau aku begini,” katamu dengan santainya tanpa wajah berdosa. Padahal, orang lain mungkin akan merasa amat terganggu dengan perilaku itu dan menahan amarahnya untuk gak memaki-maki.
3. Berhenti mendewakan “kepribadian” dan mulailah bertanggung jawab

Kasus FCE pada akhirnya membuatmu gagal melihat bahwa pemaklumanmu terhadap perilaku burukmu itu hanyalah bentuk keegoisan yang dibungkus oleh pembelaan. Pola pikir itu membuatmu terus terjebak dalam pertumbuhan diri yang stagnan. Sebab, kamu menolak untuk mengevaluasi diri sebanyak apa pun orang lain menegurmu. Bayangkan, seberapa lelah mereka harus memahami sesuatu yang seharusnya bisa kamu perbaiki.
Maka, berhentilah bersembunyi di balik pernyataan “aku orangnya emang begini” dari kesalahan yang telah kita perbuat. Saat kita berinteraksi dengan orang lain, mereka tidak datang hanya untuk beradaptasi dengan ego kita sendiri. Sampai kapan kita membiarkan orang lain harus berkorban demi kenyamanan diri kita yang tidak mau berubah ini?


















